Pustaka Ma'arif Press mengadakan kegiatan kerja sama dengan Tim ISBN Perpusnas Nasional RI Jakarta, Perwakilan Tim ISBN Ibu Ratna, S.Sos. dan Perwakilan Pustaka Ma'arif Press Dr. Sumarto (7/2018).
Sunday, July 29, 2018
Friday, January 5, 2018
Penelitian Berorientasi Manfaat
Refleksi[1]
02 Desember 2017
SCCOB Tengger Bromo Semeru Pasuruan
Diktis Kemenag RI
Penelitian
Berorientasi Manfaat
Hal yang sangat tidak “enak” di dengar ketika
muncul letupan “seharusnya penelitian tidak jadi proyek atau ng-obyek” jadi
tidak memiliki esensi kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena setelah hasil
penelitian selesai semua akan menilai dengan membacanya apalagi sudah
terpublikasi, masyarakat walaupun tidak membaca tapi merasakan bahwa hasil
penelitiannya hanya soal bercerita-cerita dengan teks-teks dan
terjemahan-terjemahan tanpa adanya perubahan.
Penelitian yang menghidupkan seperti apa yang
dilakukan oleh Cliford Gird sebagai generasi dalam jendela paradigma perubahan
sosial subjektif-interpretatif yang mampu menggambarkan masyarakat Kediri
dengan beberapa kalsifikasi yang sesuai dengan realitas sosial yang ada
sehingga masyarakat mampu menyadari bahwa kita berada dalam struktur sosial
yang berbeda dan mempengaruhi cara kita untuk beribadah dalam keseharian, yaitu
istilah Islam Abangan, Islam Priyai. Masyarakat berputar-putar dalam struktur
sosial yang “menjinakkan” dalam budaya yang membudaya setiap hari.
Clifford Gertzz[2] menolak “peneliti yang
menganggap masyarakat sebagai objek dari proses penelitiannya” ini bahaya bila
terus-meneruskan dilakukan karena masyarakat bukan objek yang harus dijadikan
benda mati tanpa adanya dinamisasi kehidupan yang sebenarnya masyarakat yang
lebih paham dengan keadaannya mulai dari terbentuknya masyarakat dalam Desa
secara turun-temurun yang seharusnya menjadi “subjek” dalam penelitian dan kita
hanya bagian subjek dari subjek tersebut yang ingin mengetahui “to know” tentang
mereka (masyarakat) lebih mengetahui “more-most to know.” Sehingga akhirnya
bisa memahami apa yang menjadi substansi dari realitas sosial yang ada.
Thomas Khun[3] dalam “The Structure of
Scientific Revolution”: Suatu kerangka referensi atau pandangan dunia (world view) yang menjadi dasar keyakinan
atau pijakan suatu teori. Jelas bagi pemahaman dalam paradigma perubahan sosial, bahwasanya yang menjadi
referensi atau pijakan teori yang mendasar adalah realitas kehidupan yang ada
di Dunia/Masyarakat yang kemudian menjadi pandangan hidup yang membudaya atau
bahkan menjadi “Dogma Kehidupan” sehingga sangat susah mengubahnya karena
menjadi “leluhur dalam kehidupan” sebagaimana yang sering disebut masyarakat
Tengger Bromo “kita dari alam lelulur yang berasal dari Hilah Hilah, yang Tuhan sudah berikan untuk kehidupan, dan mengapa
harus pergi dari tanah yang subur untuk hidup.”
Segera sadar dan segera dilakukan, statement yang menjadi paradigma dalam
pikiran peneliti, apabila tidak muncul akan kembali tradisi riset-riset yang
formalisasi yang isinya tentang “kejar tayang: limit waktu, proyek, target
laporan secara mekanik.” Untuk itu menghilangkan paradigma mekanik dalam
lapangan kembali kepada konsep Clifford Gertzz yaitu intensitas dalam interaksi
kepada masyarakat, semakin tinggi frekuensi intensitasnya maka semakin mendalam
pemahaman dan bahkan timbul raca cinta dan peduli kepada masyarakat sebagai
subjek penelitian. Rendahnya intensitas interkasi sosial mengakibatkan peneliti
tidak mengetahui problem masyarakat secara substansial hanya mendengar dan
melihat dalam keterbatasan awal.
Kembali ke teori
paradigma perubahan sosial yang benar dalam penelitian. Sesuai dalam teori “mempunyai pendirian yang
sama dengan kaum fungsionalis tetapi pendekatannya subjektif. Memahami
kenyataan sosial apa adanya, kesadaran terlibat, kenyataan sosial dibentuk oleh
kesadaran dan tindakan seseorang, mencari makna dibalik sesuatu pemikiran Weber
dan Husserl; Dilthey, Schutz.[4] Makna dalam hidup dengan hidup dalam makna yang ada
yaitu realitas sosial untuk perubahan sosial dalam kaidah penelitian
berorientasi bermanfaat.
Bersambung.....
[1] Sumarto. Peserta SCCOB Desa Wonokitri
Kec. Tosari (Suku Tengger Bromo Semeru) Pasuruan. Diktis Kemenag RI. 2017.
[2] Penjelasan dari Prof. Ahmad Mahmudi
LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB. 2017
[3] Materi ppt. Prof. Ahmad Mahmudi LPTP,
INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB 2017.
[4]
Materi ppt. Prof. Ahmad Mahmudi
LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB 2017.
Tranformasi Sosial-Kolaborasi Penelitian
Refleksi,
1 Desember 2017
Kegiatan
SCCOB Tengger Semeru Bromo
Diktis
Kemenag
Tranformasi
Sosial-Kolaborasi Penelitian
Penelitian Transformasional perlu kesungguhan,
kejujuran dan kesadaran untuk menghadirkan narasi kehidupan yang bisa
menggerakan hati dan pikiran civitas akademika dan masyarakat umum karena
narasi kehidupan lahir dari realitas sosial yang mengalami perubahan. Karena
beberapa dari hasil penelitian yang diproduksi banyak terjadi manipulasi sosial
dan ini sangat bahaya karena setiap hasil penelitian akan dipublikasikan baik
dalam Jurnal, Buku, Artikel atau bentuk publikasi yang lain, apabila sudah
dikonsumsi dengan banyak oleh civitas akademika dan menjadi bahan-bahan
perkulihan dan menjadi modal bahkan dasar untuk pengabdian masyarakat sebagain untuk
kajian terdahulu dan kerangka teori yang dilanjutkan tanpa ada verifikasi teori
dam hasil riset karena sudah menjadi “aliran air yang deras yang susah
dibendung lagi arusnya” bisa bahaya menjadi manipulasi sosial berbungkus riset,
manjadi jajanan akademisi dan masyarakat sebagai penikmat.
Penyakit kronis adanya manipulasi sosial dari
hasil riset, jangankan untuk melakukan transformasi sosial dalam realitas
kehidupan “malahan” menjadi an-transformasi sosial menghambat adanya perubahan
sosial karena hasil riset yang salah sehingga muncul pemikiran yang “awam” “ngapain
ngadaian riset dalam kehidupan masyarakat yang menghambat perubahan masyarakat
itu, toh...lambat laun masyarakat bisa berubah sendiri untuk menjadi yang baik
hingga waktunya nanti. ” Meaningnya yang saya tangkap dari penjelasan Prof. Ahmad
Mahmudi dan Rahadi (LPTP dan INSIST) transformasi sosial membutuhkan
pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dengan cara berada di tengah
masyarakat, berbicara dengan cara berbicara masyarakat, mencintai masyarakat
dilakukan dengan tinggal dalam kehidupan masyarakat sehingga tahu, ngerti dan
apa yang harus dilakukan butuh waktu, butuh tenaga pikiran sebagai bagian yang
memang benar bahagian dari kehidupan real masyarakat.
Dalam dunia kampus terkadang terjadi atau
bahkan “sering” terjadi yang namanya memilih-milih judul riset yang akan
dilakukan tanpa mengetahui kondisi realitas sosial, padahal realitas sosial
tidak bisa dijadikan objek dari riset yang bisa dipilih-pilih, apalagi belum
turun ke lapangan lalu membuat judul riset suatu hal yang bisa menebak nebak
keadaan yang ada. Cenderung terjadinya pilih memilih judul dan tebak menebak
judul dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti baik jadwal
mengajar, jadwal kegiatan dalam keluarga, lingkungan masyarakat atau bahkan
mengelola business, ternak, kebun dan
lain sebagainya sehingga untuk konsenntrasi dalam realitas sosial memiliki
kekurangan waktu dan tempat.
Disini perlu adanya “Kolaborasi Penelitian”
untuk sama sama meneliti dengan tujuan yang sama sehingga dapat menghasilkan
hasil riset yang transfomatif karena banyak bahagian yang turut serta bekerja
turun lapangan. Makna penelitian dalam kolaborasi yang transformatif yang
dilakukan adanya “kebenaran riset” karena dalam prosesnya setiap peneliti yang
terlibat dalam riset bersama-sama mencari kebenaran, menemukan kebenaran sampai
dapat memberikan manfaat (transformasi
sosial) masyarakat berada di dalam riset yang hidup dan menghidupkan.
Mohon masukannya....
Bersambung...
Tantangan Transformasi Sosial
R e f l e k s i . . . . . . . .
Tantangan Transformasi Sosial[1]
Di mulai dengan adanya
kegelisahan dan kepeduliah tentang struktur masyarakat yang timpang dan tidak
sesuai dengan azas setiap hak manusia untuk hidup mulai dari hak untuk makan,
hak untuk tempat tinggal, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk memperoleh
pendidikan yang baik, hak untuk melihat/memandang alam yang indah dan hak untuk
menikmati hidup. Bila hak sudah tidak terpenuhi maka akan terjadi ketimpangan
pada struktur sosial. Banyak peristiwa di beberapa daerah yang menjadi
ketimpangan pada struktur sosial tidak usah jauh melihat daerah-daerahnya, mari
memperhatikan tempat tinggal sehari-hari, dimana dihadapkan dengan ketimpangan
yang bahkan tidak disadari. Hal ini adalah pengaruh besar dari globalisai,
modernisasi dengan praktik-praktik liberalisme dan sekarang sudah berada pada
pengaruh neo-liberalisme.
Penjelasan Marsen Sinaga[2] Bahwa kehidupan manusia
yang sangat dinamis dipenuhi dengan pola hidup yang semkin konsumtif dan
individualis. Berada pada situasi dimana setiap elemen masyarakat dimanjakan
dengan “praktisasi” seperti pola makan, tidak lagi memikirkan bagaimana
memperoleh makanan dari alam, memasak makanan dengan alam, mendapatkan
pekerjaan dari alam, menikmati keindahan alam dengan gratis.” Sekarang hanya
bisa merasakan makanan dengan bungkus-bungkus pelatik, minuman-minuman plastik
yang siap saji yang cenderung tidak baik bagi kesehatan dan sebahagian besar
dari masyarakat mulai menikmatinya. Berdirinya berbagai macam warung-warung cantik
indah mempesona sudah mulai masuk dalam struktur perekomomian masyrakat desa,
tanpa disadari warung-warung tradisional yang manjadi sumber penghidupan
sebahagian masyarakat mulai “kumuh dan kotor” karena orang-orang mulai tidak
suka, mulai merasa tidak sesuai dengan perkembangan hidupnya yang harus “maju
dan modern” katanya?.
Masuk dalam lingkaran
kapitalis dimana pihak yang paling kaya menguasai hampir setengah dari sumber
daya alam yang ada dengan proses sistematisasi yang sangat rapi tanpa diketahui
bahwa itu adalah mesin yang akan menggeling kehidupan masyarakat lemah dalam
ketertindasan hidup yang fatamorgana. Tidak lagi harus berkata tidak untuk
melawan kapitalis-neoliberalisme yang ada hanya masyarakat menikmatinya dengan
mempertanyakan mengapa-mengapa menjadi sebuah kehidupan dalam hidup yang harus
ada. Masyarakat miskin yang merupakan sumber kekayaan sekelompok orang kaya
hanya bisa menderita dengan kekurangan hidup yang semakin hari semakin
menikmati, padahal ini adalah realitas hidup yang dihadapinya hingga akhirnya
mengeluh dan mempersalahkan satu-sama lain dalam anggota keluarganya sampai pada
anggota masyarakat yang lain.
Marsen Sinaga[3] Orang-orang kaya yang
menguasai pasar mengendalikan sistem ekonomi hanya 2 % dari populasi manusia
yang sungguh banyaknya, Orang-orang menengah hanya 24 % yang sebahagian besar
menjadi “kaki-tangan” Orang-Orang Kaya Kapitalis atau yang menikmati dari
setiap apa yang diberikan Orang-orang kaya kapitalis karena sebahagian dari
mereka bekerja dan bekerja untuk mereka yang tidak peduli dengan masyarakat
miskin yang menjadi sumber pendapatan hidup mereka, yaitu para petani dan buruh
yang setiap harinya yang harus bekerja dengan penuh tulang-tulang yang kering
menyatu dengan daging dan darah dalm tubuhnya yang tidak sesuai dengan kata
orang kaya kapitalis, bahwa apa yang mereka lakukan untuk menghidupi mereka
yang belum bekerja dengan mapan dengan alasan tingkat sekolah yang tidak sesuai
dengan permintaan skill yang normatif di setiap perusahaan yang mereke dirikan
di tengah-tengah alam milih masyarakat desa.
Tantangan yang besar dalam
riset transformasi untuk menjadi fasiltator menggerakkkan kehidupan masyarakat
dengan hidup dalam realitas sosialnya, berdiri dan berjalan diantara struktur
sosial budaya yang timpang bukan melihat jauh tetapi melihat dari dekat, merasakannya
dan mencintainya. Riset transformatif tidak hanya pada tataran “to know” yaitu
hanya mengetahui problem masyarakat yang kemudian data-datanya hanya di deskripsikan
dalam bentuk teks-teks dan terjemahan-terjemahan, tetapi seharusnya sudah masuk
dalam tataran “to understand” memahami masalah masyarakat dari dekat karena
sebenarnya masyarakat adalah subyek penelitian yang lebih paham tentang
banyaknya masalah mereka dan mereka juga mampu mengatasinya tetapi perlu gerak
dan fasilitator network dan pengetahuan teoritis dari peneliti tetapi jangan
“menggurui” dengan merasa lebih tahu dan lebih paham dengan akumulasi
pengetahuan yang dimiliki dan terminologi yang masyarakat tidak tahu.
[1] Sumarto
Peserta SCCOB Diktis Kemenag RI. Bromo Tengger Semeru Desa Wonokitri 2017.
[2] Materi
SCCOB Marsen Sinaga INSIST
Yogyakarta “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial” 2017.
[3]
Melanjutkan Penyampaian Materi “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial”
2017 (Penuh geram dan ingin kita melakukan gerak perubahan sosial).
Subscribe to:
Comments (Atom)
