Refleksi,
1 Desember 2017
Kegiatan
SCCOB Tengger Semeru Bromo
Diktis
Kemenag
Tranformasi
Sosial-Kolaborasi Penelitian
Penelitian Transformasional perlu kesungguhan,
kejujuran dan kesadaran untuk menghadirkan narasi kehidupan yang bisa
menggerakan hati dan pikiran civitas akademika dan masyarakat umum karena
narasi kehidupan lahir dari realitas sosial yang mengalami perubahan. Karena
beberapa dari hasil penelitian yang diproduksi banyak terjadi manipulasi sosial
dan ini sangat bahaya karena setiap hasil penelitian akan dipublikasikan baik
dalam Jurnal, Buku, Artikel atau bentuk publikasi yang lain, apabila sudah
dikonsumsi dengan banyak oleh civitas akademika dan menjadi bahan-bahan
perkulihan dan menjadi modal bahkan dasar untuk pengabdian masyarakat sebagain untuk
kajian terdahulu dan kerangka teori yang dilanjutkan tanpa ada verifikasi teori
dam hasil riset karena sudah menjadi “aliran air yang deras yang susah
dibendung lagi arusnya” bisa bahaya menjadi manipulasi sosial berbungkus riset,
manjadi jajanan akademisi dan masyarakat sebagai penikmat.
Penyakit kronis adanya manipulasi sosial dari
hasil riset, jangankan untuk melakukan transformasi sosial dalam realitas
kehidupan “malahan” menjadi an-transformasi sosial menghambat adanya perubahan
sosial karena hasil riset yang salah sehingga muncul pemikiran yang “awam” “ngapain
ngadaian riset dalam kehidupan masyarakat yang menghambat perubahan masyarakat
itu, toh...lambat laun masyarakat bisa berubah sendiri untuk menjadi yang baik
hingga waktunya nanti. ” Meaningnya yang saya tangkap dari penjelasan Prof. Ahmad
Mahmudi dan Rahadi (LPTP dan INSIST) transformasi sosial membutuhkan
pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dengan cara berada di tengah
masyarakat, berbicara dengan cara berbicara masyarakat, mencintai masyarakat
dilakukan dengan tinggal dalam kehidupan masyarakat sehingga tahu, ngerti dan
apa yang harus dilakukan butuh waktu, butuh tenaga pikiran sebagai bagian yang
memang benar bahagian dari kehidupan real masyarakat.
Dalam dunia kampus terkadang terjadi atau
bahkan “sering” terjadi yang namanya memilih-milih judul riset yang akan
dilakukan tanpa mengetahui kondisi realitas sosial, padahal realitas sosial
tidak bisa dijadikan objek dari riset yang bisa dipilih-pilih, apalagi belum
turun ke lapangan lalu membuat judul riset suatu hal yang bisa menebak nebak
keadaan yang ada. Cenderung terjadinya pilih memilih judul dan tebak menebak
judul dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti baik jadwal
mengajar, jadwal kegiatan dalam keluarga, lingkungan masyarakat atau bahkan
mengelola business, ternak, kebun dan
lain sebagainya sehingga untuk konsenntrasi dalam realitas sosial memiliki
kekurangan waktu dan tempat.
Disini perlu adanya “Kolaborasi Penelitian”
untuk sama sama meneliti dengan tujuan yang sama sehingga dapat menghasilkan
hasil riset yang transfomatif karena banyak bahagian yang turut serta bekerja
turun lapangan. Makna penelitian dalam kolaborasi yang transformatif yang
dilakukan adanya “kebenaran riset” karena dalam prosesnya setiap peneliti yang
terlibat dalam riset bersama-sama mencari kebenaran, menemukan kebenaran sampai
dapat memberikan manfaat (transformasi
sosial) masyarakat berada di dalam riset yang hidup dan menghidupkan.
Mohon masukannya....
Bersambung...
No comments:
Post a Comment