Friday, January 5, 2018

Tantangan Transformasi Sosial



R e f l e k s i . . . . . . . .
Tantangan Transformasi Sosial[1]







Di mulai dengan adanya kegelisahan dan kepeduliah tentang struktur masyarakat yang timpang dan tidak sesuai dengan azas setiap hak manusia untuk hidup mulai dari hak untuk makan, hak untuk tempat tinggal, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk memperoleh pendidikan yang baik, hak untuk melihat/memandang alam yang indah dan hak untuk menikmati hidup. Bila hak sudah tidak terpenuhi maka akan terjadi ketimpangan pada struktur sosial. Banyak peristiwa di beberapa daerah yang menjadi ketimpangan pada struktur sosial tidak usah jauh melihat daerah-daerahnya, mari memperhatikan tempat tinggal sehari-hari, dimana dihadapkan dengan ketimpangan yang bahkan tidak disadari. Hal ini adalah pengaruh besar dari globalisai, modernisasi dengan praktik-praktik liberalisme dan sekarang sudah berada pada pengaruh neo-liberalisme.
Penjelasan Marsen Sinaga[2] Bahwa kehidupan manusia yang sangat dinamis dipenuhi dengan pola hidup yang semkin konsumtif dan individualis. Berada pada situasi dimana setiap elemen masyarakat dimanjakan dengan “praktisasi” seperti pola makan, tidak lagi memikirkan bagaimana memperoleh makanan dari alam, memasak makanan dengan alam, mendapatkan pekerjaan dari alam, menikmati keindahan alam dengan gratis.” Sekarang hanya bisa merasakan makanan dengan bungkus-bungkus pelatik, minuman-minuman plastik yang siap saji yang cenderung tidak baik bagi kesehatan dan sebahagian besar dari masyarakat mulai menikmatinya. Berdirinya berbagai macam warung-warung cantik indah mempesona sudah mulai masuk dalam struktur perekomomian masyrakat desa, tanpa disadari warung-warung tradisional yang manjadi sumber penghidupan sebahagian masyarakat mulai “kumuh dan kotor” karena orang-orang mulai tidak suka, mulai merasa tidak sesuai dengan perkembangan hidupnya yang harus “maju dan modern” katanya?.
Masuk dalam lingkaran kapitalis dimana pihak yang paling kaya menguasai hampir setengah dari sumber daya alam yang ada dengan proses sistematisasi yang sangat rapi tanpa diketahui bahwa itu adalah mesin yang akan menggeling kehidupan masyarakat lemah dalam ketertindasan hidup yang fatamorgana. Tidak lagi harus berkata tidak untuk melawan kapitalis-neoliberalisme yang ada hanya masyarakat menikmatinya dengan mempertanyakan mengapa-mengapa menjadi sebuah kehidupan dalam hidup yang harus ada. Masyarakat miskin yang merupakan sumber kekayaan sekelompok orang kaya hanya bisa menderita dengan kekurangan hidup yang semakin hari semakin menikmati, padahal ini adalah realitas hidup yang dihadapinya hingga akhirnya mengeluh dan mempersalahkan satu-sama lain dalam anggota keluarganya sampai pada anggota masyarakat yang lain.
Marsen Sinaga[3] Orang-orang kaya yang menguasai pasar mengendalikan sistem ekonomi hanya 2 % dari populasi manusia yang sungguh banyaknya, Orang-orang menengah hanya 24 % yang sebahagian besar menjadi “kaki-tangan” Orang-Orang Kaya Kapitalis atau yang menikmati dari setiap apa yang diberikan Orang-orang kaya kapitalis karena sebahagian dari mereka bekerja dan bekerja untuk mereka yang tidak peduli dengan masyarakat miskin yang menjadi sumber pendapatan hidup mereka, yaitu para petani dan buruh yang setiap harinya yang harus bekerja dengan penuh tulang-tulang yang kering menyatu dengan daging dan darah dalm tubuhnya yang tidak sesuai dengan kata orang kaya kapitalis, bahwa apa yang mereka lakukan untuk menghidupi mereka yang belum bekerja dengan mapan dengan alasan tingkat sekolah yang tidak sesuai dengan permintaan skill yang normatif di setiap perusahaan yang mereke dirikan di tengah-tengah alam milih masyarakat desa.
Tantangan yang besar dalam riset transformasi untuk menjadi fasiltator menggerakkkan kehidupan masyarakat dengan hidup dalam realitas sosialnya, berdiri dan berjalan diantara struktur sosial budaya yang timpang bukan melihat jauh tetapi melihat dari dekat, merasakannya dan mencintainya. Riset transformatif tidak hanya pada tataran “to know” yaitu hanya mengetahui problem masyarakat yang kemudian data-datanya hanya di deskripsikan dalam bentuk teks-teks dan terjemahan-terjemahan, tetapi seharusnya sudah masuk dalam tataran “to understand” memahami masalah masyarakat dari dekat karena sebenarnya masyarakat adalah subyek penelitian yang lebih paham tentang banyaknya masalah mereka dan mereka juga mampu mengatasinya tetapi perlu gerak dan fasilitator network dan pengetahuan teoritis dari peneliti tetapi jangan “menggurui” dengan merasa lebih tahu dan lebih paham dengan akumulasi pengetahuan yang dimiliki dan terminologi yang masyarakat tidak tahu.



[1] Sumarto Peserta SCCOB Diktis Kemenag RI. Bromo Tengger Semeru Desa Wonokitri 2017.
[2] Materi SCCOB Marsen Sinaga  INSIST Yogyakarta “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial” 2017.
[3] Melanjutkan Penyampaian Materi “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial” 2017 (Penuh geram dan ingin kita melakukan gerak perubahan sosial).

No comments:

Post a Comment