R e f l e k s i . . . . . . . .
Tantangan Transformasi Sosial[1]
Di mulai dengan adanya
kegelisahan dan kepeduliah tentang struktur masyarakat yang timpang dan tidak
sesuai dengan azas setiap hak manusia untuk hidup mulai dari hak untuk makan,
hak untuk tempat tinggal, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk memperoleh
pendidikan yang baik, hak untuk melihat/memandang alam yang indah dan hak untuk
menikmati hidup. Bila hak sudah tidak terpenuhi maka akan terjadi ketimpangan
pada struktur sosial. Banyak peristiwa di beberapa daerah yang menjadi
ketimpangan pada struktur sosial tidak usah jauh melihat daerah-daerahnya, mari
memperhatikan tempat tinggal sehari-hari, dimana dihadapkan dengan ketimpangan
yang bahkan tidak disadari. Hal ini adalah pengaruh besar dari globalisai,
modernisasi dengan praktik-praktik liberalisme dan sekarang sudah berada pada
pengaruh neo-liberalisme.
Penjelasan Marsen Sinaga[2] Bahwa kehidupan manusia
yang sangat dinamis dipenuhi dengan pola hidup yang semkin konsumtif dan
individualis. Berada pada situasi dimana setiap elemen masyarakat dimanjakan
dengan “praktisasi” seperti pola makan, tidak lagi memikirkan bagaimana
memperoleh makanan dari alam, memasak makanan dengan alam, mendapatkan
pekerjaan dari alam, menikmati keindahan alam dengan gratis.” Sekarang hanya
bisa merasakan makanan dengan bungkus-bungkus pelatik, minuman-minuman plastik
yang siap saji yang cenderung tidak baik bagi kesehatan dan sebahagian besar
dari masyarakat mulai menikmatinya. Berdirinya berbagai macam warung-warung cantik
indah mempesona sudah mulai masuk dalam struktur perekomomian masyrakat desa,
tanpa disadari warung-warung tradisional yang manjadi sumber penghidupan
sebahagian masyarakat mulai “kumuh dan kotor” karena orang-orang mulai tidak
suka, mulai merasa tidak sesuai dengan perkembangan hidupnya yang harus “maju
dan modern” katanya?.
Masuk dalam lingkaran
kapitalis dimana pihak yang paling kaya menguasai hampir setengah dari sumber
daya alam yang ada dengan proses sistematisasi yang sangat rapi tanpa diketahui
bahwa itu adalah mesin yang akan menggeling kehidupan masyarakat lemah dalam
ketertindasan hidup yang fatamorgana. Tidak lagi harus berkata tidak untuk
melawan kapitalis-neoliberalisme yang ada hanya masyarakat menikmatinya dengan
mempertanyakan mengapa-mengapa menjadi sebuah kehidupan dalam hidup yang harus
ada. Masyarakat miskin yang merupakan sumber kekayaan sekelompok orang kaya
hanya bisa menderita dengan kekurangan hidup yang semakin hari semakin
menikmati, padahal ini adalah realitas hidup yang dihadapinya hingga akhirnya
mengeluh dan mempersalahkan satu-sama lain dalam anggota keluarganya sampai pada
anggota masyarakat yang lain.
Marsen Sinaga[3] Orang-orang kaya yang
menguasai pasar mengendalikan sistem ekonomi hanya 2 % dari populasi manusia
yang sungguh banyaknya, Orang-orang menengah hanya 24 % yang sebahagian besar
menjadi “kaki-tangan” Orang-Orang Kaya Kapitalis atau yang menikmati dari
setiap apa yang diberikan Orang-orang kaya kapitalis karena sebahagian dari
mereka bekerja dan bekerja untuk mereka yang tidak peduli dengan masyarakat
miskin yang menjadi sumber pendapatan hidup mereka, yaitu para petani dan buruh
yang setiap harinya yang harus bekerja dengan penuh tulang-tulang yang kering
menyatu dengan daging dan darah dalm tubuhnya yang tidak sesuai dengan kata
orang kaya kapitalis, bahwa apa yang mereka lakukan untuk menghidupi mereka
yang belum bekerja dengan mapan dengan alasan tingkat sekolah yang tidak sesuai
dengan permintaan skill yang normatif di setiap perusahaan yang mereke dirikan
di tengah-tengah alam milih masyarakat desa.
Tantangan yang besar dalam
riset transformasi untuk menjadi fasiltator menggerakkkan kehidupan masyarakat
dengan hidup dalam realitas sosialnya, berdiri dan berjalan diantara struktur
sosial budaya yang timpang bukan melihat jauh tetapi melihat dari dekat, merasakannya
dan mencintainya. Riset transformatif tidak hanya pada tataran “to know” yaitu
hanya mengetahui problem masyarakat yang kemudian data-datanya hanya di deskripsikan
dalam bentuk teks-teks dan terjemahan-terjemahan, tetapi seharusnya sudah masuk
dalam tataran “to understand” memahami masalah masyarakat dari dekat karena
sebenarnya masyarakat adalah subyek penelitian yang lebih paham tentang
banyaknya masalah mereka dan mereka juga mampu mengatasinya tetapi perlu gerak
dan fasilitator network dan pengetahuan teoritis dari peneliti tetapi jangan
“menggurui” dengan merasa lebih tahu dan lebih paham dengan akumulasi
pengetahuan yang dimiliki dan terminologi yang masyarakat tidak tahu.
[1] Sumarto
Peserta SCCOB Diktis Kemenag RI. Bromo Tengger Semeru Desa Wonokitri 2017.
[2] Materi
SCCOB Marsen Sinaga INSIST
Yogyakarta “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial” 2017.
[3]
Melanjutkan Penyampaian Materi “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial”
2017 (Penuh geram dan ingin kita melakukan gerak perubahan sosial).
No comments:
Post a Comment