Friday, January 5, 2018

Penelitian Berorientasi Manfaat



Refleksi[1]
02 Desember 2017
SCCOB Tengger Bromo Semeru Pasuruan
Diktis Kemenag RI

Penelitian Berorientasi Manfaat







Hal yang sangat tidak “enak” di dengar ketika muncul letupan “seharusnya penelitian tidak jadi proyek atau ng-obyek” jadi tidak memiliki esensi kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena setelah hasil penelitian selesai semua akan menilai dengan membacanya apalagi sudah terpublikasi, masyarakat walaupun tidak membaca tapi merasakan bahwa hasil penelitiannya hanya soal bercerita-cerita dengan teks-teks dan terjemahan-terjemahan tanpa adanya perubahan.

Penelitian yang menghidupkan seperti apa yang dilakukan oleh Cliford Gird sebagai generasi dalam jendela paradigma perubahan sosial subjektif-interpretatif yang mampu menggambarkan masyarakat Kediri dengan beberapa kalsifikasi yang sesuai dengan realitas sosial yang ada sehingga masyarakat mampu menyadari bahwa kita berada dalam struktur sosial yang berbeda dan mempengaruhi cara kita untuk beribadah dalam keseharian, yaitu istilah Islam Abangan, Islam Priyai. Masyarakat berputar-putar dalam struktur sosial yang “menjinakkan” dalam budaya yang membudaya setiap hari.

Clifford Gertzz[2] menolak “peneliti yang menganggap masyarakat sebagai objek dari proses penelitiannya” ini bahaya bila terus-meneruskan dilakukan karena masyarakat bukan objek yang harus dijadikan benda mati tanpa adanya dinamisasi kehidupan yang sebenarnya masyarakat yang lebih paham dengan keadaannya mulai dari terbentuknya masyarakat dalam Desa secara turun-temurun yang seharusnya menjadi “subjek” dalam penelitian dan kita hanya bagian subjek dari subjek tersebut yang ingin mengetahui “to know” tentang mereka (masyarakat) lebih mengetahui “more-most to know.” Sehingga akhirnya bisa memahami apa yang menjadi substansi dari realitas sosial yang ada.

Thomas Khun[3] dalam “The Structure of Scientific Revolution”: Suatu kerangka referensi atau pandangan dunia (world view) yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Jelas bagi pemahaman dalam paradigma perubahan sosial, bahwasanya yang menjadi referensi atau pijakan teori yang mendasar adalah realitas kehidupan yang ada di Dunia/Masyarakat yang kemudian menjadi pandangan hidup yang membudaya atau bahkan menjadi “Dogma Kehidupan” sehingga sangat susah mengubahnya karena menjadi “leluhur dalam kehidupan” sebagaimana yang sering disebut masyarakat Tengger Bromo “kita dari alam lelulur yang berasal dari Hilah Hilah, yang Tuhan sudah berikan untuk kehidupan, dan mengapa harus pergi dari tanah yang subur untuk hidup.”

Segera sadar dan segera dilakukan, statement yang menjadi paradigma dalam pikiran peneliti, apabila tidak muncul akan kembali tradisi riset-riset yang formalisasi yang isinya tentang “kejar tayang: limit waktu, proyek, target laporan secara mekanik.” Untuk itu menghilangkan paradigma mekanik dalam lapangan kembali kepada konsep Clifford Gertzz yaitu intensitas dalam interaksi kepada masyarakat, semakin tinggi frekuensi intensitasnya maka semakin mendalam pemahaman dan bahkan timbul raca cinta dan peduli kepada masyarakat sebagai subjek penelitian. Rendahnya intensitas interkasi sosial mengakibatkan peneliti tidak mengetahui problem masyarakat secara substansial hanya mendengar dan melihat dalam keterbatasan awal.

Kembali ke teori paradigma perubahan sosial yang benar dalam penelitian. Sesuai dalam teori “mempunyai pendirian yang sama dengan kaum fungsionalis tetapi pendekatannya subjektif. Memahami kenyataan sosial apa adanya, kesadaran terlibat, kenyataan sosial dibentuk oleh kesadaran dan tindakan seseorang, mencari makna dibalik sesuatu pemikiran Weber dan Husserl; Dilthey, Schutz.[4] Makna dalam hidup dengan hidup dalam makna yang ada yaitu realitas sosial untuk perubahan sosial dalam kaidah penelitian berorientasi bermanfaat.
Bersambung.....







[1] Sumarto. Peserta SCCOB Desa Wonokitri Kec. Tosari (Suku Tengger Bromo Semeru) Pasuruan. Diktis Kemenag RI. 2017.
[2] Penjelasan dari Prof. Ahmad Mahmudi LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB. 2017
[3] Materi ppt. Prof. Ahmad Mahmudi LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB 2017.
[4] Materi ppt. Prof. Ahmad Mahmudi LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB 2017.

Tranformasi Sosial-Kolaborasi Penelitian



Refleksi, 1 Desember 2017
Kegiatan SCCOB Tengger Semeru Bromo
Diktis Kemenag

Tranformasi Sosial-Kolaborasi Penelitian





Penelitian Transformasional perlu kesungguhan, kejujuran dan kesadaran untuk menghadirkan narasi kehidupan yang bisa menggerakan hati dan pikiran civitas akademika dan masyarakat umum karena narasi kehidupan lahir dari realitas sosial yang mengalami perubahan. Karena beberapa dari hasil penelitian yang diproduksi banyak terjadi manipulasi sosial dan ini sangat bahaya karena setiap hasil penelitian akan dipublikasikan baik dalam Jurnal, Buku, Artikel atau bentuk publikasi yang lain, apabila sudah dikonsumsi dengan banyak oleh civitas akademika dan menjadi bahan-bahan perkulihan dan menjadi modal bahkan dasar untuk pengabdian masyarakat sebagain untuk kajian terdahulu dan kerangka teori yang dilanjutkan tanpa ada verifikasi teori dam hasil riset karena sudah menjadi “aliran air yang deras yang susah dibendung lagi arusnya” bisa bahaya menjadi manipulasi sosial berbungkus riset, manjadi jajanan akademisi dan masyarakat sebagai penikmat.

Penyakit kronis adanya manipulasi sosial dari hasil riset, jangankan untuk melakukan transformasi sosial dalam realitas kehidupan “malahan” menjadi an-transformasi sosial menghambat adanya perubahan sosial karena hasil riset yang salah sehingga muncul pemikiran yang “awam” “ngapain ngadaian riset dalam kehidupan masyarakat yang menghambat perubahan masyarakat itu, toh...lambat laun masyarakat bisa berubah sendiri untuk menjadi yang baik hingga waktunya nanti. ” Meaningnya yang saya tangkap dari penjelasan Prof. Ahmad Mahmudi dan Rahadi (LPTP dan INSIST) transformasi sosial membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dengan cara berada di tengah masyarakat, berbicara dengan cara berbicara masyarakat, mencintai masyarakat dilakukan dengan tinggal dalam kehidupan masyarakat sehingga tahu, ngerti dan apa yang harus dilakukan butuh waktu, butuh tenaga pikiran sebagai bagian yang memang benar bahagian dari kehidupan real masyarakat.


Dalam dunia kampus terkadang terjadi atau bahkan “sering” terjadi yang namanya memilih-milih judul riset yang akan dilakukan tanpa mengetahui kondisi realitas sosial, padahal realitas sosial tidak bisa dijadikan objek dari riset yang bisa dipilih-pilih, apalagi belum turun ke lapangan lalu membuat judul riset suatu hal yang bisa menebak nebak keadaan yang ada. Cenderung terjadinya pilih memilih judul dan tebak menebak judul dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti baik jadwal mengajar, jadwal kegiatan dalam keluarga, lingkungan masyarakat atau bahkan mengelola business, ternak, kebun dan lain sebagainya sehingga untuk konsenntrasi dalam realitas sosial memiliki kekurangan waktu dan tempat.

Disini perlu adanya “Kolaborasi Penelitian” untuk sama sama meneliti dengan tujuan yang sama sehingga dapat menghasilkan hasil riset yang transfomatif karena banyak bahagian yang turut serta bekerja turun lapangan. Makna penelitian dalam kolaborasi yang transformatif yang dilakukan adanya “kebenaran riset” karena dalam prosesnya setiap peneliti yang terlibat dalam riset bersama-sama mencari kebenaran, menemukan kebenaran sampai dapat memberikan manfaat (transformasi sosial) masyarakat berada di dalam riset yang hidup dan menghidupkan.


Mohon masukannya....
Bersambung...

Tantangan Transformasi Sosial



R e f l e k s i . . . . . . . .
Tantangan Transformasi Sosial[1]







Di mulai dengan adanya kegelisahan dan kepeduliah tentang struktur masyarakat yang timpang dan tidak sesuai dengan azas setiap hak manusia untuk hidup mulai dari hak untuk makan, hak untuk tempat tinggal, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk memperoleh pendidikan yang baik, hak untuk melihat/memandang alam yang indah dan hak untuk menikmati hidup. Bila hak sudah tidak terpenuhi maka akan terjadi ketimpangan pada struktur sosial. Banyak peristiwa di beberapa daerah yang menjadi ketimpangan pada struktur sosial tidak usah jauh melihat daerah-daerahnya, mari memperhatikan tempat tinggal sehari-hari, dimana dihadapkan dengan ketimpangan yang bahkan tidak disadari. Hal ini adalah pengaruh besar dari globalisai, modernisasi dengan praktik-praktik liberalisme dan sekarang sudah berada pada pengaruh neo-liberalisme.
Penjelasan Marsen Sinaga[2] Bahwa kehidupan manusia yang sangat dinamis dipenuhi dengan pola hidup yang semkin konsumtif dan individualis. Berada pada situasi dimana setiap elemen masyarakat dimanjakan dengan “praktisasi” seperti pola makan, tidak lagi memikirkan bagaimana memperoleh makanan dari alam, memasak makanan dengan alam, mendapatkan pekerjaan dari alam, menikmati keindahan alam dengan gratis.” Sekarang hanya bisa merasakan makanan dengan bungkus-bungkus pelatik, minuman-minuman plastik yang siap saji yang cenderung tidak baik bagi kesehatan dan sebahagian besar dari masyarakat mulai menikmatinya. Berdirinya berbagai macam warung-warung cantik indah mempesona sudah mulai masuk dalam struktur perekomomian masyrakat desa, tanpa disadari warung-warung tradisional yang manjadi sumber penghidupan sebahagian masyarakat mulai “kumuh dan kotor” karena orang-orang mulai tidak suka, mulai merasa tidak sesuai dengan perkembangan hidupnya yang harus “maju dan modern” katanya?.
Masuk dalam lingkaran kapitalis dimana pihak yang paling kaya menguasai hampir setengah dari sumber daya alam yang ada dengan proses sistematisasi yang sangat rapi tanpa diketahui bahwa itu adalah mesin yang akan menggeling kehidupan masyarakat lemah dalam ketertindasan hidup yang fatamorgana. Tidak lagi harus berkata tidak untuk melawan kapitalis-neoliberalisme yang ada hanya masyarakat menikmatinya dengan mempertanyakan mengapa-mengapa menjadi sebuah kehidupan dalam hidup yang harus ada. Masyarakat miskin yang merupakan sumber kekayaan sekelompok orang kaya hanya bisa menderita dengan kekurangan hidup yang semakin hari semakin menikmati, padahal ini adalah realitas hidup yang dihadapinya hingga akhirnya mengeluh dan mempersalahkan satu-sama lain dalam anggota keluarganya sampai pada anggota masyarakat yang lain.
Marsen Sinaga[3] Orang-orang kaya yang menguasai pasar mengendalikan sistem ekonomi hanya 2 % dari populasi manusia yang sungguh banyaknya, Orang-orang menengah hanya 24 % yang sebahagian besar menjadi “kaki-tangan” Orang-Orang Kaya Kapitalis atau yang menikmati dari setiap apa yang diberikan Orang-orang kaya kapitalis karena sebahagian dari mereka bekerja dan bekerja untuk mereka yang tidak peduli dengan masyarakat miskin yang menjadi sumber pendapatan hidup mereka, yaitu para petani dan buruh yang setiap harinya yang harus bekerja dengan penuh tulang-tulang yang kering menyatu dengan daging dan darah dalm tubuhnya yang tidak sesuai dengan kata orang kaya kapitalis, bahwa apa yang mereka lakukan untuk menghidupi mereka yang belum bekerja dengan mapan dengan alasan tingkat sekolah yang tidak sesuai dengan permintaan skill yang normatif di setiap perusahaan yang mereke dirikan di tengah-tengah alam milih masyarakat desa.
Tantangan yang besar dalam riset transformasi untuk menjadi fasiltator menggerakkkan kehidupan masyarakat dengan hidup dalam realitas sosialnya, berdiri dan berjalan diantara struktur sosial budaya yang timpang bukan melihat jauh tetapi melihat dari dekat, merasakannya dan mencintainya. Riset transformatif tidak hanya pada tataran “to know” yaitu hanya mengetahui problem masyarakat yang kemudian data-datanya hanya di deskripsikan dalam bentuk teks-teks dan terjemahan-terjemahan, tetapi seharusnya sudah masuk dalam tataran “to understand” memahami masalah masyarakat dari dekat karena sebenarnya masyarakat adalah subyek penelitian yang lebih paham tentang banyaknya masalah mereka dan mereka juga mampu mengatasinya tetapi perlu gerak dan fasilitator network dan pengetahuan teoritis dari peneliti tetapi jangan “menggurui” dengan merasa lebih tahu dan lebih paham dengan akumulasi pengetahuan yang dimiliki dan terminologi yang masyarakat tidak tahu.



[1] Sumarto Peserta SCCOB Diktis Kemenag RI. Bromo Tengger Semeru Desa Wonokitri 2017.
[2] Materi SCCOB Marsen Sinaga  INSIST Yogyakarta “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial” 2017.
[3] Melanjutkan Penyampaian Materi “Globalisasi: Tantangan Transformasi Sosial” 2017 (Penuh geram dan ingin kita melakukan gerak perubahan sosial).