Refleksi[1]
02 Desember 2017
SCCOB Tengger Bromo Semeru Pasuruan
Diktis Kemenag RI
Penelitian
Berorientasi Manfaat
Hal yang sangat tidak “enak” di dengar ketika
muncul letupan “seharusnya penelitian tidak jadi proyek atau ng-obyek” jadi
tidak memiliki esensi kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena setelah hasil
penelitian selesai semua akan menilai dengan membacanya apalagi sudah
terpublikasi, masyarakat walaupun tidak membaca tapi merasakan bahwa hasil
penelitiannya hanya soal bercerita-cerita dengan teks-teks dan
terjemahan-terjemahan tanpa adanya perubahan.
Penelitian yang menghidupkan seperti apa yang
dilakukan oleh Cliford Gird sebagai generasi dalam jendela paradigma perubahan
sosial subjektif-interpretatif yang mampu menggambarkan masyarakat Kediri
dengan beberapa kalsifikasi yang sesuai dengan realitas sosial yang ada
sehingga masyarakat mampu menyadari bahwa kita berada dalam struktur sosial
yang berbeda dan mempengaruhi cara kita untuk beribadah dalam keseharian, yaitu
istilah Islam Abangan, Islam Priyai. Masyarakat berputar-putar dalam struktur
sosial yang “menjinakkan” dalam budaya yang membudaya setiap hari.
Clifford Gertzz[2] menolak “peneliti yang
menganggap masyarakat sebagai objek dari proses penelitiannya” ini bahaya bila
terus-meneruskan dilakukan karena masyarakat bukan objek yang harus dijadikan
benda mati tanpa adanya dinamisasi kehidupan yang sebenarnya masyarakat yang
lebih paham dengan keadaannya mulai dari terbentuknya masyarakat dalam Desa
secara turun-temurun yang seharusnya menjadi “subjek” dalam penelitian dan kita
hanya bagian subjek dari subjek tersebut yang ingin mengetahui “to know” tentang
mereka (masyarakat) lebih mengetahui “more-most to know.” Sehingga akhirnya
bisa memahami apa yang menjadi substansi dari realitas sosial yang ada.
Thomas Khun[3] dalam “The Structure of
Scientific Revolution”: Suatu kerangka referensi atau pandangan dunia (world view) yang menjadi dasar keyakinan
atau pijakan suatu teori. Jelas bagi pemahaman dalam paradigma perubahan sosial, bahwasanya yang menjadi
referensi atau pijakan teori yang mendasar adalah realitas kehidupan yang ada
di Dunia/Masyarakat yang kemudian menjadi pandangan hidup yang membudaya atau
bahkan menjadi “Dogma Kehidupan” sehingga sangat susah mengubahnya karena
menjadi “leluhur dalam kehidupan” sebagaimana yang sering disebut masyarakat
Tengger Bromo “kita dari alam lelulur yang berasal dari Hilah Hilah, yang Tuhan sudah berikan untuk kehidupan, dan mengapa
harus pergi dari tanah yang subur untuk hidup.”
Segera sadar dan segera dilakukan, statement yang menjadi paradigma dalam
pikiran peneliti, apabila tidak muncul akan kembali tradisi riset-riset yang
formalisasi yang isinya tentang “kejar tayang: limit waktu, proyek, target
laporan secara mekanik.” Untuk itu menghilangkan paradigma mekanik dalam
lapangan kembali kepada konsep Clifford Gertzz yaitu intensitas dalam interaksi
kepada masyarakat, semakin tinggi frekuensi intensitasnya maka semakin mendalam
pemahaman dan bahkan timbul raca cinta dan peduli kepada masyarakat sebagai
subjek penelitian. Rendahnya intensitas interkasi sosial mengakibatkan peneliti
tidak mengetahui problem masyarakat secara substansial hanya mendengar dan
melihat dalam keterbatasan awal.
Kembali ke teori
paradigma perubahan sosial yang benar dalam penelitian. Sesuai dalam teori “mempunyai pendirian yang
sama dengan kaum fungsionalis tetapi pendekatannya subjektif. Memahami
kenyataan sosial apa adanya, kesadaran terlibat, kenyataan sosial dibentuk oleh
kesadaran dan tindakan seseorang, mencari makna dibalik sesuatu pemikiran Weber
dan Husserl; Dilthey, Schutz.[4] Makna dalam hidup dengan hidup dalam makna yang ada
yaitu realitas sosial untuk perubahan sosial dalam kaidah penelitian
berorientasi bermanfaat.
Bersambung.....
[1] Sumarto. Peserta SCCOB Desa Wonokitri
Kec. Tosari (Suku Tengger Bromo Semeru) Pasuruan. Diktis Kemenag RI. 2017.
[2] Penjelasan dari Prof. Ahmad Mahmudi
LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB. 2017
[3] Materi ppt. Prof. Ahmad Mahmudi LPTP,
INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB 2017.
[4]
Materi ppt. Prof. Ahmad Mahmudi
LPTP, INSIST Solo Yogyakarta. Acara SCCOB 2017.