Transformasi
Sosial dalam Penelitian
Sumarto
(Desa Sukosari Gunung Tengger Kabupaten
Pasuruan Jawa Timur, Kegiatan SCCOB Diktis Kemenag RI 28 November 2017).
Kajian transformasi sosial
dalam metodologi penelitian memang tidak ditemukan tetapi transformasi sosial
memayungi setiap penelitian (umbrella-nya
riset), karena akhir dari suatu penelitan adalah perubahan sosial (social change). Dengan adanya basis
penelitian maka perubahan sosial akan terwujud dengan jelas karena sudah
mengetahui realitas sosial yang ada dengan proses turun langsung ke lapangan,
semakin tinggi “jam terbang” turung ke lapangan melihat langsung, merasakan
langsung dan melakukan langsung dengan subjek penelitian sebagai “historical
eksperience” maka akan semakin mendalam peneliti mengetahui realita kehidupan
yang terjadi bukan hanya masa kini tetapi penyebab sejarah di masa lampau
sehingga terjadi permasalahan sosial saat kini.
Ahmad Mahmudi (LPTP
Yogyakarta) “Penelitian sosial – keagamaan pada saat ini sangat kering dengan realitas
sosial yang ada”. Yang ada hanya isi penelitian yang “comot sana comot” sini
sehingga tidak bisa mengungkapkan realitas sosial, ditambah lagi dengan
literatur yang digunakan hanya tetap “comot sana comot” sehingga hasil
penelitiannya tidak menjawab apa-apa dari realitas sosial yang ada, realitas
sosial yang membutuhkan peneliti untuk menjawab setiap masalah yang ada. Muncul
stagnasi penelitian sosial-keagamaan pada saat ini, kita jarang menemukan lagi
yang namanya penelitian dari Koentoewijoyo, Soesiloemardjan, dan penelitian
sosial lainnya yang memiliki sikap attitude penelitian yang baik dan peduli
terhadap realitas sosial yang ada.
Seharusnya riset
sosial-keagamaan harus dapat menggambarkan narasi kehidupan, bukannya narasi
yang terdiri dari teks-teks, atau terjemahan-terjemahan. Sehingga hasil
penelitiaanya haus dengan keadaan yang nyata dalam realitas sosial di
masyarakat sehingga muncul yang namanya penelitian sosial-keagamaan yang
“remote control” penelitian yang hanya kejar tayang, penelitian yang hanya
berdasarkan limitasi, penelitian yang hanya proyek semata tanpa ada unsur
menghidupkan kehidupan dalam hasil penelitian yang ada. Bila ini
terus-diteruskan yang ada hanya penelitian sosial-keagaman yang apa adanya
bukan yang adanya apa.
Transformasi sosial dalam
penelitian sebagai payung dari metodologi penelitian melahirkan peneliti yang discovery yaitu peneliti yang mencari,
mencari, mencari dan menemukan apa yang ada di balik realitas sosial yang ada. Peneliti
yang membebaskan dirinya dari mitos yang ada, limitasi dari proyek yang ada,
besaran jumlah dana dalam proyek yang ada, keterbatasan yang ada. Sehingga pada
akhirnya peneliti yang dengan dasar transformasi sosial bisa memiliki yang
namanya kepekaan realitas sosial. Tidak cukup kepekaan itu tetapi harus juga
memiliki bahan kajian literasi yang banyak sebagai dasar teoritis keilmuan
untuk menjadi tool/alat di lapangan.
Bila telusuri dari kampus ke
kampus banyak yang terjadi praktik penelitian yang lingkari dari bayang-bayang
metodologi penelitian yang formalitas yang di runut dari BAB I, BAB II, BAB III
dan lain sebagainya dalam metodologi penelitian hal ini tidaklah salah tetapi
dalam kajian penelitian transformasi sosial ini bisa menjadi penghambat dalam
menggambarkan realitas sosial yang ada di lapangan karena nanti penelitiannya
cenderung diarahkan pada satu kaca mata saja sehingga ada istilah yang
menyebutkan sebagai penelitian “kaca mata kuda” yang hanya melihat ke depan
tapa melihat keberbagai arah. Karena penelitian transformasi sosial membutuhkan
pandangan analisis dari realitas sosial yang ada dari berbagai arah untuk
mencari jawaban dari permasalaha yang ada di masysrakat. Cenderung penelitian
di Kampus S1, S2 dan S3 hanya deskripsi dari realitas sosial yang ada, kurang
adanya analisis dari realitas sosial dan refleksi dari realitas sosial.
Seharusnya penelitian S1 harus deskriptif, S2 harus analitik dan S3 harus
hipotetik yang mampu memprediksi apa yang terjadi di masa yang akan datang dari
hasil penelitian yang dilakukan (minimal mampu memprediksi apa yang terjadi
dalam relaitas sosial dalam waktu 20 tahun yang akan datang).
Mohon
Komentarnya sebagai bahan kritik dan masukan untuk penyempurnaan pemahaman yang
ada....
Bersambung.....
No comments:
Post a Comment