Friday, June 2, 2017

FILSAFAT ILMU SUATU PENGANTAR (PENGERTIAN, CAKUPAN, METODE, TUJUAN) Oleh Sumarto


FILSAFAT ILMU SUATU PENGANTAR
(PENGERTIAN, CAKUPAN, METODE, TUJUAN)

A.   PENDAHULUAN
Tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah filsafat ilmu lanjutan adalah memperbaiki makalah yang sudah dipersentasikan berdasarkan hasil diskusi dengan teman-teman dan saran dari dosen pengampu. Pada makalah ini ada beberapa hal yang diperbaiki yaitu cakupan, metode dan tujuan dalam pembahasan filsafat ilmu suatu pengantar.
Semua cabang ilmu pegetahuan hakikatnya berdasarkan filsafat, seringkali disebut oleh sejumlah pakar sebagai induk semang dari ilmu-ilmu[1]. Filsafat merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat dan lebih memadai. Filsafat telah mengantarkan pada sebuah fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk sebuah konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar dan bercabang secara subur sebagai sebuah fenomena kemanusiaan. Masing-masing cabang pada tahap selanjutnya melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.[2]
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi. Ilmu pengetahuan hakekatnya dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan dengan patokan-patokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.[3] Pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of knowledge, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat umum. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya Ilmu (pengetahuan).
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan hakekatnya dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan dengan patokan-patokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.
Dalam kajian sejarah dapat dijelaskan bahwa perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan[4]. Sejak zaman kuno, pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan sebuah cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasinya. Proses perkembangan dari berbagai fase kehidupan primitip–klasik dan  kuno menuju manusia modern telah melahirkan lompatan pergeseran yang sangat signifikan pada masing-masing zaman. Disinilah pemikiran filosofis telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada satu arah menuju pola pikir ilmiah ariented, perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai segmentasi kehidupan.[5]
Corak dari pemikiran bersifat mitologis (keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan saja) terjadi pada dekade awal sejarah manusia. Namun setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-528 SM), Phitagoras (532 SM), Heraklitos (535-475 SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi pemikir lainnya, maka pemikiran filsafat berkembang secara cepat kearah kemegahanya diikuti oleh proses  demitologisasi menuju gerakan logosentrisme[6]. Demitologisasi tersebut disebabkan oleh arus besar gerakan rasionalisme[7], empirisme[8] dan positivisme[9] yang dipelopori oleh para pakar dan pemikir  kontemporer yang akhirnya mengantarkan kehidupan  manusia pada tataran era modernitas yang berbasis pada pengetahuan ilmiah.
Pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat umum. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya Ilmu (Pengetahuan). Permasalahan yang akan kita jelajahi dalam penulisan makalah ini difokuskan pada pembahasan tentang: Filsafat dan Filsafat Ilmu Sebagai upaya konseptualisasi dan identifikasi. Disini dipaparkan deskripsi awal tentang sejumlah kajian yang menyangkut tentang subbab-subbab yakni pengertian Filsafat, Definisi filsafat ilmu, Obyek material dan formal filsafat ilmu, Lingkup filsafat ilmu dan subsatnsi permasalahan problem-problem filsafat ilmu

B.   PEMBAHASAN
1.    Hakikat Filsafat Ilmu
Hakikat filsafat ilmu selain sebagai patokan, penentu, sekaligus petunjuk arah kemana ilmu pengetahuan akan berlayar atau berjalan juga filsafat ilmu menentukan kemana ilmu pengetahuan akan diantarkan atau dikembangkan. Filsafat ilmu merupakan kreativitas seorang filsuf dengan keilmuannya yang menggunakan logika berpikir dalam melahirkan ilmu pengetahuan yang beragam pada sebuah pohon ilmu kemudian mengantarkan dan mengembangkannya menjadi cabang yang banyak secara mandiri.[10]
Pada kajian sejarah dapat dijelaskan bahwa perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan.[11] Sejak zaman kuno, pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan sebuah cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasinya. Proses perkembangan dari berbagai fase kehidupan primitif-klasik dan  kuno menuju manusia modern telah melahirkan lompatan pergeseran yang sangat signifikan pada masing-masing zaman. Disinilah pemikiran filosofis telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada satu arah menuju pola pikir ilmiah ariented, perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai segmentasi kehidupan.[12]
Corak dari pemikiran bersifat mitologis (keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan saja) terjadi pada dekade awal sejarah manusia. Namun setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-528 SM), Phitagoras (532 SM), Heraklitos (535-475 SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi pemikir lainnya, maka pemikiran filsafat berkembang secara cepat ke arah kemegahannya diikuti oleh proses  demitologisasi menuju gerakan logosentrisme.[13] Demitologisasi tersebut disebabkan oleh arus besar gerakan rasionalisme[14], empirisme[15] dan positivisme[16] yang dipelopori oleh para pakar dan pemikir kontemporer yang akhirnya mengantarkan kehidupan  manusia pada tataran era modernitas yang berbasis pada pengetahuan ilmiah.
Para filosof mengartikan filsafat berbeda-beda, Pytagoras mengartikan filsafat sebagai pecinta kebijaksanaan. Plato mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang hakiki lewat dialektika. Aristoteles mendefenisikan filsafat sabagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang Tuhan, alam dan manusia. Al-Farabi mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan aam wujud dan haikat alam yang sebenarnya. Sayyid Ar-Rhadi menyatakan guru dari semua filsuf Islam ialah Imam Ali bin Abi Thalb r.a. Ini tercermin dalam bukunya yang berjudul Nahjul Balaghah yang berisi kumpulan khotbah Ali bi Abi Thalib dengan muatan filsafat ketuhanan, metafiska, etika, estetika dan filsafat ilmu.[17]
Problem filsafat Ilmu dibicarakan sejajar dengan diskusi yang berkaitan dengan landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Untuk Telaah tentang problema substansi Filsafat Ilmu yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.[18] Permasalahan atau problema  filsafat ilmu  mancakup: pertama problem  ontologi ilmu;  perkembangan  dan kebenaran ilmu  sesungguhnya  bertumpu  pada  landasan  ontologis  (apa  yang  terjadi yaitu eksistensi  suatu  entitas) Kedua, Problem  epistemologi adalah  bahasan  tentang  asal  muasal,  sifat  alami,  batasan (konsep),  asumsi,  landasan berfikir,  validitas,  reliabilitas  sampai  soal  kebenaran  (bagaimana  ilmu diturunkan dan metode untuk menghasilkan  kebenaran) Ketiga, Problem aksiologi yaitu implikasi etis, aspek estetis,  pemaparan serta penafsiran mengenai peranan (manfaat) ilmu  dalam peradaban manusia. Ketiganya digunakan sebagai  landasan penelaahan ilmu.[19]

2.    Pengertian Filsafat Ilmu
a.    Filsafat
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani yaitu philosophia.[20]  Dalam bahasa Yunani, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata philia yang berarti persahabatan, cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga arti lughowi-nya (semantic) adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sejajar dengan kata filsafat, kata filosofi juga dikenal di Indonesia dalam maknanya yang cukup luas dan sering digunakan oleh semua kalangan.
Ada juga yang  mengurainya dengan kata philare[21] atau philo yang berarti cinta dalam arti yang luas yaitu ingin dan karena itu lalu berusaha untuk mencapai yang diinginkan itu. Kemudian dirangkai dengan kata sophia artinya kebijakan, pandai dan pengertian yang mendalam. Dengan mengacu pada konsepsi ini maka dipahami bahwa filsafat dapat diartikan sebagai sebuah perwujudan dari keinginan untuk mencapai pandai dan cinta pada kabijakan.[22]
Seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf. Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis, mendeteksi problem secara radikal, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses kerja ilmiah.
Harun Nasution memberikan satu penegasan bahwa filsafat dalam khazanah Islam menggunakan rujukan kata yakni falsafah.[23] Istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, karena bangsa Arab lebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia dibanding dengan bahasa-bahasa lain ke tanah air Indonesia. Oleh karena itu, konsistensi yang patut dibangun adalah penyebutan filsafat  dengan kata falsafat.[24]
Kajian filsafat dalam wacana muslim juga sering menggunakan kalimat padanan Hikmah sehingga ilmu filsafat dipadankan dengan ilmu hikmah. Hikmah  digunakan sebagai bentuk ungkapan untuk menyebut makna kearifan, kebijaksanaan, sehingga dalam berbagai literatur kitab-kitab klasik dikatakan bahwa orang yang ahli kearifan disebut Hukama’. Seringkali pula ketika dikaji dalam berbagai literatur kitab-kitab pesantren muncul ungkapan-ungkapan dalam sebuah tema dengan konsep yang dalam bahasa Arab misalnya kalimat ‘wa qala min ba’di al hukama….”[25] dan juga sejajar dengan kata al-hakim yang mengandung arti bijaksana. Misalnya ayat:
(#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ  
Artinya:  Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah: 32).

äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An Nahl: 125).


Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.[26] Sementara dalam Al-Jurjani, sebagaimana dikutip Amsal Bakhtiar memberikan penjelasan tentang hikmah, yaitu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada menurut kadar kemampuan manusia.[27]
Kata filsafat dalam bahasa Inggris juga menggunakan istilah philosophy yang juga berarti filsafat, yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Unsur pembentuk kata ini adalah kata philos dan sophos. Philos maknanya gemar atau cinta dan sophos artinya bijaksana atau arif (wise).[28] Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno, filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia ternyata luas sekali, sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikan dalam memutuskan soal-soal praktis yang bertumpu pangkal pada konsep-konsep aktivitas-aktivitas awal yang disebut pseudoilmiah dalam kajian ilmu.

b.    Pengertian Filsafat Secara Istilah
Sejumlah literatur mengungkapkan, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M), yakni seorang ahli matematika. Pytagoras menganggap dirinya philosophos (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Kemudian, para penulis sejarah filsafat mengakui bahwa Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Thales merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam istilah Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya.
Menurut sejarah kelahirannya istilah filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks. Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat filsafat tentang sesuatu; tentang manusia, tentang alam, tentang Tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama dan sejarah. Semua selalu dikembalikan ke-empat bidang sebagai sumbernya, yaitu::
1)     Filsafat tentang pengetahuan. Objek materialnya yaitu pengetahuan (episteme) dan kebenaran. Epistemologi yaitu logika dan kritik ilmu-ilmu.
2)     Filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan, objek materialnya yaitu eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat), metafisika umum (ontologi), antropologi (tentang manusia), kosmologi (tentang alam semesta), dan teologi (tentang tuhan).
3)     Filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan. Objek material yaitu kebaikan dan keindahan, etika dan estetika.
4)     Sejarah filsafat menyangkut dimensi ruang dan waktu dalam sebuah kajian.[29]
Jika dikelompokkan secara kerakterisitik bahwa cara pendekatannya dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat.[30]  Ciri pemikiran filsafat mengacu pada tiga konsep pokok yakni persoalan filsafat bercorak sangat umum, persoalan filsafat tidak bersifat empiris dan menyangkut masalah-masalah asasi.[31] Kemudian Kattsoff menyatakan karakteristik filsafat dapat diidentifikasi sebagai berikut, yaitu: [32]
1)  Filsafat adalah berpikir secara kritis.
2)  Filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis.
3)  Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut.
4)  Filsafat adalah berpikir secara rasional.
5)  Filsafat bersifat komprehensif.
Jadi berfikir filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis, tertib, rasional dan komprehensif. Rosenberg dalam bukunya Philosophy Deals with Two Sets of Questions: First, the Questions that Science-Physical, Biological, Social, Behavioral-Second, the Questions About why the Sciences Cannot Answer the first lot of Questions”.[33] Dikatakan bahwa  filsafat dibagi dalam dua buah pertanyaan utama, pertanyaan pertama adalah persoalan tentang ilmu (fisika,biologi, social dan budaya) dan yang kedua adalah persoalan tentang duduk perkara ilmu  yang itu tidak terjawab pada persoalan yang pertama. Dari narasi ini ada dua buah konsep filsafat yang senantiasa dipertanyakan yakni tentang apa dan bagaimana. Apa itu ilmu dan bagaimana ilmu itu disusun dan dikembangkan. Hal ini sangat mendasar dalam kajian dan diskusi ilmiah dan ilmu pengetahuan pada umumnya yang satu terjawab oleh filsafat dan yang kedua dijawab oleh kajian filsafat ilmu.
Pertanyaan yang timbul dalam filsafat mengenai penjelasan tentang pengetahuan adalah seperti; Apa itu pengetahuan?  Dari mana asalnya?  Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka? Teori pengetahuan menjadi inti diskusi, apa hakekat pengetahuan, apa unsur-unsur pembentuk pengetahuan, bagaimana menyusun dan mengelompokkan pengetahuan, apa batas-batas pengetahuan, dan juga apa saja yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan.[34] Disinilah filsafat ilmu memfokuskan kajian dan telaahnya.Yakni pada sebuah kerangka konseptual yang menyangkut sebuah system pengetahuan yang di dalamnya terdapat hubungan relasional antara pengetahuan yang mengetahui (the Knower) dan yang terketahui, yang diketahui (the known) dan juga antara pengamat (the observer)  dengan yang diamati (the observed).[35]
Pengertian tentang filsafat ilmu, banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan integrative yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam sejumlah literatur kajian Filsafat Ilmu yang dikemukakan oleh Endang Komara, yaitu: [36]
1)     Robert Ackerman: philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
2)     Lewis White Beck: Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
3)    Cornelius Benjamin: That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. Cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan peranggapan-peranggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.
4)    Michael V. Berry: The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory of scientific methods. Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.
5)    May Brodbeck: Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science. Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
6)    Peter Caws: Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. Filsafat ilmu merupakan satu bagian dari filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya lakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan
7)    Stephen R. Toulmin: As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics. Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis dan metafisika.

Dari sejumlah pengertian filsafat ilmu yang dikemukakan para pakar di atas, selanjutnya dapat kita pahami secara lebih konkret posisi filsafat ilmu yaitu untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan yang menyangkut: apa perbedaan ilmiah karakteristik tipe masing-masing ilmu. Kamudian prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian. Apa yang semestinya dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Selanjutnya apakah teori itu dapat diambil sebagai konsep dari prinsip-prinsip ilmiah.[37] Pemahaman yang berbeda mengenai kesimpulan dari paparan pakar di atas mengandung konsepsi dasar yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)     Sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah
2)     Sikap sitematis berpangkal pada metode ilmiah
3)     Sikap analisis objektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah.
4)     Sikap konsisten dalam bangunan teori serta tindakan  ilmiah

[
John Losee dalam bukunya yang berjudul A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition,  mengungkapkan bahwa: The philosopher of science seeks answers to such questions as:
1)    What characteristics distinguish scientific inquiry from other types of investigation?
2)    What procedures should scientists follow in investigating nature?
3)    What conditions must be satisfied for a scientific explanation to be correct?
4)    What is the cognitive status of scientific laws and principles?[38]

Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya secara umum, dari ungkapan tersebut terdapat sebuah konsep bahwa tugas dari pemikir filsafat ilmu itu untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan persoalan yang menyangkut: pertama, apa yang menjadi perbedaaan ilmiah karakteristik type masing-masing ilmu ntara satu ilmu dengan ilmu lainnya melalui penelitian. Kedua Prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian atas kenyataan yang terjadi di alam?, Ketiga apa yang  mesti  dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah  untuk melakukan penelitian dan eksperimen itu? Dan keempat apakah teori itu dapat diambil sebagai konsep dan prinsip-prinsip ilmiah?. Sehingga sketsa filsafat ilmu dapat di gambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut:[39]

Level
Disciplin
Subject-matter
2
Philosophy of Science
 Analysis of the Procedures and Logic of Scientific Explanation
1
Science
 Explanation of Facts
0

 Facts

Berdasarkan tabel di atas secara jelas terlihat bahwa filsafat ilmu menempati level ke-2 sedangkan ilmu (science) pada level pertama dan semuanya pada satu pangkal pokok yakni fakta (kenyataan) menjadi basis utama bangunan segala disiplin ilmu. Bila ilmu itu menjelaskan fakta, sementara filsafat ilmu itu subyek materinya adalah menganalisa prosedur-prosedur logis dari ilmu (Analysis of the Procedures and Logic of Scientific Explanation).

3.    Hubungan Filsafat dengan Ilmu
Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, di mana dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan keduanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah intelektuan manusia
Harold H. Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping dikalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu, demikian juga dikalangan filsuf terdapat perbedaan pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.
Adapun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi dan memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisisr dan sistematis.
Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan titik tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat analitis dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi, eksperimen dan klasifikasi data pengalaman indra serta berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut, sedangkan filsafat berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan sinoptis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik  pada pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan antara fakta khusus dengan skema masalah yang lebih luas, filsafat juga mengkaji  hubungan antara temuan-temuan ilmu  dengan klaim agama, moral serta seni.
Memperhatikan ungkapan di atas nampak bahwa filsafat mempunyai batasan yang lebih luas dan menyeluruh ketimbang ilmu, ini berarti bahwa apa yang sudah tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat berupaya mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri bisa dipertanyakan atau dijadikan objek kajian filsafat (Filsafat Ilmu), namun demikian filsafat dan ilmu mempunyai kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya yakni berfikir reflektif dan sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan yang berbeda.
Dengan demikian, Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak atau dogmatis. Menurut Sidi Gazlba, Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset atau eksperimen), batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatu yang di luar alam, yang disebut oleh agama Tuhan. Sementara itu Oemar Amin Hoesin mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmat. Dari sini nampak jelas bahwa ilmu dan filsafat mempunyai wilayah kajiannya sendiri-sendiri.[40]
Meskipun filsafat ilmu mempunyai substansi yang khas, namun dia merupakan bidang pengetahuan campuran yang perkembangannya tergantung pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan ilmu, oleh karena itu pemahaman bidang filsafat dan pemahaman ilmu menjadi sangat penting, terutama hubungannya yang bersifat timbal balik, meski dalam perkembangannya filsafat ilmu itu telah menjadi disiplin yang tersendiri dan otonom dilihat dari objek kajian dan telaahannya.
Perlu diketahui bahwa dasar dan jenis ilmu pengetahuan juga terkait dengan objek ilmu pengetahuan ilmiah karena suatu jenis pengetahuan umum tidak memiliki objek, bentuk pernyataan, serta ciri dan diensi khusus sebaliknya suatu pengetahuan ilmiah atau pengetahuan keilmuan (ilmu) selalu mengandalkan adanya objek keilmuan, bentuk kenyataan serta dimensi yang khusus.[41] Perintisan ilmu pengetahuan dianggap dimulai pada abad 4 S.M, karena peninggalan-peninggalan yang menggambarkan ilmu pengetahuan diketemukan mulai abad 4 S. M, yaitu perkembangan pengetahuan di Yunani.  Abad 4 S. M  merupakan abad terjadinya pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos, dari dongeng-dongeng ke analisis rasional. Contoh persepsi mitos adalah pandangan yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian misalnya adanya penyakit atau gempa bumi disebabkan perbuatan dewa-dewa. Jadi pandangan tersebut tidak bersifat rasional, sebaliknya persepsi logos adalah pandangan yang bersifat rasional.
Pengetahuan  berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Karena manusia memiliki struktur pikiran yaitu mengamati, menyelidiki, rasa percaya, adanya hasrat, maksud, mengatur, menyesuaikan dan rasa untuk menikmati. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.[42]
Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan hidup ini dia memiliki hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Mausia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makan kepada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu dalam hidupnya yang lebih tinggi dari seedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia yang disebabkan dua hal utama, yakni pertama manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan dengan cepat dan mantap adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu.
Hakikat dasar atau filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya untuk memahami makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, termasuk juga di dalamnya kriteria-kriteria ilmu pengetahuan, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam ilmu pengetahuan. Supaya lebih fokus, perlu dipertegas beberapa poin tentang filsafat ilmu pengetahuan. Ada berbagai konsep yang digunakan secara khusus oleh seorang ilmuwan, tetapi tidak dianalisis oleh ilmuwan tersebut. Misalnya, ilmuwan seringkali menggunakan konsep-konsep seperti kausalitas, hukum, teori dan metode.

4.    Orientasi Filsafat Ilmu
Setelah mengenal pengertian dan makna apa itu filsafat dan apa itu ilmu serta hubungan filsafat dan ilmu, maka pemahaman mengenai filsafat ilmu tidak akan terlalu mengalami kesulitan. Hal ini tidak berarti bahwa dalam memaknai filsafat ilmu tinggal menggabungkan kedua pengertian tersebut, sebab sebagai suatu istilah, filsafat ilmu telah mengalami perkembangan pengertian serta para akhli pun telah memberikan pengertian yang bervariasi, namun demikian pemahaman tentang makna filsafat dan makna ilmu akan sangat membantu dalam memahami pengertian dan makna filsafat ilmu (Philosophy of science).
Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan atau Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, dan axiologi dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para ahli.
Secara historis filsafat dipandang sebagai the mother of sciences atau induk segala ilmu, hal ini sejalan dengan pengakuan Descartes yang menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar ilmu diambil dari filsafat. Filsafat alam mendorong lahirnya ilmu-ilmu kealaman, filsafat sosial melahirkan ilmu-ilmu sosial, namun dalam perkembangannya dominasi ilmu sangat menonjol, bahkan ada yang menyatakan telah terjadi upaya perceraian antara filsafat dengan ilmu, meski hal itu sebenarnya hanya upaya menyembunyikan asal usulnya atau perpaduannya.
Husein Nasr menyatakan bahwa meskipun sains modern mendeklarasikan independensinya dari aliran filsafat tertentu, namun ia sendiri tetap berdasarkan sebuah pemahaman filosofis partikular baik tentang karakteristik alam maupun pengetahuan kita tentangnya, dan unsur terpenting di dalamnya adalah Cartesianisme yang tetap bertahan sebagai bagian inheren dari pandangan dunia ilmiah modern.
Dominasi ilmu terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menjadikan pemikiran-pemikiran filosofis cenderung terpinggirkan, hal ini berdampak pada cara berfikir yang sangat pragmatis-empiris dan partial, serta cenderung menganggap pemikiran radikal filosofis sebagai sesuatu yang asing dan terasa tidak praktis, padahal ilmu yang berkembang dewasa ini di dalamnya terdapat pemahaman filosofis yang mendasarinya.
Perkembangan ilmu memang telah banyak pengaruhnya bagi kehidupan manusia, berbagai kemudahan hidup telah banyak dirasakan, semua ini telah menumbuhkan keyakinan bahwa ilmu merupakan suatu sarana yang penting bagi kehidupan, bahkan lebih jauh ilmu dianggap sebagai dasar bagi suatu ukuran kebenaran. Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat didekati dengan pendekatan ilmiah, sekuat apapun upaya itu dilakukan.
Leenhouwers menyatakan walaupun ilmu pengetahuan mencari pengertian menerobos realitas sendiri, pengertian itu  hanya dicari di tataran empiris dan eksperimental. Ilmu pengetahuan membatasi kegiatannya hanya pada fenomena-fenomena, yang entah langsung atau tidak langsung, dialami dari pancaindra. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak menerobos kepada inti objeknya yang sama sekali tersembunyi dari observasi. Maka ia tidak memberi jawaban perihal kausalitas yang paling dalam.
Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa adalah sulit bahkan tidak mungkin ilmu mampu menembus batas-batas yang menjadi wilayahnya yang sangat bertumpu pada fakta empiris, memang tidak bisa dianggap sebagai kegagalan bila demikian selama klaim kebenaran yang disandangnya diberlakukan dalam wilayahnya sendiri, namun jika hal itu menutup pintu refleksi radikal terhadap ilmu maka hal ini mungkin bisa menjadi ancaman bagi upaya memahami kehidupan secara utuh dan kekayaan dimensi di dalamnya.
Meskipun dalam tahap awal perkembangan pemikiran manusia khususnya jaman Yunani kuno cikal bakal ilmu terpadu dalam filsafat, namun pada tahap selanjutnya ternyata telah melahirkan berbagai disiplin ilmu yang masing-masing mempunyai asumsi filosofisnya (khususnya tentang manusia) masing-masing.
Ilmu ekonomi memandang manusia sebagai homo economicus yakni makhluk yang mementingkan diri sendiri dan hedonis, sementara sosiologi memandang manusia sebagai homo socius yakni makhluk yang selalu ingin berkomunikasi dan bekerjasama dengan yang lain, hal ini menunjukan suatu pandangan manusia yang fragmentaris dan kontradiktif, memang diakui bahwa dengan asumsi model ini ilmu-ilmu terus berkembang dan makin terspesialisasi, dan dengan makin terspesialisasi maka analisisnya makin tajam, namun seiring dengan itu hasil-hasil penelitian ilmiah selalu berusaha untuk mampu membuat generalisasi, hal ini nampak seperti contradictio in terminis (pertentangan dalam istilah).
Eksistensi ilmu mestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah final, dia perlu dikritisi, dikaji, bukan untuk melemahkannya tapi untuk memposisikan secara tepat dalam batas wilayahnya, hal inipun dapat membantu terhindar dari memutlakkan ilmu dan menganggap ilmu dan kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran, di samping perlu terus diupayakan untuk melihat ilmu secara integral bergandengan dengan dimensi dan bidang lain yang hidup dan berkembang dalam memperadab manusia. Dalam hubungan ini filsafat ilmu akan membukakan wawasan tentang bagaimana sebenarnya substansi ilmu itu, hal ini karena filsafat ilmu merupakan pengkajian lanjutan, yang menurut Beerleng, sebagai refleksi sekunder atas illmu dan ini merupakan syarat mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai berai serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu yang ada, melalui pemahaman tentang asas-asas, latar belakang serta hubungan yang dimiliki/dilaksanakan oleh suatu kegiatan ilmiah.

5.    Perkembangan   Filsafat   Ilmu  
Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak perang dunia ke 2 yang telah menghancurkan kehidupan manusia, para Ilmuwan makin menyadari bahwa perkembangan ilmu dan pencapaiannya telah mengakibatkan banyak penderitaan manusia, ini tidak terlepas  dari pengembangan ilmu dan teknologi  yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai moral serta komitmen etis dan agamis pada nasib manusia, padahal Albert Einstein pada tahun 1938 dalam pesannya pada Mahasiswa California Institute of Technology mengatakan: “Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan  perhatian pada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda, agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan.”[43] Akan tetapi penjatuhan bom di Hirosima dan Nagasaki tahun 1945 menunjukan bahwa perkembangan iptek telah mengakibatkan kesengsaraan manusia, meski disadari  tidak semua hasil pencapaian iptek  demikian, namun hal itu telah mencoreng  ilmu dan menyimpang dari pesan Albert Einstein, sehingga hal itu telah menimbulkan keprihatinan filosof tentang arah kemajuan peradaban manusia sebagai akibat perkembangan ilmu. Untuk itu nampaknya para filosof dan ilmuan perlu merenungi apa yang dikemukakan Harold H Titus  dalam bukunya Living Issues in Pilosophy beliau mengutip  beberapa pendapat cendikiawan seperti Northrop yang mengatakan “it would seem that the more civilized we become, the more incapable of maintaining civilization we are”, demikian juga pernyataan Lewis Mumford yang berbicara tentang “the invisible breakdown in our civiliozation : erosion of value, the dissipation of human purpose, the denial of any dictinction between good and bad, right or wrong, the reversion to sub human conduct.”
Ungkapan tersebut di atas hanya untuk menunjukan bahwa memasuki dasawarsa 1960-an kecenderungan mempertanyakan manfaat ilmu menjadi hal yang penting, sehingga pada periode ini (1960-1970)  dimensi aksiologis menjadi perhatian para filosof, hal ini tak lain  untuk meniupkan ruh etis dan agamis pada ilmu, agar pemanfaatannya dapat menjadi berkah bagi manusia dan kemanusiaan, sehingga telaah pada fakta empiris berkembang ke pencarian makna dibaliknya atau seperti yang dikemukakan oleh Ismaun dari telaah positivistik ke telaah meta-science yang dimulai sejak tahun 1965.
Memasuki tahun 1970-an, pencarian makna ilmu mulai berkembang khususnya di kalangan pemikir muslim, bahkan pada dasawarsa ini lahir gerakan islamisasi ilmu, hal ini tidak terlepas dari sikap apologetik umat islam terhadap kemajuan barat, sampai-sampai ada ide untuk melakukan sekularisasi, seperti yang dilontarkan oleh Nurcholis Majid pada tahun 1974 yang kemudian banyak mendapat reaksi keras dari pemikir-pemikir Islam  seperti dari H.M Rasyidi dan Endang Saifudin Anshori.
Mulai awal tahun 1980-an, makin banyak karya cendekiawan muslim yang berbicara  tentang integrasi ilmu dan agama atau islamisasi ilmu, seperti terlihat dari berbagai karya mereka yang mencakup  variasi ilmu seperti karya Ilyas Ba Yunus tentang Sosiologi Islam, serta karya-karya dibidang ekonomi, seperti  karya Syed Haider Naqvi Etika dan Ilmu Ekonomi, karya Umar Chapra Al Qur’an, menuju sistem moneter yang adil, dan karya-karya lainnya , yang pada intinya semua itu merupakan upaya penulisnya untuk menjadikan ilmu-ilmu tersebut mempunyai landasan nilai islam.
Memasuki tahun 1990-an, khususnya di Indosesia  perbincangan filsafat diramaikan dengan wacana post modernisme, sebagai suatu kritik terhadap modernisme yang berbasis positivisme  yang sering mengklaim universalitas ilmu, juga diskursus post modernisme memasuki kajian-kajian agama. Post modernisme yang sering dihubungkan dengan Michael Foccault dan Derrida dengan beberapa konsep/paradigma yang kontradiktif dengan modernisme seperti  dekonstruksi, desentralisasi, nihilisme dsb, yang pada dasarnya ingin menempatkan narasi-narasi kecil  ketimbang narasi-narasi besar, namun post modernisme mendapat kritik keras dari Ernest Gellner dalam bukunya Post modernism, Reason and Religion yang terbit pada tahun1992. Dia menyatakan bahwa post modernisme akan menjurus pada relativisme dan untuk itu dia mengajukan konsep fundamentalisme rasionalis, karena rasionalitas merupakan standar yang berlaku lintas budaya. Disamping itu gerakan meniupkan nilai-nilai agama pada ilmu makin berkembang, bahkan untuk Indonesia disambut hangat oleh ulama dan masyarakat yang pada dasarnya hal ini tidak terlepas dari gerakan islamisasi ilmu, khususnya dalam bidang ilmu ekonomi. Dan pada periode ini pula teknologi informasi sangat luar biasa, berakibat pada makin pluralnya perbincangan atau diskursus filsafat, sehingga sulit menentukan diskursus mana yang paling menonjol, hal ini mungkin sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Alvin Tofler sebagai The third Wave, dimana informasi makin cepat memasuki berbagai belahan dunia yang pada gilirannya akan mengakibatkan kejutan-kejutan budaya tak terkecuali bidang pemikiran filsafat.
Meskipun nampaknya prkembangan Filsafat ilmu erat kaitan dengan dimensi axiologi atau nilai-nilai pemanfaatan ilmu, namun dalam perkembangannya keadaan tersebut telah juga mendorong para akhli untuk lebih mencermati apa sebenarnya ilmu itu atau apa hakekat ilmu, mengingat dimensi ontologis sebenarnya punya kaitan dengan dimensi-dimensi lainnya seperti ontologi dan epistemologi, sehingga dua dimensi yang terakhir pun mendapat evaluasi ulang dan pengkajian yang serius.
Salah satu tonggak penting dalam bidang kajian ilmu (filsafat ilmu) adalah terbitnya Buku The Structure of Scientific Revolution  yang ditulis oleh Thomas S Kuhn, yang untuk pertama kalinya  terbit tahun 1962, buku ini merupakan sebuah  karya yang monumental mengenai  perkembangan sejarah  dan filsafat sains, di mana di dalamnya paradigma menjadi konsep sentral, disamping konsep sains/ilmu normal. Dalam pandangan Kuhn ilmu pengetahuan tidak hanya pengumpulan fakta untuk membuktikan suatu teori, sebab selalu ada anomali yang dapat mematahkan teori yang telah dominan.
Pencapaian-pencapaian manusia dalam bidang pemikiran ilmiah telah menghasilkan teori-teori, kemudian teori-teori  terspesifikasikan berdasarkan karakteristik tertentu  ke dalam suatu Ilmu. Ilmu (teori) tersebut kemudian dikembangkan, diuji sehingga menjadi mapan dan menjadi dasar bagi riset-riset  selanjutnya, maka Ilmu (sains) tersebut menjadi sains normal yaitu riset yang dengan teguh berdasar atas suatu pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat  ilmiah tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fundasi bagi praktek (riset) oleh Thomas S Kuhn.
Pencapaian pemikiran ilmiah tersebut dan terbentuknya sains yang normal kemudian menjadi paradigma, yang berarti “apa yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat sains dan sebaliknya masyarakat sains terdiri atas orang yang memiliki suatu paradigma tertentu. Paradigma dari sains yang normal kemudian mendorong riset normal yang cenderung sedikit sekali ditujukan untuk menghasilkan penemuan baru yang  konseptual atau yang hebat. Ini berakibat bahwa sains yang normal, kegunaannya  sangat bermanfaat dan bersifat kumulatif. Teori yang memperoleh pengakuan sosial akan menjadi paradigma, dan kondisi ini merupakan periode ilmu normal.
Kemajuan ilmu berawal dari perjuangan kompetisi berbagai teori untuk mendapat pengakuan intersubjektif dari suatu masyarakat ilmu. Dalam periode sain normal ilmu hanyalah merupakan pembenaran-pembenaran sesuai dengan asumsi-asumsi paaradigma yang dianut masyarakat tersebut, ini tidak lain dikarenakan paradigma yang berlaku telah menjadi patokan bagi ilmu untuk melakukan penelitian, memecahkan masalah, atau bahkan menyeleksi masalah-masalah yang layak  dibicarakan dan dikaji. Akan tetapi di dalam perkembangan selanjutnya ilmuwan banyak menemukan hal-hal baru yang sering mengejutkan, semua ini diawali dengan  kesadaran akan anomali atas prediksi-prediksi paradigma sains normal, kemudian pandangan yang anomali ini dikembangkan sampai akhirnya ditemukan paradigma baru yang mana perubahan ini sering sangat revolusioner. Paradigma baru tersebut kemudian melahirkan sain normal yang baru sampai ditemukan lagi paradigma baru berikutnya. Bila digambarkan nampak sebagai berikut:[44]

Pencapaian Manusia dalam pemikiran ilmiah


Sains Normal


Paradigma


Anomali


Perubahan paradigma atau revolusi sains


Sains Normal yang baru


Paradigma Baru

Pencapaian sain normal dan paradigma  baru bukanlah akhir, tapi menjadi awal bagi proses perubahan paradigma dan revolusi sains berikutnya, bila terdapat anomali atas prediksi sains normal yang baru tersebut. Pendapat Kuhn tersebut pada dasarnya mengindikasikan bahwa secara substansial kebenaran ilmu bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan, suatu paradigma yang berlaku pada suatu saat, pada saat yang lain bisa tergantikan dengan paradigma baru yang telah mendapat pengakuan dari masyarakat ilmiah, itu berarti suatu teori sifatnya sangat tentatif sekali.

6.    Cakupan Filsafat Ilmu
Peter Angeles mengemukakan ada empat bidang konsentrasi utama dalam filsafat ilmu yaitu: (a) telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggapan dan metode ilmu berikutnya ada analisis, perluasan dan penyusunannya untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang lebih cermat. (b) Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya. (c) Telaah mengenai keterkaitan antar berbagai ilmu. (d) Telaah mengenai akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, entitas, teoritis, sumber dan keabsahan pengetahuan serta sifat dasar pengetahuan.[45]
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
a.      Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut?. Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan? (Landasan ontologis)
b.      Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
c.      Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral atau profesional? (Landasan aksiologis). [46]

Sedangkan di dalam introduction-nya  Stathis Psillos and martin Curd menjelaskan bahwa filsafat ilmu secara umum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi :
a.      Apa tujuan dari ilmu  dan apa itu metode? jelasnya apakah ilmu itu bagaimana membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?
b.      Bagaimana teori ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas? bagaiman konsep teoritik itu dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan penelitian dan observasi ilmiah?
c.      Apa saja yang membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti misalnya  causation(sebab-akibat dan illat), eksplanasi (penjelasan), konfirmasi, teori, eksperimen, model, reduksi dan sejumlah probabilitas-probalitasnya?.
d.      Apa saja aturan-aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen ? apakah ada kegunaan dan memiliki nilai  (yang mencakupkegunaan epistemic atau pragmatis) dalam kebijakan  dan bagaimana semua itu dihubungkan dengan kehidupan social, budaya dan factor-faktor gender? [47]

Berdasarkan paparan di atas dipertegas bahwa filsafat ilmu itu memiliki lingkup pembahasan yang meliputi: cakupan pembahasan landasan ontologis ilmu, pembahasan mengenai landasan epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari sebuah ilmu.[48]

7.    Objek Filsafat Ilmu
Ilmu filsafat memiliki objek material dan objek formal.  Objek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan. Objek material adalah objek yang di jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yakni pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.[49]
Objek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas objek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat ilmu.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya. Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi  (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. Semua manusia ingin mengetahui, itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Objek materialnya adalah gejala manusia tahu.  Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali kebenaran versus kepalsuan, kepastian versus ketidakpastian, objektivitas versus subyektivitas, abstraksi, intuisi dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan. Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi objek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan. Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti. Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya, yang menyangkut asal usul, struktur, metode,  dan validitas ilmu.[50] Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia.

8.    Metode Filsafat Ilmu
Fuad Ikhsan mengemukakan pendapat Runes dalam Dictionary of Philosophy sebagaimana dikutip Anton Baker, dia mengatakan sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode filsafat yang berbeda dan jelas. Setidaknya dalam sejarah tercatat palinng penting yang dapat disusun menurut garis historis sedikitnya sepuluh metode yang digunakan dalam filsafat termasuk dalam filsafat ilmu, yaitu:[51]
a.      Metode kritis yang dikembangkan oleh Socrates dan Plato. Metode ini bersifat analisis terhadap istilah dan pendapat. Metode ini dikenal merupakan metode hermeneutika.
b.      Metode intuitif yang dikembangkan oleh Plotinos dan Bergson dengan jalan intropeksi bersama dengan persucan moral, sehingga tercapai suatu penerangan atau pencerahan pikiran.
c.      Metode skolastik yang dikembangkan oleh Aristoteles, Thomas Aquinas dan termasuk aliran filsafat abad pertengahan yang bersifat sintesis deduktif. Karakter filsafat abad pertengahan ini yaitu dengan bertitik tolak dari defenisi atau prinsip yang jelas kemudian ditarik kesimpulan.
d.      Metode filsafat Rene Descartes dan pengikutnya yang dikenal metode yang bertolak dari analisis mengenai hal-hal kompleks kemudian dicapai intuisi akan hakikat yang sederhana dan lebih terang.
e.      Metode geometri yang dikreasikan Rene Descartes dan pengikutnya. Menurutnya hanyalah pengalaman yang menyajikan pengertian benar, maka semua pengertia dan ide dalam intropeksi kemudian dibandingkan dengan serapan-serapan atau impresi dan kemudian disusun bersama secara geometris.
f.       Metode transedental yang dikreasikan Immanuel Kant, metode ini dikenal juga dengan metode neo-skolastik yang bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu yaitu jaan analisis yang diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian yang sedemikian rumit atau kompleks.
g.      Metode fenomenologis dari Husserl yaitu eksistensialisme yaitu metode dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenomena dalam kesadaran sehigga mencapai penglihatan hakikat yang murni.
h.     Metode dialektis dari Hegel dan Marx yakni metode yang digunakan dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam berpikir sendiri.
i.       Metode neopositivistis yaitu bahwa kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan menggunakan aturan-aturan seprti berlaku dalam ilmu pengetahuan positif (eksakta).
j.        Metode analitika yang dikreasikan oleh Wittgenstein. Metode ini digunakan dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari menentukan sah tidaknya ucapan filosofis, menurutnya bahasa merupakan bola permainan makna si pemiliknya.

9.    Tujuan Filsafat Ilmu
Salah satu yang terpenting dalam filsafat termasuk filsafat ilmu yaitu menyangkut pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan itu, baik pertanyaan yang bersifat komperhensif maupun spesifik. Hal ini sepandangan dengan Stathis Psillos and Martin Curd, dia mengatakan bahwa filsafat ilmu secara umum yaitu bertujuan menjawab pertanyaan seputar ilmu yang meliputi: menjelaskan bahwa filsafat ilmu secara umum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi:
a.      Apa tujuan dari ilmu  dan apa itu metode? Jelaskan apakah ilmu itu bagaimana membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?
b.      Bagaimana teori ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas?. Bagaimana konsep teoritik itu dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan penelitian dan observasi ilmiah?
c.      Apa saja yang membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti misalnya causation (sebab-akibat dan illat), eksplanasi (penjelasan), konfirmasi, teori, eksperimen, model, reduksi dan sejumlah probabilitasnya?.
d.      Apa saja aturan-aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen? Apakah ada kegunaan epistemic atau pragmatis dalam kebijakan dan bagaimana semua itu dihubungkan dengan kehidupan social, budaya dan factor-faktor gender?[52]

Upaya untuk memahami tentang tujuan filsafat ilmu secara lebih jauh, maka harus lebih dipahami bagaimana cara kerja filsafat ilmu, memiliki pola dan model yang spesifik dalam menggali dan menelaah pengetahuan melalui sebab musabab dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup pemahaman tentang kepastian, kebenaran dan objektivitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada gejala pengetahuan mengadakan reduksi ke arah intusi para ilmuan sehingga kegiatan ilmu itu dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing, disinilah akhirnya kita dapat mengerti fungsi dan tujuan filsafat ilmu.
Cara kerja filsafat ilmu  memiliki pola dan model-model yang spesifik dalam menggali dan meneliti dalam menggali pengetahuan  melalui sebab musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup paham tentang kepastian, kebenaran dan objektifitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada gejala-gejala  pengetahuan mengadakan reduksi ke arah intuisi para ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu-ilmu itu dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing.[53] Di sinilah akhirnya kita dapat mengerti fungsi dari  filsafat ilmu. Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni:[54]
a.      Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
b.      Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
c.      Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
d.      Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan.
e.      Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.

Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah:[55]
a.      Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual.
b.      Kritis terhadap aktivitas ilmu atau keilmuan.
c.      Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu).
d.      Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional.
e.      Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid.
f.       Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual).

10.  Fungsi dan Manfaat Filsafat Ilmu
Cara kerja filsafat ilmu  memiliki pola dan model-model yang spesifik dalam menggali dan meneliti dalam menggali pengetahuan  melalui sebab musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup paham tentang kepastian, kebenaran, dan obyektifitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada gejala-gejala  pengetahuan mengadakan reduksi ke arah intuisi para ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu-ilmu itu dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing [56] disinilah akhirnya kita dapat mengerti fungsi dari  filsafat ilmu.
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
a.      Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
b.      Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
c.      Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
d.      Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
e.      Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Jadi, Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah
a.      Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
b.      Kritis terhadap aktivitas ilmu/keilmuan
c.      Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
d.      Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional
e.      Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid
f.       Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)

C.   KESIMPULAN
1.     Hakikat filsafat ilmu selain sebagai patokan, penentu, sekaligus petunjuk arah kemana ilmu pengetahuan akan berlayar atau berjalan juga filsafat ilmu menentukan kemana ilmu pengetahuan akan diantarkan atau dikembangkan. Filsafat ilmu merupakan kreativitas seorang filsuf dengan keilmuannya yang menggunakan logika berpikir dalam melahirkan ilmu pengetahuan yang beragam pada sebuah pohon ilmu kemudian mengantarkan dan mengembangkannya menjadi cabang yang banyak secara mandiri.
2.     Filsafat ilmu yaitu untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan yang menyangkut: apa perbedaan ilmiah karakteristik tipe masing-masing ilmu. Kamudian prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian. Apa yang semestinya dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Selanjutnya apakah teori itu dapat diambil sebagai konsep dari prinsip-prinsip ilmiah.
3.     Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan atau Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, dan axiologi dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.
4.     Peter Angeles mengemukakan ada empat bidang konsentrasi utama dalam filsafat ilmu yaitu: (a) telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggapan dan metode ilmu berikutnya ada analisis, perluasan dan penyusunannya untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang lebih cermat. (b) Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya. (c) Telaah mengenai keterkaitan antar berbagai ilmu. (d) Telaah mengenai akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, entitas, teoritis, sumber dan keabsahan pengetahuan serta sifat dasar pengetahuan.
5.     Ilmu filsafat memiliki objek material dan objek formal, sedangkan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Syadali dan Mudzakir. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia, 1997.
Amsal Bakhtiar. FIlsafat ilmu. Jakarta: Raja Grafindo. 2006.
Departemen Agama. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama. 1974.
Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2007.
Harun Nasution. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Jakarta: UIP. 1985.
JB. Blikolong. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Seri diktat kuliah. Jakarta: Universitas Gunadarma. Download Document 9 September 2014.
Jujun S Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2001.
Juraid Abdul Latif. Manusia Filsafat dan Sejarah. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.
Losee, John, A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition, London: Oxford University Press, t.th.
Lukkisno CW. Pengantar Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi  kuliah Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel. Download Document 9 September 2014.
M. Solihin. Perkembangan Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Modern. Bandung: Pustaka Setia. 2007.
Made Pramono. Filsafat Ilmu. Bahan Presentasi Pascasarjana UNESA. Dowload Document 9 September 2014.
Mohammad Adib. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Muhdhor Achmad. Ilmu dan Keingintahuan. Bandung: Trigendakarya. 1994.
Muhlisin, Filsafat dan Filsafat Ilmu, Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2010.
Mukhtar Latif. Orientasi ke Arah Filsafat Ilmu. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. 2014.
Prasetyo, Flsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia. 2002.
Preus, Anthony Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy, The Scarecrow Press, Inc. Lanham, Maryland Toronto Plymouth, UK. 2007.
Psillos, Stathis and Martin Curd, Introduction: Historical and philosophical Context, Canada: Routledge. 2008.
Ravertz, Jerome R. Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang  lingkup Bahasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.
Rosenberg, Alex. Philosophy of Science  A contemporary Iintroduction, New York: Routledge. 2010.
Uhar Suharsaputra. Filsafat Ilmu Jilid I. Jakarta: Universitas Kuningan, 2004.
Verhaak C. Dkk. FIlsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia. 1995.


[1] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 10.
[2] Mukhtar Latif, Orientasi ke Arah Filsafat Ilmu (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,   2014), hal. 17-18.
[3]  Ibid.
[4] Juraid Abdul Latif, Manusia Filsafar dan Sejarah,(Jakarta;Bumi Aksara, 2006)  13
[5] Amsal bakhtiar , FIlsafat ilmu  ,(Jakart;Raja Grafindo, 2006), hal.1.
[6] M.Solihin,M.Ag, Perkembangan Pemikiran  Filsafat dari Klasik Hingga Modern, (Bandung;Pustaka Setia, 2007) 23
[7] Pelopor rasionalisme diantaranya Rene Descartes(1596-1650) dengan konsep co gito ergu sum, Spinoza (1632-1677) ia merumuskan definisi, aksioma-aksioma, proposisi dan penyimpulan dalam bidang kajian logika ilmu dan Leibniz(1646- 1716) ia menulis tentang Monadology
[8] Tokoh pemikiran  Empirisme adalah F.Bacon (1210-1292) T.Hobbes(1588-1679) john lock(1632-1704) dan David Hume (1711-1776)  dan herbert Spencer (1820-1903)
[9] Tokoh aliran positivisme ini  ialah Agus compte (1798 – 1857) konsepsinya mengatakan bahwa indera itu alat penting dalam proses pengetahuan ilmu dan harus dipertajam dengan eksperimen.
[10] Loc. Cit., Mukhtar Latif.
[11] Juraid Abdul Latif, Manusia Filsafat dan Sejarah (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal.13.
[12]  Amsal bakhtiar, FIlsafat ilmu (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hal. 1.
[13]  M.Solihin, Perkembangan Pemikiran  Filsafat dari Klasik Hingga Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 23.
[14]   Pelopor rasionalisme diantaranya Rene Descartes (1596-1650) dengan konsep co gito ergu sum, Spinoza (1632-1677) ia merumuskan definisi, aksioma-aksioma, proposisi dan penyimpulan dalam bidang kajian logika ilmu dan Leibniz (1646- 1716) ia menulis tentang Monadology.
[15]   Tokoh pemikiran  Empirisme adalah F. Bacon (1210-1292), T.Hobbes (1588-1679), John lock (1632-1704), David Hume (1711-1776)  dan Herbert Spencer (1820-1903).
[16] Tokoh aliran positivisme adalah Agus compte (1798 – 1857) konsepsinya mengatakan bahwa indera itu alat penting dalam proses pengetahuan ilmu dan harus dipertajam dengan eksperimen.
[17]  Op. Cit. Mukhtar Latif, hal. 18-20.
[18] Lukkisno CW, Pengantar Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi  kuliah Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel. Download Document 9 September 2014.
[19] Made Pramono, Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi Pascasarjana UNESA. Dowload Document 9 September 2014.
[20] Anthony Preus, Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy (The Scarecrow Press, Inc. Lanham, Maryland Toronto Plymouth, UK, 2007, hal 97.
[21] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Pustaka setia: Bandung, 2007), hal. 11.
[22] Ahmad Syadali dan Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hal. 12.
[23] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya (Jakarta; UIP,1985), hal. 46.
[24] Amsal bakhtiar, FIlsafat ilmu (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hal 5.
[25] Pada kajian pesantren banyak kitab-kitab klasik mengungkapkan kalimat-kalimat tersebut, misalnya kitab Al-Hikam, kitab Nashoihul Ibad, kitab Tanbihul Ghofilin, Al Ghunyah, Ihya’ulumuddin dan lain sebagainya. Dalam kajian-kajian  kitab-kitab tersebut sering kali disebut dengan ilmu hikmah, dengan menggunakan kalimat yang sama dapat ditemukan juga sebuah buku dengan judul ilmu hikmah yang dikarang oleh Kharisudin Aqib, yang merupakan hasil tesis yang didalamnya merupakan penelitian konsep-konsep akhlaq-tasawwuf thareqah sufistik pesantren Suryalaya Tasikmalaya.
[26]  Departemen Agama,  Al Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Departemen Agama, 1974), hal. 421.
[27]  Op. Cit., Amsal Bakhtiar, hal. 1.
[28]   Prasetyo, Flsafat Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 10.
[29] Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu ;sebuah pengantar popular (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001), hal. 32.
[30] Aliran-aliran filsafat sangat banyak sekali, masing-masing literature sangat beragam dalam menjelaskan jumlah aliran dalam filsafat misalnya aliran eksistensialisme, fenomenologi, nihilisme, materialisme dan sebagainya. 
[31] Op. Cit., Ahmad Syadali dan Mudzakir, hal. 12.
[32]  M. Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 15.
[33]   Alex Rosenberg, Philosophy of Science  A contemporary Iintroduction, (New york: Routledge, 2010), hal. 4.
[34] Muhdhor Achmad, Ilmu dan Keingintahuan, (Bandung: Trigendakarya,1994), hal. 61-85.
[35] Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang  lingkup Bahasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 86.
[36] Op. Cit., Mukhtar Latif, hal. 23-25.
[37] Op. Cit., Mukhtar Latif, hal. 24-25.
[38] John Losee, A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition, (London: Oxford University Press), hal. 2.
[39]   Ibid.
[40] Uhar Suharsaputra, Filsafat Ilmu Jilid I, (Jakarta: Universitas Kuningan, 2004), hal. 91-92.
[41] Ibid., hal. 82.
[42] Ibid., hal. 26-28.
[43] Op. Cit., Jujun S.Suriasumantri, hal. 249.
[44] Op. Cit., Uhar Suharsaputra, hal. 85.
[45] Op. Cit., Mukhtar Latif, hal. 25-26.
[46] Op. Cit., Jujun S. Suriasumantri, hal. 33.
[47]    Stathis Psillos and Martin Curd, Introduction: Historical and Philosophical Context, Canada: Routledge, 2008) XIX
[48] Op. Cit., Amsal Bakhtiar, hal. 17-18.
[49] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 53.
[50] JB. Blikolong, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Seri diktat kuliah (Jakarta: Universitas Gunadarma), hal. 7. Download Document 9 September 2014.
[51] Op. Cit., Mukhtar Latif, hal. 35-36.
[52] Stathis Psillos and Martin Curd, Introduction: Historical and philosophical Context (Canada: Routledge, 2008), hal. xix.
[53]  C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia, 1995), hal. 107-108.
[54] Ibid.
[55] Muhlisin, Filsafat dan Filsafat Ilmu (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2010), hal. 12-13.
[56]  C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan,(Jakarta; Gramedia, 1995) 107-108

No comments:

Post a Comment