FILSAFAT ILMU SUATU PENGANTAR
(PENGERTIAN, CAKUPAN, METODE, TUJUAN)
A.
PENDAHULUAN
Tugas Ujian Akhir
Semester mata kuliah filsafat ilmu lanjutan adalah memperbaiki makalah yang
sudah dipersentasikan berdasarkan hasil diskusi dengan teman-teman dan saran
dari dosen pengampu. Pada makalah ini ada beberapa hal yang diperbaiki yaitu
cakupan, metode dan tujuan dalam pembahasan filsafat ilmu suatu pengantar.
Semua cabang ilmu
pegetahuan hakikatnya berdasarkan filsafat, seringkali disebut oleh sejumlah pakar
sebagai induk semang dari ilmu-ilmu[1]. Filsafat merupakan disiplin
ilmu yang berusaha untuk menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan
manusia secara tepat dan lebih memadai. Filsafat telah mengantarkan
pada sebuah fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk sebuah
konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar dan bercabang secara subur
sebagai sebuah fenomena kemanusiaan. Masing-masing cabang pada tahap
selanjutnya melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan
masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.[2]
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin
lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang
akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan
yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi. Ilmu pengetahuan hakekatnya dapat
dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari
ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan dengan
patokan-patokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.[3] Pengetahuan ilmiah atau
ilmu merupakan a higher level of
knowledge, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan
filsafat umum. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek
sasarannya Ilmu (pengetahuan).
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin
lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru dengan berbagai disiplin yang
akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru kearah ilmu pengetahuan
yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan
hakekatnya dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas
(konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan
dengan patokan-patokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.
Dalam kajian sejarah dapat dijelaskan
bahwa perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan[4].
Sejak zaman kuno, pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan sebuah
cara pandang terhadap gejala alam dengan berbagai variasinya. Proses
perkembangan dari berbagai fase kehidupan primitip–klasik dan kuno menuju manusia modern telah melahirkan
lompatan pergeseran yang sangat signifikan pada masing-masing zaman. Disinilah
pemikiran filosofis telah mengantarkan umat manusia dari mitologi oriented pada satu arah menuju pola pikir ilmiah ariented, perubahan dari pola
pikir mitosentris ke logosentris dalam berbagai segmentasi
kehidupan.[5]
Corak dari pemikiran bersifat
mitologis (keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan saja) terjadi
pada dekade awal sejarah manusia. Namun setelah adanya demitologisasi oleh
para pemikir alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-528 SM),
Phitagoras (532 SM), Heraklitos (535-475 SM), Parminides (540-475 SM) serta
banyak lagi pemikir lainnya, maka pemikiran filsafat berkembang secara cepat
kearah kemegahanya diikuti oleh proses demitologisasi
menuju gerakan logosentrisme[6].
Demitologisasi tersebut disebabkan oleh arus besar gerakan rasionalisme[7],
empirisme[8]
dan positivisme[9]
yang dipelopori oleh para pakar dan pemikir
kontemporer yang akhirnya mengantarkan kehidupan manusia pada tataran era modernitas yang
berbasis pada pengetahuan ilmiah.
Pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan
“a higher level of knowledge”, maka
lahirlah filsafat
ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat umum. Filsafat ilmu sebagai cabang
filsafat menempatkan objek sasarannya Ilmu (Pengetahuan). Permasalahan yang
akan kita jelajahi dalam penulisan makalah ini difokuskan pada pembahasan
tentang: Filsafat dan Filsafat Ilmu Sebagai upaya konseptualisasi dan
identifikasi. Disini dipaparkan deskripsi awal tentang sejumlah kajian yang
menyangkut tentang subbab-subbab yakni pengertian Filsafat, Definisi filsafat
ilmu, Obyek material dan formal filsafat ilmu, Lingkup filsafat ilmu dan
subsatnsi permasalahan problem-problem
filsafat ilmu
B.
PEMBAHASAN
1.
Hakikat
Filsafat Ilmu
Hakikat filsafat ilmu selain sebagai patokan,
penentu, sekaligus petunjuk arah kemana ilmu pengetahuan akan berlayar atau
berjalan juga filsafat ilmu menentukan kemana ilmu pengetahuan akan diantarkan
atau dikembangkan. Filsafat ilmu merupakan kreativitas seorang filsuf dengan
keilmuannya yang menggunakan logika berpikir dalam melahirkan ilmu pengetahuan
yang beragam pada sebuah pohon ilmu kemudian mengantarkan dan mengembangkannya
menjadi cabang yang banyak secara mandiri.[10]
Pada kajian sejarah dapat dijelaskan bahwa
perjalanan manusia telah mengantarkan dalam berbagai fase kehidupan.[11] Sejak zaman kuno,
pertengahan dan modern sekarang ini telah melahirkan sebuah cara pandang
terhadap gejala alam dengan berbagai variasinya. Proses perkembangan dari
berbagai fase kehidupan primitif-klasik dan
kuno menuju manusia modern telah melahirkan lompatan pergeseran yang
sangat signifikan pada masing-masing zaman. Disinilah pemikiran filosofis telah
mengantarkan umat manusia dari mitologi
oriented pada satu arah menuju pola pikir ilmiah ariented, perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris dalam
berbagai segmentasi kehidupan.[12]
Corak dari pemikiran bersifat mitologis
(keteranganya didasarkan atas mitos dan kepercayaan saja) terjadi pada dekade
awal sejarah manusia. Namun setelah adanya demitologisasi oleh para
pemikir alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-528 SM), Phitagoras
(532 SM), Heraklitos (535-475 SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainnya, maka pemikiran filsafat berkembang secara cepat ke arah
kemegahannya diikuti oleh proses demitologisasi
menuju gerakan logosentrisme.[13] Demitologisasi tersebut
disebabkan oleh arus besar gerakan rasionalisme[14], empirisme[15] dan positivisme[16] yang dipelopori oleh para
pakar dan pemikir kontemporer yang akhirnya mengantarkan kehidupan manusia pada tataran era modernitas yang
berbasis pada pengetahuan ilmiah.
Para filosof mengartikan filsafat
berbeda-beda, Pytagoras mengartikan filsafat sebagai pecinta kebijaksanaan.
Plato mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai
kebenaran yang hakiki lewat dialektika. Aristoteles mendefenisikan filsafat
sabagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang Tuhan, alam dan manusia. Al-Farabi
mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan aam wujud dan haikat alam yang
sebenarnya. Sayyid Ar-Rhadi menyatakan guru dari semua filsuf Islam ialah Imam
Ali bin Abi Thalb r.a. Ini tercermin dalam bukunya yang berjudul Nahjul Balaghah yang berisi kumpulan
khotbah Ali bi Abi Thalib dengan muatan filsafat ketuhanan, metafiska, etika,
estetika dan filsafat ilmu.[17]
Problem filsafat Ilmu dibicarakan sejajar
dengan diskusi yang berkaitan dengan landasan pengembangan ilmu pengetahuan
yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Untuk Telaah tentang
problema substansi Filsafat Ilmu yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1)
fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika
inferensi.[18]
Permasalahan atau problema filsafat
ilmu mancakup: pertama
problem ontologi ilmu; perkembangan
dan kebenaran ilmu sesungguhnya bertumpu
pada landasan ontologis
(apa yang terjadi yaitu eksistensi suatu
entitas) Kedua, Problem epistemologi adalah bahasan
tentang asal muasal,
sifat alami, batasan (konsep), asumsi,
landasan berfikir,
validitas, reliabilitas sampai
soal kebenaran (bagaimana
ilmu diturunkan dan metode untuk menghasilkan kebenaran) Ketiga, Problem aksiologi yaitu implikasi etis, aspek estetis, pemaparan serta penafsiran mengenai peranan
(manfaat) ilmu dalam peradaban manusia.
Ketiganya digunakan sebagai landasan penelaahan ilmu.[19]
2.
Pengertian
Filsafat Ilmu
a.
Filsafat
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata
serapan
dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa
Yunani yaitu philosophia.[20]
Dalam bahasa Yunani, kata ini merupakan kata majemuk dan
berasal dari kata-kata philia yang berarti persahabatan, cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga
arti lughowi-nya (semantic)
adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sejajar dengan kata filsafat, kata
filosofi juga dikenal di Indonesia dalam maknanya yang cukup luas dan sering
digunakan oleh semua kalangan.
Ada juga yang mengurainya dengan kata philare[21]
atau philo yang berarti cinta dalam arti yang luas yaitu ingin dan karena itu lalu
berusaha untuk mencapai yang diinginkan itu. Kemudian
dirangkai dengan kata sophia artinya kebijakan, pandai dan pengertian
yang mendalam. Dengan
mengacu pada konsepsi ini maka dipahami bahwa filsafat dapat diartikan sebagai
sebuah perwujudan dari keinginan untuk mencapai pandai dan cinta pada kabijakan.[22]
Seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf. Definisi kata filsafat
bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa
dikatakan bahwa filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena
kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis, mendeteksi problem secara radikal,
mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk
solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah
proses kerja ilmiah.
Harun Nasution memberikan satu
penegasan bahwa filsafat dalam khazanah Islam menggunakan rujukan kata yakni
falsafah.[23] Istilah filsafat berasal
dari bahasa Arab, karena bangsa Arab
lebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia dibanding dengan
bahasa-bahasa
lain ke tanah air Indonesia. Oleh
karena itu,
konsistensi yang patut dibangun adalah penyebutan filsafat dengan kata falsafat.[24]
Kajian filsafat dalam wacana muslim
juga sering menggunakan kalimat padanan Hikmah sehingga ilmu filsafat
dipadankan dengan ilmu hikmah. Hikmah
digunakan sebagai bentuk ungkapan untuk menyebut makna kearifan,
kebijaksanaan, sehingga
dalam berbagai literatur
kitab-kitab klasik dikatakan bahwa orang yang ahli kearifan disebut Hukama’.
Seringkali pula ketika dikaji dalam berbagai literatur kitab-kitab pesantren
muncul ungkapan-ungkapan dalam sebuah tema dengan konsep yang dalam bahasa Arab
misalnya kalimat ‘wa qala min ba’di al hukama….”[25] dan juga sejajar dengan
kata al-hakim yang mengandung arti
bijaksana. Misalnya ayat:
(#qä9$s% y7oY»ysö6ß w zNù=Ïæ !$uZs9 wÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOÅ3ptø:$# ÇÌËÈ
Artinya: Mereka menjawab: "Maha suci Engkau,
tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada
kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah: 32).
äí÷$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Artinya: Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An Nahl: 125).
Hikmah ialah perkataan yang tegas dan
benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.[26] Sementara dalam Al-Jurjani, sebagaimana dikutip Amsal
Bakhtiar memberikan
penjelasan tentang hikmah, yaitu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada
menurut kadar kemampuan manusia.[27]
Kata filsafat dalam bahasa
Inggris juga menggunakan
istilah philosophy yang juga berarti filsafat, yang lazim diterjemahkan
sebagai cinta kearifan. Unsur pembentuk kata ini adalah kata philos dan sophos.
Philos maknanya gemar atau cinta dan sophos artinya bijaksana atau arif (wise).[28]
Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno, filsafat berarti cinta
kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia ternyata luas sekali, sophia tidak hanya berarti
kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas,
kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan
bahkan kecerdikan dalam memutuskan soal-soal praktis yang bertumpu pangkal pada
konsep-konsep aktivitas-aktivitas awal yang disebut pseudoilmiah dalam kajian ilmu.
b.
Pengertian
Filsafat Secara Istilah
Sejumlah literatur mengungkapkan,
orang yang pertama memakai istilah philosophia
dan philosophos ialah Pytagoras
(592-497 S.M), yakni seorang ahli matematika. Pytagoras menganggap dirinya philosophos (pencinta kearifan).
Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.
Kemudian, para penulis sejarah filsafat mengakui bahwa Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Thales merupakan seorang Filsuf
yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam istilah Yunani. Menurut aliran
filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk
mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya.
Menurut sejarah kelahirannya istilah
filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap
seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus
menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak
menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk
mendapatkan kebenaran.
Timbulnya filsafat karena manusia
merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu
terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena
persoalan manusia makin kompleks. Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas,
filsafat selalu bersifat filsafat tentang sesuatu; tentang manusia, tentang
alam, tentang Tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum,
agama dan
sejarah. Semua
selalu dikembalikan ke-empat
bidang sebagai sumbernya, yaitu::
1)
Filsafat tentang pengetahuan. Objek materialnya yaitu pengetahuan (episteme) dan kebenaran. Epistemologi yaitu logika dan kritik ilmu-ilmu.
2)
Filsafat tentang seluruh keseluruhan
kenyataan, objek materialnya yaitu eksistensi
(keberadaan) dan esensi (hakekat), metafisika umum (ontologi), antropologi (tentang
manusia), kosmologi
(tentang alam semesta), dan
teologi (tentang tuhan).
3)
Filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat
dalam sebuah tindakan. Objek
material yaitu kebaikan
dan keindahan, etika dan estetika.
Jika dikelompokkan secara kerakterisitik
bahwa
cara
pendekatannya dalam
filsafat dikenal ada banyak aliran
filsafat.[30] Ciri pemikiran filsafat mengacu pada tiga
konsep pokok yakni persoalan filsafat bercorak sangat umum, persoalan filsafat
tidak bersifat empiris dan
menyangkut masalah-masalah asasi.[31]
Kemudian Kattsoff menyatakan karakteristik filsafat dapat diidentifikasi
sebagai berikut, yaitu: [32]
1) Filsafat adalah berpikir secara kritis.
2) Filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang
sistematis.
3) Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut.
4) Filsafat adalah berpikir secara rasional.
5) Filsafat bersifat komprehensif.
Jadi berfikir filsafat
mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis,
sistematis, tertib, rasional dan komprehensif. Rosenberg dalam bukunya Philosophy Deals with Two
Sets of Questions: First, the Questions that Science-Physical, Biological, Social, Behavioral-Second, the Questions About
why the Sciences Cannot Answer the first lot of Questions”.[33]
Dikatakan bahwa filsafat dibagi dalam
dua buah pertanyaan utama, pertanyaan pertama adalah persoalan tentang ilmu
(fisika,biologi, social dan budaya) dan yang kedua adalah persoalan tentang
duduk perkara ilmu yang itu tidak
terjawab pada persoalan yang pertama. Dari narasi ini ada dua buah konsep
filsafat yang senantiasa dipertanyakan yakni tentang apa dan bagaimana. Apa itu
ilmu dan bagaimana ilmu itu disusun dan dikembangkan. Hal ini sangat mendasar dalam
kajian dan diskusi ilmiah dan ilmu pengetahuan pada umumnya yang satu terjawab oleh
filsafat dan yang kedua dijawab oleh kajian filsafat ilmu.
Pertanyaan yang
timbul dalam filsafat mengenai
penjelasan tentang pengetahuan adalah seperti; Apa itu pengetahuan? Dari mana asalnya? Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau
semua hanya hipotesis atau dugaan belaka? Teori pengetahuan menjadi inti
diskusi, apa hakekat pengetahuan, apa unsur-unsur pembentuk pengetahuan,
bagaimana menyusun dan mengelompokkan pengetahuan, apa batas-batas pengetahuan,
dan juga apa saja yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan.[34] Disinilah filsafat ilmu memfokuskan
kajian dan telaahnya.Yakni
pada sebuah kerangka konseptual yang menyangkut sebuah system pengetahuan yang
di dalamnya terdapat hubungan relasional antara pengetahuan yang mengetahui (the Knower) dan yang terketahui, yang diketahui (the known) dan juga antara pengamat (the observer) dengan yang diamati (the observed).[35]
Pengertian tentang filsafat ilmu,
banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah. Filsafat ilmu
adalah segenap pemikiran reflektif
terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu
maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan integrative yang eksistensi dan pemekarannya
bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan
ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan
pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari
pengetahuan baru. Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini
dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam sejumlah
literatur kajian Filsafat Ilmu yang dikemukakan oleh Endang Komara, yaitu: [36]
1) Robert
Ackerman: philosophy of
science in one aspect as a critique of current scientific opinions by
comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not
a discipline autonomous of actual scientific paractice”. Filsafat
ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat
ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang
dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas
bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
2) Lewis
White Beck: Philosophy of
science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to
determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. Filsafat
ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba
menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
3)
Cornelius Benjamin: That philosopic disipline which is the
systematic study of the nature of science, especially of its methods, its
concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of
intellectual discipines. Cabang pengetahuan filsafat yang merupakan
telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya
dan peranggapan-peranggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang
pengetahuan intelektual.
4)
Michael V. Berry: The study of the inner logic if
scientific theories, and the relations between experiment and theory of
scientific methods. Penelaahan tentang logika interen dari
teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni
tentang metode ilmiah.
5)
May Brodbeck: Philosophy of science is the ethically
and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of
science. Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan
dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
6)
Peter Caws: Philosophy of science is a part of
philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does
for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the
other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them
as grounds for belief and action; on the other, it examines critically
everything that may be offered as a ground for belief or action, including its
own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error.
Filsafat ilmu merupakan satu bagian dari filsafat, yang mencoba berbuat bagi
ilmu apa yang filsafat seumumnya lakukan pada seluruh pengalaman manusia.
Filsafat melakukan dua macam hal di satu pihak, ini membangun teori-teori
tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan
bagi keyakinan dan tindakan di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis
segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau
tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan
dan kesalahan
7)
Stephen R. Toulmin: As a discipline, the philosophy of
science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of
scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of
representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and
then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal
logic, practical methodology and metaphysics. Sebagai suatu cabang
ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat
dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola
perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan
metafisis dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya
dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis dan metafisika.
Dari sejumlah pengertian filsafat ilmu
yang dikemukakan para pakar di atas, selanjutnya dapat kita pahami secara lebih
konkret posisi filsafat ilmu yaitu untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan
yang menyangkut: apa perbedaan ilmiah karakteristik tipe masing-masing ilmu.
Kamudian prosedur apa yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan
penelitian. Apa yang semestinya dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah
untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Selanjutnya apakah teori itu dapat
diambil sebagai konsep dari prinsip-prinsip ilmiah.[37] Pemahaman yang berbeda
mengenai kesimpulan dari paparan pakar di atas mengandung konsepsi dasar yang
mencakup hal-hal sebagai berikut:
1) Sikap
kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah
2) Sikap
sitematis berpangkal pada metode ilmiah
3) Sikap
analisis objektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah.
4) Sikap
konsisten dalam bangunan teori serta tindakan
ilmiah
[
John Losee dalam bukunya yang berjudul
A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth
edition, mengungkapkan bahwa: The
philosopher of science seeks answers to such questions as:
1) What characteristics distinguish scientific inquiry from
other types of investigation?
2) What procedures should scientists follow in investigating
nature?
3) What conditions must be satisfied for a scientific
explanation to be correct?
4) What is the cognitive status of scientific laws and
principles?[38]
Sebagaimana yang sudah dijelaskan
sebelumnya secara umum, dari ungkapan tersebut
terdapat sebuah konsep bahwa tugas dari pemikir filsafat ilmu itu untuk
menjawab dan menyelesaikan persoalan persoalan yang menyangkut: pertama,
apa yang menjadi perbedaaan ilmiah karakteristik type masing-masing ilmu ntara
satu ilmu dengan ilmu lainnya melalui
penelitian. Kedua Prosedur apa yang
harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian atas kenyataan yang
terjadi di alam?, Ketiga apa
yang mesti dilakukan dalam mendapatkan penjelasan
ilmiah untuk melakukan penelitian dan
eksperimen itu? Dan keempat apakah
teori itu dapat diambil sebagai konsep dan prinsip-prinsip ilmiah?. Sehingga
sketsa filsafat ilmu dapat di gambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut:[39]
|
Level
|
Disciplin
|
Subject-matter
|
|
2
|
Philosophy of Science
|
Analysis of the Procedures and Logic of
Scientific Explanation
|
|
1
|
Science
|
Explanation of
Facts
|
|
0
|
|
Facts
|
Berdasarkan tabel di atas secara jelas terlihat bahwa filsafat ilmu
menempati level
ke-2 sedangkan ilmu (science) pada
level pertama dan semuanya pada satu pangkal pokok yakni fakta (kenyataan)
menjadi basis utama bangunan segala disiplin ilmu. Bila ilmu itu menjelaskan fakta, sementara filsafat ilmu
itu subyek materinya adalah menganalisa prosedur-prosedur logis dari ilmu (Analysis
of the Procedures and Logic of Scientific Explanation).
3.
Hubungan
Filsafat dengan Ilmu
Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah
merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi,
di mana
dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong
pada upaya untuk memposisikan keduanya secara tepat sesuai dengan batas
wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih
jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah
intelektuan manusia
Harold H.
Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai
hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan sekaligus
perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping dikalangan ilmuwan sendiri
terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu, demikian juga dikalangan filsuf terdapat perbedaan
pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.
Adapun
persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah bahwa
keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi dan memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap
hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka
serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan
yang terorganisisr dan sistematis.
Sementara itu
perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan titik tekan, dimana ilmu
mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat analitis dan deskriptif
dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi, eksperimen dan klasifikasi
data pengalaman indra serta berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas
gejala-gejala tersebut, sedangkan filsafat berupaya mengkaji pengalaman secara
menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam
berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan
sinoptis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan
secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik pada pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam
mempertanyakan masalah hubungan antara fakta khusus dengan skema masalah yang
lebih luas, filsafat juga mengkaji
hubungan antara temuan-temuan ilmu
dengan klaim agama, moral serta seni.
Memperhatikan
ungkapan di atas nampak bahwa filsafat mempunyai batasan yang lebih luas dan
menyeluruh ketimbang ilmu, ini berarti bahwa apa yang sudah tidak bisa dijawab
oleh ilmu, maka filsafat berupaya mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri
bisa dipertanyakan atau dijadikan objek kajian filsafat (Filsafat Ilmu), namun
demikian filsafat dan ilmu mempunyai kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya
yakni berfikir reflektif dan sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan
yang berbeda.
Dengan demikian, Ilmu
mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban
terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya
bersifat spekulatif, sedangkan Agama
merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh
filsafat dan jawabannya bersifat mutlak atau dogmatis. Menurut Sidi Gazlba,
Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset atau
eksperimen), batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan
penelitian. Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi
(rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam
namun demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatu yang di luar alam, yang
disebut oleh agama Tuhan. Sementara itu Oemar
Amin Hoesin mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan, dan
filsafat memberikan hikmat. Dari sini nampak jelas bahwa ilmu dan filsafat
mempunyai wilayah kajiannya sendiri-sendiri.[40]
Meskipun filsafat ilmu mempunyai substansi yang
khas, namun dia merupakan bidang pengetahuan campuran yang perkembangannya
tergantung pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan
ilmu, oleh karena itu pemahaman bidang filsafat dan pemahaman ilmu menjadi
sangat penting, terutama hubungannya yang bersifat timbal balik, meski dalam
perkembangannya filsafat ilmu itu telah menjadi disiplin yang tersendiri dan
otonom dilihat dari objek kajian dan telaahannya.
Perlu diketahui bahwa dasar dan jenis ilmu pengetahuan
juga terkait dengan objek ilmu pengetahuan ilmiah karena suatu jenis
pengetahuan umum tidak memiliki objek, bentuk pernyataan, serta ciri dan diensi
khusus sebaliknya suatu pengetahuan ilmiah atau pengetahuan keilmuan (ilmu)
selalu mengandalkan adanya objek keilmuan, bentuk kenyataan serta dimensi yang
khusus.[41]
Perintisan ilmu pengetahuan dianggap dimulai pada abad 4 S.M, karena peninggalan-peninggalan yang menggambarkan ilmu pengetahuan diketemukan
mulai abad 4 S. M, yaitu perkembangan pengetahuan di Yunani. Abad 4 S. M merupakan abad terjadinya
pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos,
dari dongeng-dongeng ke analisis rasional. Contoh persepsi mitos adalah
pandangan yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian misalnya adanya penyakit
atau gempa bumi disebabkan perbuatan dewa-dewa. Jadi pandangan tersebut tidak
bersifat rasional, sebaliknya persepsi logos adalah pandangan yang bersifat
rasional.
Pengetahuan
berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena
manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara
sungguh-sungguh. Karena manusia memiliki struktur pikiran yaitu mengamati,
menyelidiki, rasa percaya, adanya hasrat, maksud, mengatur, menyesuaikan dan
rasa untuk menikmati. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun pengetahuan ini
terbatas untuk kelangsungan hidupnya.[42]
Manusia
mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan hidup ini dia
memiliki hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup,
namun lebih dari itu. Mausia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makan
kepada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya dan masih banyak
lagi pernyataan semacam ini, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa
manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu dalam hidupnya yang lebih
tinggi dari seedar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia
mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia
menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan
ini mampu dikembangkan manusia yang disebabkan dua hal utama, yakni pertama manusia
mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang
melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang menyebabkan manusia
mampu mengembangkan pengetahuan dengan cepat dan mantap adalah kemampuan
berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu.
Hakikat
dasar atau filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya untuk memahami makna,
metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, termasuk juga di dalamnya
kriteria-kriteria ilmu pengetahuan, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam ilmu
pengetahuan. Supaya lebih fokus, perlu dipertegas beberapa poin tentang
filsafat ilmu pengetahuan. Ada berbagai konsep yang digunakan secara khusus
oleh seorang ilmuwan, tetapi tidak dianalisis oleh ilmuwan tersebut. Misalnya,
ilmuwan seringkali menggunakan konsep-konsep seperti kausalitas, hukum, teori
dan metode.
4.
Orientasi
Filsafat Ilmu
Setelah mengenal pengertian dan makna apa itu filsafat dan
apa itu ilmu serta hubungan filsafat dan ilmu, maka pemahaman mengenai filsafat
ilmu tidak akan terlalu mengalami kesulitan. Hal ini tidak berarti bahwa dalam
memaknai filsafat ilmu tinggal menggabungkan kedua pengertian tersebut, sebab
sebagai suatu istilah, filsafat ilmu telah mengalami perkembangan pengertian
serta para akhli pun telah memberikan pengertian yang bervariasi, namun
demikian pemahaman tentang makna filsafat dan makna ilmu akan sangat membantu
dalam memahami pengertian dan makna filsafat ilmu (Philosophy of science).
Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian
filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain
filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu
Pengetahuan atau Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun
manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari
acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi,
dan axiologi dengan berbagai
pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para ahli.
Secara historis filsafat dipandang sebagai the mother of sciences atau induk segala
ilmu, hal ini sejalan dengan pengakuan Descartes yang menyatakan bahwa prinsip-prinsip
dasar ilmu diambil dari filsafat. Filsafat alam mendorong lahirnya ilmu-ilmu
kealaman, filsafat sosial melahirkan ilmu-ilmu sosial, namun dalam
perkembangannya dominasi ilmu sangat menonjol, bahkan ada yang menyatakan telah
terjadi upaya perceraian antara filsafat dengan ilmu, meski hal itu sebenarnya
hanya upaya menyembunyikan asal usulnya atau perpaduannya.
Husein Nasr menyatakan bahwa meskipun sains modern
mendeklarasikan independensinya dari aliran filsafat tertentu, namun ia sendiri
tetap berdasarkan sebuah pemahaman filosofis partikular baik tentang
karakteristik alam maupun pengetahuan kita tentangnya, dan unsur terpenting di
dalamnya adalah Cartesianisme yang
tetap bertahan sebagai bagian inheren dari pandangan dunia ilmiah modern.
Dominasi
ilmu terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menjadikan pemikiran-pemikiran filosofis cenderung
terpinggirkan, hal ini berdampak pada cara berfikir yang sangat
pragmatis-empiris dan partial, serta cenderung menganggap pemikiran radikal
filosofis sebagai sesuatu yang asing dan terasa tidak praktis, padahal ilmu
yang berkembang dewasa ini di dalamnya terdapat pemahaman filosofis yang
mendasarinya.
Perkembangan
ilmu memang telah banyak pengaruhnya bagi kehidupan manusia, berbagai kemudahan
hidup telah banyak dirasakan, semua ini telah menumbuhkan keyakinan bahwa ilmu
merupakan suatu sarana yang penting bagi kehidupan, bahkan lebih jauh ilmu
dianggap sebagai dasar bagi suatu ukuran kebenaran. Akan tetapi kenyataan
menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat didekati dengan pendekatan ilmiah,
sekuat apapun upaya itu dilakukan.
Leenhouwers menyatakan walaupun ilmu pengetahuan
mencari pengertian menerobos realitas sendiri, pengertian itu hanya dicari di tataran empiris dan
eksperimental. Ilmu pengetahuan membatasi kegiatannya hanya pada
fenomena-fenomena, yang entah langsung atau tidak langsung, dialami dari
pancaindra. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak menerobos kepada inti
objeknya yang sama sekali tersembunyi dari observasi. Maka ia tidak memberi
jawaban perihal kausalitas yang paling dalam.
Pernyataan
di atas mengindikasikan bahwa adalah sulit bahkan tidak mungkin ilmu mampu
menembus batas-batas yang menjadi wilayahnya yang sangat bertumpu pada fakta
empiris, memang tidak bisa dianggap sebagai kegagalan bila demikian selama
klaim kebenaran yang disandangnya diberlakukan dalam wilayahnya sendiri, namun
jika hal itu menutup pintu refleksi radikal terhadap ilmu maka hal ini mungkin
bisa menjadi ancaman bagi upaya memahami kehidupan secara utuh dan kekayaan
dimensi di dalamnya.
Meskipun
dalam tahap awal perkembangan pemikiran manusia khususnya jaman Yunani kuno
cikal bakal ilmu terpadu dalam filsafat, namun pada tahap selanjutnya ternyata
telah melahirkan berbagai disiplin ilmu yang masing-masing mempunyai asumsi
filosofisnya (khususnya tentang manusia) masing-masing.
Ilmu
ekonomi memandang manusia sebagai homo
economicus yakni makhluk yang mementingkan diri sendiri dan hedonis,
sementara sosiologi memandang manusia sebagai homo socius yakni makhluk yang selalu ingin berkomunikasi dan
bekerjasama dengan yang lain, hal ini menunjukan suatu pandangan manusia yang
fragmentaris dan kontradiktif, memang diakui bahwa dengan asumsi model ini
ilmu-ilmu terus berkembang dan makin terspesialisasi, dan dengan makin
terspesialisasi maka analisisnya makin tajam, namun seiring dengan itu
hasil-hasil penelitian ilmiah selalu berusaha untuk mampu membuat generalisasi,
hal ini nampak seperti contradictio in
terminis (pertentangan dalam istilah).
Eksistensi
ilmu mestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah final, dia perlu
dikritisi, dikaji, bukan untuk melemahkannya tapi untuk memposisikan secara
tepat dalam batas wilayahnya, hal inipun dapat membantu terhindar dari memutlakkan
ilmu dan menganggap ilmu dan kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran,
di samping perlu terus diupayakan untuk melihat ilmu secara integral
bergandengan dengan dimensi dan bidang lain yang hidup dan berkembang dalam
memperadab manusia. Dalam hubungan ini filsafat ilmu akan membukakan wawasan
tentang bagaimana sebenarnya substansi ilmu itu, hal ini karena filsafat ilmu
merupakan pengkajian lanjutan, yang menurut Beerleng,
sebagai refleksi sekunder atas
illmu dan ini merupakan syarat mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus
kepada keadaan cerai berai serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu
yang ada, melalui pemahaman tentang asas-asas, latar belakang serta hubungan
yang dimiliki/dilaksanakan oleh suatu kegiatan ilmiah.
5.
Perkembangan Filsafat
Ilmu
Secara
umum dapat dikatakan bahwa sejak perang dunia ke 2 yang telah menghancurkan
kehidupan manusia, para Ilmuwan makin menyadari bahwa perkembangan ilmu dan
pencapaiannya telah mengakibatkan banyak penderitaan manusia, ini tidak
terlepas dari pengembangan ilmu dan
teknologi yang tidak dilandasi oleh
nilai-nilai moral serta komitmen etis dan agamis pada nasib manusia, padahal Albert Einstein pada tahun 1938 dalam
pesannya pada Mahasiswa California
Institute of Technology mengatakan: “Perhatian kepada manusia itu sendiri
dan nasibnya harus selalu merupakan
perhatian pada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan
kerja dan pemerataan benda, agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan
merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan.”[43] Akan tetapi penjatuhan
bom di Hirosima dan Nagasaki tahun 1945 menunjukan bahwa perkembangan iptek
telah mengakibatkan kesengsaraan manusia, meski disadari tidak semua hasil pencapaian iptek demikian, namun hal itu telah mencoreng ilmu dan menyimpang dari pesan Albert Einstein, sehingga hal itu telah
menimbulkan keprihatinan filosof tentang arah kemajuan peradaban manusia
sebagai akibat perkembangan ilmu. Untuk itu nampaknya para filosof dan ilmuan
perlu merenungi apa yang dikemukakan Harold
H Titus dalam bukunya Living Issues
in Pilosophy beliau mengutip beberapa
pendapat cendikiawan seperti Northrop
yang mengatakan “it would seem that the
more civilized we become, the more incapable of maintaining civilization we are”,
demikian juga pernyataan Lewis Mumford
yang berbicara tentang “the invisible
breakdown in our civiliozation : erosion of value, the dissipation of human
purpose, the denial of any dictinction between good and bad, right or wrong,
the reversion to sub human conduct.”
Ungkapan
tersebut di atas hanya untuk menunjukan bahwa memasuki dasawarsa 1960-an
kecenderungan mempertanyakan manfaat ilmu menjadi hal yang penting, sehingga pada
periode ini (1960-1970) dimensi
aksiologis menjadi perhatian para filosof, hal ini tak lain untuk meniupkan ruh etis dan agamis pada
ilmu, agar pemanfaatannya dapat menjadi berkah bagi manusia dan kemanusiaan,
sehingga telaah pada fakta empiris berkembang ke pencarian makna dibaliknya
atau seperti yang dikemukakan oleh Ismaun dari telaah positivistik ke telaah meta-science yang dimulai sejak tahun
1965.
Memasuki
tahun 1970-an, pencarian makna ilmu mulai berkembang khususnya di kalangan
pemikir muslim, bahkan pada dasawarsa ini lahir gerakan islamisasi ilmu, hal
ini tidak terlepas dari sikap apologetik umat islam terhadap kemajuan barat,
sampai-sampai ada ide untuk melakukan sekularisasi, seperti yang dilontarkan
oleh Nurcholis Majid pada tahun 1974
yang kemudian banyak mendapat reaksi keras dari pemikir-pemikir Islam seperti dari H.M Rasyidi dan Endang Saifudin
Anshori.
Mulai
awal tahun 1980-an, makin banyak karya cendekiawan muslim yang berbicara tentang integrasi ilmu dan agama atau
islamisasi ilmu, seperti terlihat dari berbagai karya mereka yang mencakup variasi ilmu seperti karya Ilyas Ba Yunus
tentang Sosiologi Islam, serta karya-karya dibidang ekonomi, seperti
karya Syed Haider Naqvi Etika dan Ilmu Ekonomi, karya Umar Chapra Al
Qur’an, menuju sistem moneter yang adil,
dan karya-karya lainnya , yang pada intinya semua itu merupakan upaya
penulisnya untuk menjadikan ilmu-ilmu tersebut mempunyai landasan nilai islam.
Memasuki
tahun 1990-an, khususnya di Indosesia
perbincangan filsafat diramaikan dengan wacana post modernisme, sebagai
suatu kritik terhadap modernisme yang berbasis positivisme yang sering mengklaim universalitas ilmu,
juga diskursus post modernisme memasuki kajian-kajian agama. Post modernisme
yang sering dihubungkan dengan Michael
Foccault dan Derrida dengan
beberapa konsep/paradigma yang kontradiktif dengan modernisme seperti dekonstruksi, desentralisasi, nihilisme dsb,
yang pada dasarnya ingin menempatkan narasi-narasi kecil ketimbang narasi-narasi besar, namun post
modernisme mendapat kritik keras dari Ernest
Gellner dalam bukunya Post modernism,
Reason and Religion yang terbit pada tahun1992. Dia menyatakan bahwa post
modernisme akan menjurus pada relativisme dan untuk itu dia mengajukan konsep
fundamentalisme rasionalis, karena rasionalitas merupakan standar yang berlaku
lintas budaya. Disamping itu gerakan meniupkan nilai-nilai agama pada ilmu
makin berkembang, bahkan untuk Indonesia disambut hangat oleh ulama dan
masyarakat yang pada dasarnya hal ini tidak terlepas dari gerakan islamisasi
ilmu, khususnya dalam bidang ilmu ekonomi. Dan pada periode ini pula teknologi
informasi sangat luar biasa, berakibat pada makin pluralnya perbincangan atau diskursus
filsafat, sehingga sulit menentukan diskursus mana yang paling menonjol, hal
ini mungkin sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Alvin Tofler sebagai The third Wave, dimana informasi makin cepat
memasuki berbagai belahan dunia yang pada gilirannya akan mengakibatkan
kejutan-kejutan budaya tak terkecuali bidang pemikiran filsafat.
Meskipun
nampaknya prkembangan Filsafat ilmu erat kaitan dengan dimensi axiologi atau
nilai-nilai pemanfaatan ilmu, namun dalam perkembangannya keadaan tersebut
telah juga mendorong para akhli untuk lebih mencermati apa sebenarnya ilmu itu
atau apa hakekat ilmu, mengingat dimensi ontologis sebenarnya punya kaitan
dengan dimensi-dimensi lainnya seperti ontologi dan epistemologi, sehingga dua
dimensi yang terakhir pun mendapat evaluasi ulang dan pengkajian yang serius.
Salah
satu tonggak penting dalam bidang kajian ilmu (filsafat ilmu) adalah terbitnya
Buku The Structure of Scientific
Revolution yang ditulis oleh Thomas
S Kuhn, yang untuk pertama kalinya
terbit tahun 1962, buku ini merupakan sebuah karya yang monumental mengenai perkembangan sejarah dan filsafat sains, di mana di dalamnya
paradigma menjadi konsep sentral, disamping konsep sains/ilmu normal. Dalam
pandangan Kuhn ilmu pengetahuan tidak hanya pengumpulan fakta untuk membuktikan
suatu teori, sebab selalu ada anomali yang dapat mematahkan teori yang telah
dominan.
Pencapaian-pencapaian
manusia dalam bidang pemikiran ilmiah telah menghasilkan teori-teori, kemudian
teori-teori terspesifikasikan berdasarkan
karakteristik tertentu ke dalam suatu
Ilmu. Ilmu (teori) tersebut kemudian dikembangkan, diuji sehingga menjadi mapan
dan menjadi dasar bagi riset-riset
selanjutnya, maka Ilmu (sains) tersebut menjadi sains normal yaitu riset
yang dengan teguh berdasar atas suatu pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian
yang oleh masyarakat ilmiah tertentu
pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fundasi bagi praktek (riset) oleh
Thomas S Kuhn.
Pencapaian
pemikiran ilmiah tersebut dan terbentuknya sains yang normal kemudian menjadi
paradigma, yang berarti “apa yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat
sains dan sebaliknya masyarakat sains terdiri atas orang yang memiliki suatu
paradigma tertentu. Paradigma dari sains yang normal kemudian mendorong riset
normal yang cenderung sedikit sekali ditujukan untuk menghasilkan penemuan baru
yang konseptual atau yang hebat. Ini
berakibat bahwa sains yang normal, kegunaannya
sangat bermanfaat dan bersifat kumulatif. Teori yang memperoleh
pengakuan sosial akan menjadi paradigma, dan kondisi ini merupakan periode ilmu
normal.
Kemajuan
ilmu berawal dari perjuangan kompetisi berbagai teori untuk mendapat pengakuan
intersubjektif dari suatu masyarakat ilmu. Dalam periode sain normal ilmu
hanyalah merupakan pembenaran-pembenaran sesuai dengan asumsi-asumsi paaradigma
yang dianut masyarakat tersebut, ini tidak lain dikarenakan paradigma yang
berlaku telah menjadi patokan bagi ilmu untuk melakukan penelitian, memecahkan
masalah, atau bahkan menyeleksi masalah-masalah yang layak dibicarakan dan dikaji. Akan tetapi di dalam
perkembangan selanjutnya ilmuwan banyak menemukan hal-hal baru yang sering
mengejutkan, semua ini diawali dengan
kesadaran akan anomali atas prediksi-prediksi paradigma sains normal,
kemudian pandangan yang anomali ini dikembangkan sampai akhirnya ditemukan
paradigma baru yang mana perubahan ini sering sangat revolusioner. Paradigma
baru tersebut kemudian melahirkan sain normal yang baru sampai ditemukan lagi
paradigma baru berikutnya. Bila digambarkan nampak sebagai berikut:[44]
|
Pencapaian Manusia dalam pemikiran
ilmiah
|
|
|
|
|
|
Sains
Normal
|
|
|
|
|
|
Paradigma
|
|
|
|
|
|
Anomali
|
|
|
|
|
|
Perubahan
paradigma atau revolusi sains
|
|
|
|
|
|
Sains
Normal yang baru
|
|
|
|
|
|
Paradigma
Baru
|
|
Pencapaian
sain normal dan paradigma baru bukanlah
akhir, tapi menjadi awal bagi proses perubahan paradigma dan revolusi sains
berikutnya, bila terdapat anomali atas prediksi sains normal yang baru
tersebut. Pendapat Kuhn tersebut pada dasarnya mengindikasikan bahwa secara
substansial kebenaran ilmu bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan, suatu
paradigma yang berlaku pada suatu saat, pada saat yang lain bisa tergantikan
dengan paradigma baru yang telah mendapat pengakuan dari masyarakat ilmiah, itu
berarti suatu teori sifatnya sangat tentatif sekali.
6.
Cakupan
Filsafat Ilmu
Peter
Angeles mengemukakan ada empat bidang konsentrasi utama dalam filsafat ilmu
yaitu: (a) telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggapan dan metode ilmu
berikutnya ada analisis, perluasan dan penyusunannya untuk mencapai atau
memperoleh pengetahuan yang lebih cermat. (b) Telaah dan pembenaran mengenai
proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya. (c) Telaah
mengenai keterkaitan antar berbagai ilmu. (d) Telaah mengenai akibat
pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman
manusia terhadap realitas, entitas, teoritis, sumber dan keabsahan pengetahuan
serta sifat dasar pengetahuan.[45]
Filsafat
ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai
hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun
aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari
epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat
ilmu, seperti :
a. Objek
apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut?. Bagaimana
hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan
pengetahuan? (Landasan ontologis)
b. Bagaimana
proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana
prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang
benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya?
Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan
pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
c. Untuk
apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang
ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik
prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma
moral atau profesional? (Landasan aksiologis). [46]
Sedangkan di dalam introduction-nya Stathis Psillos and martin Curd menjelaskan
bahwa filsafat ilmu secara umum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi :
a. Apa
tujuan dari ilmu dan apa itu metode?
jelasnya apakah ilmu itu bagaimana membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?
b. Bagaimana
teori ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas? bagaiman konsep teoritik
itu dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan
penelitian dan observasi ilmiah?
c. Apa
saja yang membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti misalnya causation(sebab-akibat dan illat), eksplanasi
(penjelasan), konfirmasi, teori, eksperimen, model, reduksi dan sejumlah
probabilitas-probalitasnya?.
d. Apa
saja aturan-aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen ? apakah ada
kegunaan dan memiliki nilai (yang
mencakupkegunaan epistemic atau pragmatis) dalam kebijakan dan bagaimana semua itu dihubungkan dengan
kehidupan social, budaya dan factor-faktor gender? [47]
Berdasarkan
paparan di atas dipertegas bahwa filsafat ilmu itu memiliki lingkup pembahasan
yang meliputi: cakupan pembahasan landasan ontologis ilmu, pembahasan mengenai
landasan epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai landasan aksiologis dari
sebuah ilmu.[48]
7.
Objek
Filsafat Ilmu
Ilmu
filsafat memiliki objek material dan objek formal. Objek material adalah apa yang dipelajari dan
dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan. Objek material adalah objek yang di
jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh
ilmu itu. Objek material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yakni
pengetahuan ilmiah (scientific knowledge)
pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah
tertentu, sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.[49]
Objek
formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas objek material, yang sedemikian
khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan.
Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem
filsafat ilmu.
Filsafat
berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya. Pengalaman manusia
yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi (merupakan hal yang ada dalam setiap
pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi,
sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam
filsafat, ada filsafat pengetahuan.
Semua manusia ingin mengetahui, itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Objek materialnya adalah
gejala manusia tahu. Tugas filsafat ini
adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat
menggali kebenaran versus kepalsuan, kepastian versus ketidakpastian, objektivitas
versus subyektivitas, abstraksi, intuisi dari mana asal pengetahuan dan kemana
arah pengetahuan. Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi objek
material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut
sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat
ilmu pengetahuan. Kekhususan
gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti. Kekhususan
itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu
pengetahuan.
Jadi,
dapat dikatakan bahwa Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek
menelaah objek materialnya, yang menyangkut asal usul, struktur, metode, dan validitas ilmu.[50] Objek formal filsafat
ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih
menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa
hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa
fungsi ilmu itu bagi manusia.
8.
Metode
Filsafat Ilmu
Fuad
Ikhsan mengemukakan pendapat Runes dalam Dictionary
of Philosophy sebagaimana dikutip Anton Baker, dia mengatakan sepanjang
sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode filsafat yang berbeda dan
jelas. Setidaknya dalam sejarah tercatat palinng penting yang dapat disusun
menurut garis historis sedikitnya sepuluh metode yang digunakan dalam filsafat
termasuk dalam filsafat ilmu, yaitu:[51]
a. Metode kritis
yang dikembangkan oleh Socrates dan Plato. Metode ini bersifat analisis
terhadap istilah dan pendapat. Metode ini dikenal merupakan metode
hermeneutika.
b. Metode intuitif
yang dikembangkan oleh Plotinos dan Bergson dengan jalan intropeksi bersama
dengan persucan moral, sehingga tercapai suatu penerangan atau pencerahan
pikiran.
c. Metode skolastik
yang dikembangkan oleh Aristoteles, Thomas Aquinas dan termasuk aliran filsafat
abad pertengahan yang bersifat sintesis deduktif. Karakter filsafat abad
pertengahan ini yaitu dengan bertitik tolak dari defenisi atau prinsip yang
jelas kemudian ditarik kesimpulan.
d. Metode filsafat
Rene Descartes dan pengikutnya yang dikenal metode yang bertolak dari analisis
mengenai hal-hal kompleks kemudian dicapai intuisi akan hakikat yang sederhana
dan lebih terang.
e. Metode geometri
yang dikreasikan Rene Descartes dan pengikutnya. Menurutnya hanyalah pengalaman
yang menyajikan pengertian benar, maka semua pengertia dan ide dalam intropeksi
kemudian dibandingkan dengan serapan-serapan atau impresi dan kemudian disusun
bersama secara geometris.
f. Metode transedental
yang dikreasikan Immanuel Kant, metode ini dikenal juga dengan metode
neo-skolastik yang bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu yaitu jaan
analisis yang diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian yang sedemikian
rumit atau kompleks.
g. Metode fenomenologis
dari Husserl yaitu eksistensialisme yaitu metode dengan jalan beberapa
pemotongan sistematis (reduction),
refleksi atas fenomena dalam kesadaran sehigga mencapai penglihatan hakikat
yang murni.
h. Metode dialektis dari
Hegel dan Marx yakni metode yang digunakan dengan jalan mengikuti dinamika
pikiran atau alam berpikir sendiri.
i. Metode
neopositivistis yaitu bahwa kenyataan dipahami menurut
hakikatnya dengan jalan menggunakan aturan-aturan seprti berlaku dalam ilmu
pengetahuan positif (eksakta).
j.
Metode
analitika yang dikreasikan oleh Wittgenstein. Metode ini digunakan
dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari menentukan sah tidaknya
ucapan filosofis, menurutnya bahasa merupakan bola permainan makna si
pemiliknya.
9.
Tujuan
Filsafat Ilmu
Salah
satu yang terpenting dalam filsafat termasuk filsafat ilmu yaitu menyangkut
pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan itu, baik pertanyaan yang bersifat
komperhensif maupun spesifik. Hal ini sepandangan dengan Stathis Psillos and
Martin Curd, dia mengatakan bahwa filsafat ilmu secara umum yaitu bertujuan
menjawab pertanyaan seputar ilmu yang meliputi: menjelaskan bahwa filsafat ilmu
secara umum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi:
a.
Apa tujuan dari
ilmu dan apa itu metode? Jelaskan apakah
ilmu itu bagaimana membedakan ilmu dengan yang bukan ilmu (non science) dan juga pseudoscience?
b.
Bagaimana teori
ilmiah dan hubungannya dengan dunia secara luas?. Bagaimana konsep teoritik itu
dapat lebih bermakna dan bermanfaat kemudian dapat dihubungkan dengan
penelitian dan observasi ilmiah?
c.
Apa saja yang
membangun struktur teori dan konsep-konsep seperti misalnya causation (sebab-akibat dan illat), eksplanasi (penjelasan), konfirmasi, teori, eksperimen, model,
reduksi dan sejumlah probabilitasnya?.
d.
Apa saja
aturan-aturan dalam pengembangan ilmu? Apa fungsi eksperimen? Apakah ada
kegunaan epistemic atau pragmatis dalam kebijakan dan bagaimana
semua itu dihubungkan dengan kehidupan social, budaya dan factor-faktor gender?[52]
Upaya
untuk memahami tentang tujuan filsafat ilmu secara lebih jauh, maka harus lebih
dipahami bagaimana cara kerja filsafat ilmu, memiliki pola dan model yang
spesifik dalam menggali dan menelaah pengetahuan melalui sebab musabab dari
gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup pemahaman tentang kepastian,
kebenaran dan objektivitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada gejala
pengetahuan mengadakan reduksi ke arah intusi para ilmuan sehingga kegiatan
ilmu itu dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing, disinilah
akhirnya kita dapat mengerti fungsi dan tujuan filsafat ilmu.
Cara
kerja filsafat ilmu memiliki pola dan
model-model yang spesifik dalam menggali dan meneliti dalam menggali
pengetahuan melalui sebab musabab
pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup paham tentang
kepastian, kebenaran dan objektifitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada
gejala-gejala pengetahuan mengadakan
reduksi ke arah intuisi para ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu-ilmu itu dapat
dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing.[53] Di sinilah akhirnya kita
dapat mengerti fungsi dari filsafat
ilmu. Filsafat ilmu merupakan salah
satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak
bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni:[54]
a.
Sebagai alat mencari
kebenaran dari segala fenomena yang ada.
b.
Mempertahankan,
menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
c.
Memberikan pengertian
tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
d.
Memberikan ajaran
tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan.
e.
Menjadi sumber
inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu
sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Fungsi
filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi
konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun
teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua
fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya
mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory
of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun
besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah:[55]
a. Tidak
terjebak dalam bahaya arogansi intelektual.
b. Kritis
terhadap aktivitas ilmu atau keilmuan.
c. Merefleksikan,
menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap
bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu).
d. Mempertanggungjawabkan
metode keilmuan secara logis-rasional.
e. Memecahkan
masalah keilmuan secara cerdas dan valid.
f. Berpikir
sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual).
10. Fungsi dan Manfaat Filsafat Ilmu
Cara
kerja filsafat ilmu memiliki pola dan
model-model yang spesifik dalam menggali dan meneliti dalam menggali
pengetahuan melalui sebab musabab
pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Di dalamnya mencakup paham tentang
kepastian, kebenaran, dan obyektifitas. Cara kerjanya bertitik tolak pada
gejala-gejala pengetahuan mengadakan reduksi
ke arah intuisi para ilmuwan, sehingga kegiatan ilmu-ilmu itu dapat dimengerti
sesuai dengan kekhasannya masing-masing [56] disinilah akhirnya kita
dapat mengerti fungsi dari filsafat
ilmu.
Filsafat
ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi
filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara
keseluruhan, yakni :
a. Sebagai
alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
b. Mempertahankan,
menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
c. Memberikan
pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
d. Memberikan
ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
e. Menjadi
sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu
sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Jadi,
Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami
berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk
membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh
dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya
mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory
of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun
besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah
a. Tidak
terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
b. Kritis
terhadap aktivitas ilmu/keilmuan
c. Merefleksikan,
menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap
bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu)
d. Mempertanggungjawabkan
metode keilmuan secara logis-rasional
e. Memecahkan
masalah keilmuan secara cerdas dan valid
f. Berpikir
sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)
C.
KESIMPULAN
1. Hakikat
filsafat ilmu selain sebagai patokan, penentu, sekaligus petunjuk arah kemana
ilmu pengetahuan akan berlayar atau berjalan juga filsafat ilmu menentukan
kemana ilmu pengetahuan akan diantarkan atau dikembangkan. Filsafat ilmu
merupakan kreativitas seorang filsuf dengan keilmuannya yang menggunakan logika
berpikir dalam melahirkan ilmu pengetahuan yang beragam pada sebuah pohon ilmu
kemudian mengantarkan dan mengembangkannya menjadi cabang yang banyak secara
mandiri.
2. Filsafat
ilmu yaitu untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan yang menyangkut: apa
perbedaan ilmiah karakteristik tipe masing-masing ilmu. Kamudian prosedur apa
yang harus dilakukan secara ilmiah dalam melakukan penelitian. Apa yang
semestinya dilakukan dalam mendapatkan penjelasan ilmiah untuk melakukan
penelitian dan eksperimen. Selanjutnya apakah teori itu dapat diambil sebagai
konsep dari prinsip-prinsip ilmiah.
3. Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian
filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain
filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu
Pengetahuan atau Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun
manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari
acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi,
dan axiologi dengan berbagai
pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.
4. Peter
Angeles mengemukakan ada empat bidang konsentrasi utama dalam filsafat ilmu
yaitu: (a) telaah mengenai berbagai konsep, pra-anggapan dan metode ilmu
berikutnya ada analisis, perluasan dan penyusunannya untuk mencapai atau
memperoleh pengetahuan yang lebih cermat. (b) Telaah dan pembenaran mengenai
proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya. (c) Telaah
mengenai keterkaitan antar berbagai ilmu. (d) Telaah mengenai akibat
pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman
manusia terhadap realitas, entitas, teoritis, sumber dan keabsahan pengetahuan
serta sifat dasar pengetahuan.
5. Ilmu
filsafat memiliki objek material dan objek formal, sedangkan fungsi filsafat
ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep
dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori
ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Syadali dan Mudzakir. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia, 1997.
Amsal Bakhtiar. FIlsafat ilmu. Jakarta: Raja Grafindo. 2006.
Departemen
Agama. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama. 1974.
Hamdani
Ihsan dan Fuad Ihsan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
2007.
Harun Nasution. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Jakarta: UIP.
1985.
JB. Blikolong. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Seri diktat kuliah.
Jakarta: Universitas Gunadarma. Download
Document 9 September 2014.
Jujun
S Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Popular.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2001.
Juraid
Abdul Latif. Manusia Filsafat dan Sejarah. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.
Losee,
John, A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth
edition, London: Oxford University Press, t.th.
Lukkisno CW. Pengantar Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi kuliah Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel. Download
Document 9 September 2014.
M. Solihin. Perkembangan
Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Modern. Bandung: Pustaka
Setia. 2007.
Made Pramono. Filsafat
Ilmu.
Bahan Presentasi Pascasarjana UNESA. Dowload
Document 9 September 2014.
Mohammad Adib. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.
Muhdhor
Achmad. Ilmu dan Keingintahuan. Bandung:
Trigendakarya. 1994.
Muhlisin,
Filsafat dan Filsafat Ilmu, Surabaya:
IAIN Sunan Ampel, 2010.
Mukhtar
Latif. Orientasi ke Arah Filsafat Ilmu. Jakarta:
Kencana Prenadamedia Group. 2014.
Prasetyo,
Flsafat Pendidikan,
Bandung: Pustaka Setia. 2002.
Preus,
Anthony Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy, The Scarecrow
Press, Inc. Lanham, Maryland Toronto Plymouth, UK. 2007.
Psillos,
Stathis and Martin Curd, Introduction: Historical and philosophical Context,
Canada: Routledge. 2008.
Ravertz,
Jerome R. Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang
lingkup Bahasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.
Rosenberg,
Alex. Philosophy of Science A
contemporary Iintroduction, New York: Routledge. 2010.
Uhar
Suharsaputra. Filsafat Ilmu Jilid I.
Jakarta: Universitas Kuningan, 2004.
Verhaak
C. Dkk. FIlsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia. 1995.
[1] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat
Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 10.
[2] Mukhtar Latif, Orientasi ke Arah Filsafat Ilmu (Jakarta: Kencana Prenadamedia
Group, 2014), hal. 17-18.
[3]
Ibid.
[6] M.Solihin,M.Ag, Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik Hingga Modern,
(Bandung;Pustaka Setia, 2007) 23
[7] Pelopor rasionalisme diantaranya Rene
Descartes(1596-1650) dengan konsep co gito ergu sum, Spinoza (1632-1677)
ia merumuskan definisi, aksioma-aksioma, proposisi dan penyimpulan dalam bidang
kajian logika ilmu dan Leibniz(1646- 1716) ia menulis tentang Monadology
[8] Tokoh pemikiran
Empirisme adalah F.Bacon (1210-1292) T.Hobbes(1588-1679) john
lock(1632-1704) dan David Hume (1711-1776)
dan herbert Spencer (1820-1903)
[9] Tokoh aliran positivisme ini ialah Agus compte (1798 – 1857) konsepsinya
mengatakan bahwa indera itu alat penting dalam proses pengetahuan ilmu dan
harus dipertajam dengan eksperimen.
[10] Loc.
Cit., Mukhtar Latif.
[11] Juraid Abdul Latif, Manusia
Filsafat dan Sejarah (Jakarta:
Bumi Aksara, 2006), hal.13.
[13]
M.Solihin, Perkembangan Pemikiran
Filsafat dari Klasik Hingga Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2007),
hal. 23.
[14] Pelopor
rasionalisme diantaranya Rene Descartes (1596-1650) dengan konsep co gito
ergu sum, Spinoza (1632-1677) ia merumuskan definisi, aksioma-aksioma,
proposisi dan penyimpulan dalam bidang kajian logika ilmu dan Leibniz (1646-
1716) ia menulis tentang Monadology.
[15] Tokoh
pemikiran Empirisme adalah F. Bacon
(1210-1292), T.Hobbes (1588-1679), John lock (1632-1704), David Hume (1711-1776) dan Herbert Spencer (1820-1903).
[16] Tokoh aliran positivisme adalah Agus
compte (1798 – 1857) konsepsinya mengatakan bahwa indera itu alat penting dalam
proses pengetahuan ilmu dan harus dipertajam dengan eksperimen.
[17]
Op. Cit. Mukhtar Latif, hal.
18-20.
[18] Lukkisno CW, Pengantar
Filsafat Ilmu, Bahan Presentasi kuliah
Filsafat di Fakultas Ushuluddin
IAIN Sunan Ampel. Download
Document 9 September 2014.
[19] Made Pramono, Filsafat
Ilmu, Bahan Presentasi
Pascasarjana UNESA. Dowload
Document 9 September 2014.
[20] Anthony Preus, Historical
Dictionary of Ancient Greek Philosophy (The Scarecrow Press, Inc. Lanham,
Maryland Toronto Plymouth, UK, 2007, hal 97.
[21] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat
Pendidikan Islam (Pustaka setia: Bandung, 2007), hal. 11.
[22] Ahmad Syadali dan
Mudzakir, Filsafat Umum (Bandung:
Pustaka Setia, 1997), hal. 12.
[24] Amsal bakhtiar,
FIlsafat ilmu (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hal 5.
[25] Pada kajian pesantren banyak
kitab-kitab klasik mengungkapkan kalimat-kalimat tersebut, misalnya kitab Al-Hikam, kitab Nashoihul Ibad, kitab Tanbihul
Ghofilin, Al Ghunyah, Ihya’ulumuddin dan lain sebagainya.
Dalam kajian-kajian kitab-kitab tersebut
sering kali disebut dengan ilmu hikmah, dengan menggunakan kalimat yang sama
dapat ditemukan juga sebuah buku dengan judul ilmu hikmah yang dikarang oleh
Kharisudin Aqib, yang merupakan hasil tesis yang didalamnya merupakan
penelitian konsep-konsep akhlaq-tasawwuf
thareqah sufistik pesantren Suryalaya
Tasikmalaya.
[27]
Op. Cit., Amsal Bakhtiar, hal.
1.
[29] Jujun S.Suriasumantri, Filsafat
Ilmu ;sebuah pengantar popular
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001), hal. 32.
[30] Aliran-aliran filsafat sangat banyak
sekali, masing-masing literature
sangat beragam dalam menjelaskan jumlah aliran dalam filsafat misalnya aliran eksistensialisme, fenomenologi, nihilisme, materialisme dan sebagainya.
[31] Op.
Cit., Ahmad Syadali dan Mudzakir, hal. 12.
[32] M. Solihin, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Modern (Bandung: Pustaka
Setia, 2007), hal. 15.
[33]
Alex Rosenberg, Philosophy of Science
A contemporary Iintroduction, (New york: Routledge, 2010), hal. 4.
[35] Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu:
Sejarah dan Ruang lingkup Bahasan,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 86.
[36] Op.
Cit., Mukhtar Latif, hal. 23-25.
[37] Op.
Cit., Mukhtar Latif, hal. 24-25.
[38] John Losee, A Historical
Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition, (London: Oxford
University Press), hal. 2.
[39] Ibid.
[40] Uhar Suharsaputra, Filsafat Ilmu Jilid I, (Jakarta:
Universitas Kuningan, 2004), hal. 91-92.
[41] Ibid.,
hal. 82.
[42] Ibid.,
hal. 26-28.
[44] Op.
Cit., Uhar Suharsaputra, hal. 85.
[45] Op.
Cit., Mukhtar Latif, hal. 25-26.
[47] Stathis
Psillos and Martin Curd, Introduction: Historical and Philosophical Context,
Canada: Routledge, 2008) XIX
[49] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi,
Aksiologi dan
logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar,
2010), hal. 53.
[50] JB. Blikolong, Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar
Seri diktat kuliah
(Jakarta: Universitas Gunadarma), hal. 7.
Download Document 9 September 2014.
[51] Op.
Cit., Mukhtar Latif, hal. 35-36.
[52] Stathis Psillos and
Martin Curd, Introduction: Historical and philosophical Context (Canada:
Routledge, 2008), hal. xix.
[53]
C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia,
1995), hal. 107-108.
[54] Ibid.
[55] Muhlisin, Filsafat dan Filsafat Ilmu (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2010), hal.
12-13.
[56] C. Verhaak dkk, FIlsafat Ilmu Pengetahuan,(Jakarta;
Gramedia, 1995) 107-108

No comments:
Post a Comment