BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemimpin transformasional adalah prespektif kepemimpinan yang
menjelaskan bagaimana pemimpin mengubah tim atau organisasi dengan menciptakan,
mengkomunikasikan dan membuat model visi untuk organisasi atau unit kerja dan
memberi inpirasi kepada para guru atau pegawai lainnya (konteks madrasah) untuk
berusaha mencapai visi tersebut. Pemimpin transformasional dalam setiap madrasah dapat dilihat dari visi yang dimiliki
seorang kepala madrasah, yang mana visi tersebut menjelaskan berbagai program
yang akan dilakukan oleh kepala madrasah untuk mengubah tim atau madrasah
tersebuh menuju visi yang ingin dicapai, sehingga peran kepala madrasah sangat
besar dalam hal menentukan perubahan madrasah tersebut.[1]
Pemimpin merupakan penggerak dari
suatu organisasi dalam mencapai tujuan,
sehingga dalam menggerakkan roda organisasi dibutuhkan sumber daya manusia yang
baik tidak hanya pemimpin tetapi seluruh anggota yang ada dalam organisasi
tersebut, karena sumber daya manusia merupakan komponen utama suatu organisasi
yang menjadi perencana dan pelaku aktif dalam setiap aktivitas organisasi. Mereka
mempunyai pikiran, perasaan, keinginan, status dan latar belakang pendidikan,
usia, jenis kelamin yang heterogen yang dibawa kedalam suatu organisasi
sehingga tidak seperti mesin, uang dan material, yang sifatnya pasif dan dapat
dikuasai dan diatur sepenuhnya dalam mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Sumber daya manusia baik yang menduduki
posisi pimpinan maupun anggota merupakan faktor terpenting dalam setiap
organisasi atau instansi baik pemerintah maupun swasta. Hal ini karena berhasil
tidaknya suatu organisasi atau instansi sebagian besar dipengaruhi oleh faktor
manusia selaku pelaksana pekerjaan. Begitu
juga dengan seorang kepala Madrasah, seorang pemimpin yang harus mampu
memberikan perubahan demi tercapainya visi dan misi yang sudah disepakati
bersama.
Kepemimpinan
dalam lembaga pendidikan adalah salah satu tema yang paling penting
dibincangkan. Karena
pemimpin di lembaga pendidikan adalah inspirator yang akan menggerakkan dan
menumbuhkan motivasi orang-orang yang ada di sekitarnya. Kita mengenal ada tiga
bentuk lembaga pendidikan di Indonesia, oleh karana itu, pemimpin di setiap
bentuk lembaga pendidikan yang dimaksud pastinya memiliki karakteristik yang
berbeda-beda, lembaga pendidikan yang dimaksud adalah Madrasah.
Setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih
yang melakukan kerjasama dengan ikatan resmi dalam melakukan kegiatan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang kemudian dikenal dengan sebutan
organisasi pastinya memiliki seseorang diantara orang-orang yang berada di
dalam organisasinya yang kemudian disebut dengan pemimpin. Organisasi memiliki
tiga komponen penting, pertama tujuan, karena tanpa tujuan, kumpulan
orang-orang tidak dapat disebut organisasi, kedua organisasi mempunyai program
atau kegiatan, kemudian strategi dan metode untuk mencapai tujuan organisasi,
sedangkan kompenen ketiga adalah pemimpin atau manajer yang bertanggung jawab
terhadap organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kepemimpinan
merupakan unsur penting untuk mendinamisasi hubungan kemanusiaan. Dengan adanya
hubungan kemanusiaan akan memungkinkan penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam
organisasi yang didasarkan atas penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sesuai dengan pengertian dari menajemen yaitu sebagai
pengelolaan usaha: kepengurusan,
ketatalaksanakan pengunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran
yang diinginkan.
Seorang pemimpin dalam hal ini kepala Madrasah memiliki
peran penting di Madrasah, mulai dalam tahap perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan sampai dengan mengontrol anggota-anggotanya. Sehingga kepala
Madrasah adalah orang yang memiliki sumber daya manusia yang baik mulai dari
aspek akhlak dan pengetahuanya dalam kata lain kepala Madrasah adalah
orang-orang pilihan yang mampu memberikan perubahan, tentunya dengan gaya atau
sifat kepemimpinan yang diterapkan. Karena gaya kepemimpinan sangat menentukan
pencapaian visi dan misi dari Madrasah.
Manajemen merupakan salah satu komponen yang penting di
dalam organisasi atau lembaga pendidikan umum dan Islam, dengan adanya
manajemen tersebut maka semua aktivitas akan terarah, efektif, efisien, dan
diharapkan akan tercapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk
menggerakkan jalannya proses menajemen diperlukan adanya seorang pemimpin
dengan gaya kepemimpinan yang harus tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan
oleh Madrasah. Tujuan mendasar manajemen adalah mendorong
terciptanya pengetahuan sehingga pengetahuan tersebut memberi kemampuan kepada
organisasi dalam hal ini kepala madrasah untuk
senantiasa memiliki daya saing, pengetahuan yang tercipta selanjutnya dapat
dibagi dan ditransfer baik antar karyawan, kelompok maupun seluruh organisasi.[2]
Kepemimpinan
merupakan salah satu bagian dari manajemen itu sendiri. Kepemimpinan disebut
juga dengan leadership, yaitu suatu seni tentang cara untuk mempengaruhi
orang lain kemudian mengarahkan keinginan, kemampuan dan kegiatan mereka untuk
mencapai tujuan pemimpin.
Dalam konteks kepemimpinan di lembaga pendidikan, kepemimpinan dijadikan
sebagai acuan utama untuk mengukur sejauh mana lembaga pendidikan tersebut baik
atau tidak, maju atau tidak, bermutu atau tidak dan lain sebagainya.
Permasalahan kepemimpinan di lembaga pendidikan sungguh perlu disikapi dengan arif dan
bijaksana.
Motivasi adalah keinginan untuk
bertindak. Setiap orang termotivasi oleh beberapa kekuatan yang berbeda.
Motivasi sebagai proses yang memperhitungkan intensitas, arah dan ketekunan
usaha individual terhadap pencapaian tujuan. Motivasi pada umumnya berkaitan
dengan setiap tujuan. Robbins dan Judge, McShane dan Von Glinow dalam Wibowo
memberikan defenisi motivasi sebagai kekuatn dalam diri orang yang mempengaruhi
arah (directing), intensitas (intencity) dan ketekunan (persistence) prilaku sukarela. Motivasi
juga merupakan proses psikologis yang membangkitkan (arousal) dan mengarahkan (direction).
Sedangkan elemen yang terkandung dalam motivasi meliputi unsur membangkitkan,
mengarahkan, menjaga, menunjukkan intensitas, bersifat terus menerus dan adanya
tujuan.[3]
Motivasi merupakan proses bukan
output atau hasil. Sebagai proses tidak dapat mengamatinya secara langsung
tetapi secara tidak langsung melalui tindakan-tindakan, seperti pilihan
kegiatan, usaha-usaha dan ketabahan. Motivasi membutuhkan kegiatan baik fisik
maupun phisik (mental). Kegitan fisik misalnya usaha-usaha, ketabahan dan
penggunaan keterampilan. Kegiatan mental misalnya penggunaan pengetahuan
seperti melakukan perencanaan, pengorganisasian, pemantauan, pembuatan
keputusan, pemecahan masalah dan sebagainya. Motivasi memiliki unsur kebutuhan,
keinginan dan dorongan.[4]
Motivasi akan menghasilkan kegigihan perilaku yang diarahkan untuk mencapai tujuan.
Motivasi dan motif sering dipakai dengan pengertian yang sama. Motivasi adalah
proses yang memberi semangat , arah, dan kegigihan perilaku. Manusia dalam
berinteraksi dengan lingkungannya sering sekali dipengaruhi oleh berbagai
motif. Motif tersebut berkaitan dengan keberadaan dirinya sebagai mahluk
biologis dan mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan lingkungannya. Motif
untuk berprestasi (achievement motive) adalah motif yang mendorong
seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan suatu ukuran
keunggulan (standard of excellence), baik berasal dari standar
prestasinya sendiri (autonomous standards) diwaktu lalu ataupun prestasi
orang lain (social comparison standard).
McClelland dalam Wibowo menjelaskan
motivasi berprestasi adalah dorongan yang dimiliki banyak orang untuk mengejar
dan mencapai tujuan menantang. Individu dalam dorongan ini mengharapkan
mencapai sasaran dan menaiki tangga keberhasilan. Karakteristiknya yaitu
bekerja lebih keras apabila merasa akan menerima penghargaan pribadi atas
usahanya, apabila resiko kegagalannya hanya sedang dan apabila mereka menerima
umpan balik tentang kinerja masa lalunya. Orang dengan dorongan kuat terhadap
prestasi mengambil tanggung jawab atas tindakan dan hasilnya, keinginan
mengontrol nasib, mencari umpan balik secara reguler dan menikmati menjadi
bagian kemenangan prestasi melalui usaha individual atau kolektif.[5]
Menurut Woolfolk pengertian
motivasi berprestasi sebagai suatu keinginan untuk berhasil, berusaha keras dan
mengungguli orang lain berdasarkan suatu standar mutu tertentu. Motivasi berprestasi
sebagai dorongan untuk sukses dalam situasi kompetisi yang didasarkan pada
ukuran keunggulan dibanding standarnya sendiri maupun orang lain. Motivasi berprestasi
adalah keinginan mencapai prestasi sebaik-baiknya, biasanya yang menjadi
ukurannya adalah diri sendiri (internal) ataupun orang lain (eksternal).
Terdapat kemiripan diantara penjelasan mereka dimana motivasi berprestasi pada
tiap individu memiliki suatu standar atau ukuran tertentu.
Motivasi berprestasi sebagai
keinginan untuk mencapai sukses dan berpartisipasi dalam kegiatan, dimana
sukses itu tergantung pada upaya dan kemampuan individu. Sama halnya dengan
Santrock yang merumuskan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu dorongan untuk
menyempurnakan sesuatu, untuk mencapai sebuah standar keunggulan dan untuk
mencurahkan segala upaya untuk mengungguli. Jadi motivasi berprestasi sangat
tergantung pada usaha dan upaya seseorang.
Motivasi berprestasi adalah
kecenderungan seseorang untuk berusaha meraih kesuksesan dan memiliki orientasi
tujuan, aktivitas sukses atau gagal. Dalam meraih kesuksesan dibutuhkan kerja
keras dan berusaha semaksimal mungkin menghindari kegagalan. McClelland mendefinisikan
motivasi berprestasi sebagai motivasi yang mendorong individu untuk mencapai
sukses, dan bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi atau persaingan dengan
beberapa ukuran keunggulan (standard of excelence). Ukuran keunggulan
itu dapat berupa prestasi sendiri sebelumnya atau prestasi orang lain. Motivasi
berprestasi sebagai keinginan untuk mencapai prestasi sesuai dengan standard
yang telah ditetapkan (Degeng).
Menurut Idris, mendefinisikan pendidikan
sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang
bertujuan, antara manusisa dewasa dengan si anak didik
secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam
arti supaya dapat mengembangkan potensinya
semaksimal mungkin, agar menjadi manusia dewasa yang
bertanggung jawab. Potensi tersebut berupa potensi fisik, emosi, sosial, sikap, moral, pengetahuan, maupun keterampilannya. Menurut Buchori, yang dimaksud dengan tingkat
pendidikan adalah tingkatan pendidikan yang
diperoleh secara formal yang dibuktikan dengan ijazah
formal, ijazah adalah tanda pengakuan bahwa seseorang telah menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
Dengan demikian ijazah dapat digunakan untuk
menunjukkan kemampuan seseorang.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia
nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 14, menyatakan bahwa jenjang pendidikan
formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Serta pasal 19 ayat 1
menyebutkan bahwa pendidikan tinggi merupakan
jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis,
dan doktor yang diselenggarakan oleh
pendidikan tinggi.
Batasan tingkat pendidikan guru dapat
diartikan jenjang pendidikan formal yang telah
diselesaikan oleh guru, dalam hal ini jenjang pendidikan tinggi yang mencakup program atau tingkat diploma, sarjana,
magister dan doktor. Tingkat diploma sendiri
terbagi menjadi Diploma Satu (D1), D2, D3, dan D4. Tingkat sarjana, magister, dan doktor yang dimaksud di sini
masing-masing sama artinya dengan Sarjana
Strata Satu (S1), S2, dan S3.[6]
Setiap sekolah mempunyai budayanya
sendiri yang berupa serangkaian nilai, norma, aturan moral dan kebiasan yang
telah membentuk prilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.
Sementara itu Short dan Greer mendefenisikan budaya sekolah sebagai keyakinan, kebijakan,
norma dan kebiasan dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat dan dipelihara
melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah.
Budaya sekolah merupakan konteks di
belakang layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma dan kebiasaan
yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di
sekoah. Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya pada kegiatan warga sekolah
tetapi juga motivasi dan semangatnya.[7]
Ada beberapa hal yang menjadi aspek keyakinan, nilai dan harapan sosial dalam
budaya sekolah yang semestinya dimiliki oleh kepala sekolah, guru dan karyawan
yaitu adanya pemikiran tentang perbaikan sebagai sesuatu yang penting, bekerja
secara kolaboratif dan adanya kekuatan kepercayaan yang tumbuh di antara kepala
sekolah, guru dan karyawan yang berorintasi untuk mencapai kemajuan sekolah
dengan kebersamaan.
Berdasarkan hasil obeservasi yang dilakukan oleh peneliti
bahwa masih kurangnya motivasi berprestasi guru, begitu juga dengan tingkat
pendidikan para guru yang dominan masih strata 1 sehingga untuk meningkatkan
motivasi berprestasi guru perlu adanya peningkatan tingkat pendidikan guru dari
SMA/SMK/MA menjadi strata 1 dan yang strata 1 menjadi strata 2. Akibat
kurangnya motivasi berprestasi siswa berhubungan dengan budaya madrasah yang
ada mulai dari penerapan tata tertib serta nilai-nilai yang dianut madrasah.
Kemudian permasalahan-permasalahan kepemimpinan di Madrasah tampak dari visi dan misi kepala madrasah yang
tidak mampu teraplikasi dengan baik. Sehingga banyak kepala madrasah yang
memiliki konsep visi dan misi yang baik tetapi dalam hal pelaksanaannya tidak
terlaksana secara optimal sehingga perubahan setiap unsur dalam madrasah tidak
tercapai sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan. Sehingga muncul
anggapan biarlah konsep visi dan misi biasa-biasa saja tetapi pelaksanaannya
harus luar biasa atau dapat terlaksana.
Sehingga apabila dikaji lebih lanjut hal tersebut bentuk
dari rasa keputusasaan dan ketidakmampuan seorang pemimpin dalam membentuk madrasah
yang baik sesuai dengan konsep visi dan misi yang telah dicanangkannya dengan
baik pula. Akibat dari hal tersebut sangat berpengaruh pada budaya atau
kebiasaan yang ada di madrasah mulai dari proses belajar mengajar dan kegiatan
ektrakulikuler yang di adakan di beberapa madrasah yang diteliti oleh peneliti
yaitu di MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Kabupaten Tanjung
Jabung Timur.[8]
Sehingga
sangat penting untuk diteliti mengenai kepemimpinan transformasional kepala madrasah terutama dalam meningkatkan budaya
madrasah baik dari sistem kinerja kepala madrasah, para guru dan pegawai yang
ada dalam madrasah mecapai perubahan menuju visi dan misi yang telah dicanangakan
oleh kepala madrasah sehingga terjadi hubungan antara setiap elemen yang ada di
madrasah tersebut. Adapun judul penelitian yang diangkat dalam penelitian ini
adalah Hubungan motivasi
berprestasi, tingkat pendidikan dan budaya madrasah dengan kepemimpinan transformasional
kepala madrasah di Provinsi Jambi (Survei di MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan
MAN 2 Tanjung Jabung Timur).
B. Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi dalam penelitian
ini yaitu tentang motivasi berprestasi, tingkat pendidikan, budaya madrasah dan kepemimpinan
transformasional kepala madrasah di Provinsi Jambi yaitu MAN Model Kota Jambi, MAN
2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur. Identifikasi
masalahnya sebagai berikut:
1. Kepemimpinan
transformasional yaitu mengenai pemimpin yang pembaru pemimpin yang mampu
memberikan perubahan untuk mencapai visi dan misi yang sudah dirumuskan.
2. Motivasi
berprestasi yaitu mengenai dorongan untuk berani
mengambil resiko dengan penuh perhitungan, lebih unggul, ingin menciptakan yang
terbaik dan selalu berusaha melakukan sesuatu secara inovatif dan kreatif.
3. Tingkat
pendidikan yaitu mengenai jenjang pendidikan yang dibuktikan dengan adanya
ijazah mulai dari Pendidikan dasar,
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar dan Pendidikan tinggi
merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah.
4. Budaya
madrasah yaitu mengenai kebiasaan lembaga
pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam yang di padukan dengan mata pelajaran
umum, tata tertib yang disusun berlandaskan ajaran Islam, warga madrasah
bekerja secara kolaboratif serta melakukan pekerjaan sebagai ibadah.
C. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya pembahasan masalah
tentang motivasi
berprestasi, tingkat pendidikan, budaya madrasah dan kepemimpinan
transformasional kepala madrasah di Provinsi Jambi Survei di MAN Model Kota Jambi,
MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur. Pembatasan
masalahnya yaitu:
1. Kepemimpinan
transformasional
Yaitu
pimpinan yang mampu membangun perubahan dalam tubuh
organisasi madrasah sesuai dengan
nilai-nilai yang ditetapkan dengan memberdayakan seluruh komunitas madrasah
melalui komunikasi yang terarah, agar para pengikut dapat bekerja lebih energi
dan terfokus, sehingga pengajaran dan pembelajaran menjadi bersifat
transformatif bagi setiap orang.
2. Motivasi
berprestasi
Yaitu
suatu dorongan yang
berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat, lebih efisien
dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya, sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang
dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri.
3. Tingkat
pendidikan
Yaitu
tingkatan pendidikan yang diperoleh secara formal yang dibuktikan dengan ijazah formal, ijazah adalah tanda pengakuan bahwa seseorang
telah menyelesaikan suatu program pendidikan
dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
4. Budaya
madrasah yaitu
Yaitu
kebiasaan yang kuat yang meliputi keyakinan, nilai, norma
dan kebiasaan yang mempengaruhi setiap warga sekolah dengan berbasis ajaran
agama Islam mulai dari tata tertib, kurikulum pelajaran, kegiatan
ekstrakulikuler dan adab setiap warga madrasah.
D. Rumusan Masalah
1. Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi (X1)
dengan Kepemimpinan Transformasional Kepala
Madrasah (Y) di
MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
2. Apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan (X2)
dengan Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah (Y) di MAN Model Kota
Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
3. Apakah terdapat hubungan antara budaya madrasah (X3)
dengan Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah (Y) di MAN Model Kota
Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
4. Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi (X1),
tingkat pendidikan (X2)
dan budaya madrasah (X3)
secara bersamaan dengan Kepemimpinan
Transformasional Kepala Madrasah (Y) di MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan
MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
E.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui apakah terdapat hubungan
antara motivasi berprestasi (X1)
dengan Kepemimpinan Transformasional Kepala
Madrasah (Y) di
MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
2. Mengetahui apakah terdapat hubungan
antara tingkat pendidikan (X2)
dengan Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah (Y) di MAN Model Kota
Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
3. Mengetahui apakah terdapat hubungan
antara budaya madrasah (X3)
dengan Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah (Y) di MAN Model Kota
Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
4. Mengetahui apakah terdapat hubungan
antara motivasi berprestasi (X1),
tingkat pendidikan (X2)
dan budaya madrasah (X3)
secara bersamaan dengan Kepemimpinan
Transformasional Kepala Madrasah (Y) di MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan
MAN 2 Tanjung Jabung Timur?
Adapun
kegunaan penelitian ini adalah:
1. Menambah khazanah ilmu pengetahuan Islam mengenai motivasi
berprestasi, tingkat pendidikan dan budaya madrasah dengan kepemimpinan
transformasional kepala madrasah di Provinsi Jambi.
2. Memberikan kontribusi pemikiran
mengenai motivasi berprestasi, tingkat pendidikan dan budaya madrasah dengan
kepemimpinan transformasional kepala madrasah di Provinsi Jambi.
3. Sebagai alternatif solusi terhadap masalah-masalah
kepemimpinan kepala madrasah yang ada di Provinsi Jambi dengan konsep
kepemimpinan transformasional.
4. Untuk menyelesaikan studi program doktor di IAIN Sultan
Thaha Saifuddi Jambi.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, HIPOTESIS PENELITIAN DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
A. Landasan Teori
1. Kepemimpinan Transformasional (Y)
Kepala
madrasah sebagai pemimpin adalah subjek yang harus melakukan transformasi
kepemimpinan melalui pemberian bimbingan, tuntutan atau ajaran kepada yang
dipimpinnya agar tujuan madrasah dapat tercapai. Penerapan pola kepemimpinan
transformasional dapat menunjang terwujudnya perubahan sistem permadrasahan.[9]
Kepala madrasah harus memiliki kesungguhan dan keyakinan
dalam mengerjakan kewajibannya dalam mencapai tujuan atau visi dan misi yang
sudah ditetapkan. Kepala madrasah sebagai pemimpin dalam pengelolaan pendidikan
berarti harus memiliki tanggung jawab dan kesungguhan dalam memimpin dalam
mencapai tujuan atau visi dan misi madrasah tersebut yang tetap bermuara pada
makna dan tujuan pendidikan nasional yaitu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.[10]
Berbagai tuntutan terhadap kinerja kepala madrasah masih
belum dapat dipenuhi, seperti masih banyaknya kepala madrasah yang siswanya
berprestasi rendah, ketidakdisiplinan siswa dan guru, kurangnya kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran, penguasaan sebagian guru terhadap bidang keilmuan
atau mata pelajarannya belum memadai, dan lambannya staf pengajar dan tata
usaha dalam melayani kebutuhan siswa.
Masalah-masalah
ini merupakan cerminan kurangnya kemampuan kepala madrasah membedayakan komunitasnya
untuk berkinerja tinggi. Kepala madrasah seharunya mampu mengelola semua sumber
daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan di
madrasahnya. Adanya perubahan paradigma baru pendidikan, diperlukan juga
perubahan paradigma kepemimpinan kepala madrasah yang profesional.
Permasalahan yang dihadapi di
madrasah, pola kepemimpinan transformasional merupakan salah satu pilihan bagi
kepada madrasah untuk memimpin dan mengembangkan madrasah yang berkualitas.
Kepemimpinan transformasional memiliki penekanan dalam hal pernyataan visi dan
misi yang jelas, penggunaan komunikasi secara efektif, pemberian rangsangan
intelektual, serta perhatian pribadi terhadap permasalahan individu anggota
organisasinya.
Kepala
madrasah akan mampu meningkatkan kinerja staf pengajarnya dalam rangka
mengembangkan kualitas madrasahnya. Penerapan kepemimpinan transformasional
juga diperlukan karena berbagai informasi terkini seyogiyanya dapat
ditransformasikan kepada guru, tenaga administrasi, siswa, dan orang tua
melalui sentuhan persuasif, psikologis, dan edukatif dari kepala madrasah.
Kepala madrasah adalah pemimpin, makna pemimpin menurut Nanang
Fattah adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi prilaku
orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[11] Dalam bukunya Veithzal
Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar dijelaskan bahwa pemimpin adalah seseorang
yang mempunyai keahlian memimpin, mempengaruhi tanpa menanyakan
alasan-alasannya. Pemimpin adalah orang pilihan yang
memiliki kemampuan dalam mewujudkan tujuan. Tujuan tersebut tidak akan tercapai
tanpa adanya kemampuan seorang pemimpin dalam mengatur dan mempengaruhi
anggotanya, dalam hal ini apabila dikaitkan dengan lembaga pendidikan yaitu
kemampuan kepala madrasah dalam memimpin lembaga pendidikannya.[12]
Sedangkan kepemimpinan dapat diartikan sebagai apa yang
dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses dimana para pemimpin menggunakan
pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan atau
yang dipimpinnnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta
membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi, dalam hal ini
lembaga pendidikan.[13]
Di dalam Al Qur’an sudah
dijelaskan bahwa manusia
adalah makhluk Allah SWT yang paling tinggi dibanding makhluk lainnya.
Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir,
kemampuan untuk memilah
dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya
mampu mengelola pendidikan
dengan baik. Tidak hanya pendidikan yang perlu dikelola
dengan baik, kehidupan sosial
manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya
manusia yang berkualitas.
Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling
tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Allah SWT sudah menggariskan bahwa manusia diciptakan di
bumi ini sebagai khalifah fil ardhi yang
mengelola setiap sumber daya alam dan memiliki potensi untuk memimpin diri
sendiri dan orang lain, walaupun para malaikat menolak tetapi Allah SWT Maha
Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat, sebagaimana firman
Allah SWT:
øÎ)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkÏù `tB ßÅ¡øÿã $pkÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.”
Manusia yang berjiwa pemimpin akan dapat
mengelola diri, kelompok dan
lingkungan dengan baik. Khususnya dalam
sistem pendidikan, seorang pemimpin memiliki peran karena pemimpin pada
hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi prilaku
orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah
kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan
tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Menurut Stoner semakin banyak jumlah
sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin akan makin besar potensi
kepemimpinan yang efektif.[14]
Ada banyak pengertian kepemimpinan oleh para ahli yang
menjadi bagian dari pemahaman tentang kepemimpinan transformasional yaitu kepemimpinan
dapat diartikan sebagai apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di
mana para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi
bagi para pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnnya, memotivasi mereka untuk
mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam
organisasi.[15]
Kepemimpinan
adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari
orang-orang dalam kelompok. Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu
bawahan atau karyawan yang akan dipimpin, kepemimpinan juga melibatkan pembagian
kekuasaan (power)[16]. Kepemimpinan sebagai
sifat dan perilaku untuk mempengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja
sama sehingga membentuk jalinan kerja yang harmonis dengan pertimbangan aspek
efisien dan efektif untuk mencapai tingkat produktivitas kerja sesuai dengan
yang telah di tetapkan.[17]
Kepemimpinan
sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin, untuk mempengaruhi perilaku orang
lain menurut keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu. Kepemimpinan
merupakan suatu pertumbuhan alami dari orang-orang yang berserikat untuk suatu
tujuan dalam suatu kelompok.[18] Kepemimpinan adalah
kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mau melakukan kegiatan
yang di arahkan oleh seorang pimpinan.[19] Kepemimpinan adalah
setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi
dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah
tertentu untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya.[20]
Ordway
Tead dalam bukunya The Art of Leadership menyatakan kepemimpinan adalah
kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan
yang diinginkan, sedangkan George R. Terry dalam bukunya Principle of
Management berkata, kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang
agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.[21]
Pengertian kepemimpinan tersebut, kepemimpinan merupakan
proses dari apa yang dilakukan oleh pemimpin, mulai dari mengatur, mengawasi
dan mengelola serta mempengaruhi anggotanya untuk mencapai visi dan misi yang
sudah ditentukan. Pencapaian visi dan misi tersebut merubah bentuk pola
keorganisasian yang sudah ada, mulai dari program kerja, ketatausahaan dan
pengelolaan pendanaan.
Salah
satu inti aktivitas kepemimpinan
adalah melakukan transformasi.
Kepemimpinan transformasional kepala madrasah menuntut kemampuannya dalam
berkomunikasi, terutama komunikasi persuasif. Kepala madrasah yang mampu
berkomunikasi secara persuasif dengan komunitasnya akan menjadi faktor
pendukung dalam proses trasnformasi kepemimpinannya.
Sebaliknya, pemimpin yang tidak mampu berkomunikasi
secara persuasif dengan komunitasnya akan menjadi penghambat transformasi
kepemimpinannya. Selain itu, komunikasi dan motivasi berprestasi dari kepala
madrasah juga turut mewarnai perilaku pelayanan pendidikan kepada peserta didik
dan masyarakat melalui pola kepemimpinan yang diterapkannya.
Perilaku
kepemimpinan tidak berada pada konteks yang kosong, melainkan ditentukan oleh multifaktor. Salah
satunya adalah dorongan dari dalam diri mapun dari luar. Dorongan yang berasal
dari dalam diri kepala madrasah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memiliki
nilai yang berbeda dengan dorongan yang berasal dari luar dirinya. Dorongan
dari dalam termanifestasi dalam bentuk kemauannya untuk berusaha dan berprestasi
akan menggambarkan pola kepemimpinannya dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Kesediaan untuk bekerja keras, juga merupakan salah satu faktor yang ikut
menentukan motivasi berprestasi kepala madrasah.
Untuk menjadi pemimpin yang efektif, kepala madrasah
selain dipengaruhi oleh faktor motivasi yang dimilikinya, juga dipengaruhi oleh
kemampuannya, baik kemampuan intelektual maupun kemampuan dalam mengatur atau mengelola
organisasi madrasah (kemampuan bidang kekepalamadrasahan), berupa pengelolaan ke
dalam (internal) atau pengelolaan keluar (eksternal). Robbins
berpendapat bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi ke arah
pencapaiaan tujuan. Kemampuan mempengaruhi bisa didapatkan dari posisi formal
ataupun informal. Kepemimpinan yang berasal dari stuktur formal bersinggungan
erat dengan fungsi manajemen.[22]
Manajemen
dan kepemimpinan seringkali menjadi kembaran. Manajemen merupakan suatu proses
menyelesaikan aktivitas secara efesien
dengan atau melalui orang lain dan berkaitan dengan rutinitas suatu organisasi,
sedangkan kepemimpinan muncul jika ada upaya mempengaruhi individu atau
kelompok dan berhubungan dengan perubahan. Penguasaan kepala madrasah mengenai
manajeman sangat besar efeknya terhadap mendayagunakan seluruh potensi yang
dimiliki madrasah. Potensi tersebut mencakup manusia dan nonmanusia yang harus
diberdayakan ke arah pencapaiaan tujuan secara efektif dan efesien.
Oleh
karena kemampuan manajeman dan kepemimpinan merupakan kembaran, maka
pengetahuan kepala madrasah sebagai pemimpin juga mencakup penguasaan atas
proses manajemen. Salah satu proses manajemen yang sangat dikenal dalam
literatur akademik, yaitu POAC, singkatan dari perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), menggerakkan (actuating) dan
pengendalian (controlling). Penguasaan pengetahuan kepala madrasah akan
proses manajemen berpengaruh terhadap penerapan pola kepemimpinan dan kemampuan
memimpin kepala madrasah dalam mewujudkan visi dan misi madrasah.[23]
Uraian
di atas menggambarkan bahwa manajemen tidak dapat dipisahkan dengan
kepemimpinan, meski hal itu dapat saja dibedakan. Kepemimpinan merupakan fungsi
penting bagi kepala madrasah karena dalam fungsi tersebut kepala madrasah
harus membina dan mengembangkan madrasah agar berkualitas dan unggul. Oleh
karena itu penelitian tentang perilaku gaya kepemimpinan, khususnya di
lingkungan madrasah selalu bersifat kekinian (up to date) untuk
dilakukan, karena dinamika madrasah yang unik dibandingkan dengan institusi
sosial lainnya.
Transformasi
esensinya adalah mengubah potensi menjadi energi nyata. Kepala madrasah yang
mampu melakukan transformasi kepemimpinan berarti dapat mengubah potensi
institusinya menjadi energi untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar
siswa. Dengan demikian, kepemimpinan transformasional kepala madrasah dapat
diartikan sebagai bentuk atau gaya yang diterapkan kepala madrasah dalam
mempengaruhi bawahannya (guru, tenaga administrasi, siswa, dan orang tua
peserta didik) untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Kepemimpinan
dipandang sebagai kajian yang menarik untuk terus diggali dan diteliti,
mengingat kepemimpinan memiliki banyak sudut (dimensi) dan merupakan fenomena
yang paling sedikit dipahami. Harsiwi berpendapat bahwa fenomena kepemimpinan
di negara Indonesia juga telah membuktikan bagaimana kepemimpinan telah
berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan berpolitik dan bernegara. Dalam
dunia bisnis, kepemimpinan berpengaruh sangat kuat terhadap jalannya organisasi
dan kelangsungan hidupnya.[24]
Organisasi
apapun jenisnya, termasuk organisasi madrasah, biasanya memiliki seorang
pemimpin yang mempunyai kewenangan dan “kekuasaan” tertinggi dalam
penyelenggaraan kegiatan organisasi perlu ada pengaturan mengenai pembagian
tugas, cara kerja, dan hubungan antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. Di
sinilah diperlukan adanya seorang pemimpin. Mulyasa mengemukakan, kegagalan dan
keberhasilan suatu organisasi banyak ditentukan oleh pemimpinnya, karena
pemimpin merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh oleh
organisasi menuju tujuan yang akan dicapai.
Kebijakan
pemerintah dan organisasi masyarakat penyelengara pendidikan untuk melakukan
reformasi pendidikan bersifat kompleks, tidak hanya sekedar restruktur
madrasah. Prakarsa ini harus mencakup reformasi di bidang manajemen mulai dari
perencanaan, pengorganisasian yang kuat dan ramping, penataan staf pengajar
yang yang sesuai dengan keahlian, koordinasi yang mantap, pengawasan yang
kondusif, penganggaran yang layak, dan evaluasi atas kriteria keberhasilan yang
jelas. Pada tataran sumber daya manusia, reformasi menyangkut sikap mental,
kemauan untuk berubah, kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan,
nilai-nilai madani, profesionalisme, kolaborasi dengan lembaga eksternal.
Tantangan
terberat dalam kerangka restrukturasi madrasah adalah dari perspektif kepala
madrasah, bagaimana membangun sebuah penalaran dan penerjemahaman satu
kebijakan ke tingkat praksis sebuah gaya kepemimpin transformasional di
madrasah. Kepemimpinan transformasional diyakini akan mampu menjawab
restrukturasi madrasah secara kekinian.
Karena
hadirnya kepemimpinan transformasional menurut Leitwood dan Jantzi sangat
potensial dalam membangun komitmen tingkat tinggi pada diri guru untuk
merespons kompleksitas dan ketidakpastian yang bersifat alami atau warisan
tradisi dari agenda reformasi madrasah. Implementasi kepemimpinan
transformasional akan mempermudah usaha kepala madrasah mempercepat atau
melakukan percepatan pertumbuhan kapasitas guru-guru dalam membangun diri,
bekerja lebih cerdas, bahkan lebih keras untuk mewujudkan reformasi madrasah.
Kajian
tentang kepemimpinan transformasional di lembaga permadrasahan belum begitu
intensif dilakukan. Meski demikian, kajian di bidang ini tidak sepenuhnya baru,
kebanyakan para pengarang dan peneliti masih berkutat pada teori-teori lama
yang menonjolkan beberapa gaya kepemimpinan, seperti gaya kepemimpinan
autokratis, demokratis, otoriter, situasional dan lain-lain.
Dalam
bidang pendidikan, seiring dengan upaya pembaruan yang dilakukan, bentuk
kepemimpin dipandang penting untuk diformulasikan. Teori kepemimpinan yang
telah berkembang selama ini termasuk dalam model kepemimpinan transaksional.
Kepemimpinan transaksional ditandai dengan pemimpin yang memandu atau memotivasi
bawahannya mengarah pada pencapaian tujuan dengan memperjelas peran dan
tuntutan tugas.
Menurut
Bass sebagaimana yang dikutip Blandford, pemimpin-pemimpin transaksional
berusaha mempertimbangkan cara untuk menggantikan suatu tujuan dengan tujuan
lain, bagaimana mengurangi resistensi terhadap tindakan-tindakan tertentu dan
mengimplementasikan keputusan-keputusan. Seiring dengan tuntutan iklim kerja,
sedikit demi sedikit terjadi pergeseran pendekatan kepemimpinan, yaitu dari
transaksional ke kepemimpinan transformasional. Walaupun demikian bukan berarti
kepemimpinan transaksional merupakan pendekatan yang berlawanan dengan kepemimpinan
transformasional, karena kepemimpinan transformasional dapat dibangun dari
pendekatan transaksional.
Pemimpin yang transformasional juga dapat dilihat dari
sisi agama, yaitu pemimpin dengan visi dan misinya dapat mengubah bentuk
organisasi dalam kemajuan serta mendatangkan manfaat bagi setiap unsur yang ada
dalam organisasi (dalam hal ini madrasah) tersebut. Dalam Veithzal Rivai,
Bachtiar dan Boy Rafli Amar dijelaskan tentang hakikat kepemimpinan dalam agama
yaitu seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab, tidak hanya pada pribadi
sendiri, publik tetapi kepada Allah SWT sehingga tidak boleh merasa bahwa
menjadi manusia istimewa karena pemimpin adalah amanah.
Pemimpin juga harus berkorban, pemimpin bukanlah untuk
menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi
yang menyenangkan, tapi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang rela berkorban,
kemudian kerja keras bukan santai. Kewenangan yang dimiliki pemimpin untuk
melayani bukan sewenang-wenang. Pemimpin harus menjadi teladan memberikan
contoh yang baik dari segala aspek kehidupan bagi anggotanya dan pemimpin
adalah pelopor buka pengekor dalam mencapai visi dan misi.[25]
Pencapaian visi dan misi yang mengubah organisasi menuju
keberkahan dan manfaat dengan motivasi seorang pemimpin serta mampu membangkitkan semangat dan
motivasi anggotanya. Karena motivasi merupakan unsur
penting dalam suatu aktivitas kerja, karena motivasi merupakan kekuatan
pendorong yang akan mewujudkan perilaku.
Motivasi adalah kejiwaan dan sikap mental manusia yang
memberikan energi, mendorong kegiatan atau gerakan yang mengarah dan menyalurkan
perilaku kearah mencapai kebutuhan yang member kepuasan atau mengurangi
ketidakseimbangan. Kebulatan tekad seorang pemimpin dilihat dari motivasi yang
dimilikinya sehingga tampak kesungguhan dan keyakinannya.[26] Definisi lain tentang
motivasi dijelaskan oleh Stephen P. Khobbins dan Marry Coulter sebagaimana
dikutip oleh Winardi bahwa motivasi adalah kesediaan untuk melaksanakan upaya
dalam mencapai tujuan keorganisasian yang dikondisikan oleh kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan individual tertentu.[27]
Istilah-istilah
yang berbeda banyak dipakai psikolog dalam menyebut sesuatu yang menimbulkan
perilaku, ada yang meneyebut sebagai motivasi (motivation) atau motif,
kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish) dan
dorongan (drive).[28]
Istilah motivasi diambil dari istilah latin movere yang berarti
“pindah”. Dalam konteks sekarang, motivasi adalah proses-proses psikologis
meminta, mengarahkan, arahan dan menetapkan tindakan sukarela yang mengarah
pada tujuan.[29]
Motivasi
setiap pemimpin berbeda-beda tergantung yang melatarbelakangi. Namun dasarnya
motivasi akan mempengaruhi prestasi dan produktivitas kerja pemimpin sendiri.
Dalam bukunya yang berjudul Bekerja dengan Hati Nurani, Akh. Muwafik Saleh
mengatakan selama ini, banyak pemimpin atau orang bekerja untuk mengajar materi
belaka demi kepentingan duniawi, mereka tak sedikitpun memerdulikan kepentingan
akhirat kelak. Oleh karena itu sudah saatnya para pemimpin bekerja dengan
motivasi yang dapat memberikan kepribadian yang baik dan dibenarkan oleh Islam
yang harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:[30]
Sebelum
bekerja, pemimpin harus mengetahui apa niat dan motivasi dalam bekerja, niat
inilah yang akan menentukan arah pekerjaan. Jika niat bekerja hanya untuk
mendapatkan gaji, maka hanya itulah yang akan didapat. Tetapi jika niat bekerja
sekaligus untuk menambah simpanan akhirat, mendapat harta halal, serta
menafkahi keluarga, tentu akan mendapatkan sebagaimana yang diniatkan.
Rasulullah SAW bersabda: Dari Sa‟ad bin Abu Waqqash ra, Rasulullah SAW bersabda
kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan (bekerja) yang kamu
niatkan untuk mencari keridhaan Allah niscaya kamu akan diberi pahala sebagai
apa yang kamu sediakan untuk makan istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim).
Takwa
di sini terdapat dua pengertian. Pertama, taat melaksanakan perintah dan
menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Kedua, sikap tanggung jawab seorang muslim
terhadap keimanan yang telah diyakini dan diikrarkannya. Pemimpin yang bertakwa
dalam bekerja adalah pemimpin yang mampu bertanggung jawab terhadap segala
tugas yang diamanahkan. Pemimpin yang bertakwa atau bertanggung jawab akan
selalu menampilkan sikap-sikap positif, untuk itu pemimpin yang bertakwa dalam
bekerja akan menampilkan sikap-sikap sebagai berikut: Bekerja dengan cara
terbaik sebagai wujud tanggung jawab terhadap kerja dan tugas yang diamanahkan,
menjauhi segala bentuk kemungkaran untuk dirinya dan orang lain dalam bekerja.
Misalnya, tidak malas-malasan, merugikan rekan kerja, dan sebagainya. Taat pada
aturan. Hanya menginginkan hasil pekerjaan yang baik dan halal. Allah SWT
menjamin balasan kepada orang-orang yang bertaqwa dalam kehidupan ini, termasuk
dalam bekerja.
Ikhlas
adalah syarat kunci diterimanya amal perbuatan manusia disisi Allah SWT. Suatu
kegiatan atau aktivitas termasuk kerja jika dilakukan dengan keikhlasan maka
akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT. Adapun ciri-ciri pemimpin yang bekerja
dengan Ikhlas yaitu bekerja
semata-mata mengharap ridha Allah SWT dan bersih dari segala maksud pamrih dan
ria. Penuh semangat dalam mengerjakan seluruh tugas pekerjaan. Tidak merasa
rendah karena makian atau cercaan sehingga tidak mengurangi semangat dalam
bekerja. Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib. Ini
menandakan bagaimana penting mencari rezeki yang halal.
Dengan
demikian, motivasi kerja dalam Islam bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi
sebagai kewajiban ibadah fardlu lainnya. Islam sangat layak untuk dipilih
sebagai jalan hidup (way of life). Islam tidak hanya berbicara tentang
moralitas akhlak, tetapi juga memberikan peletakan dasar tentang konsep-konsep
membangun kehidupan dan peradaban tinggi. Islam menganjurkan umatnya agar
memilih aktivitas dan karir yang benar-benar selaras dengan kecenderungan dan
bakatnya. Dengan demikian, Islam meletakkan dasar yang kuat akan kebebasan
berusaha.
Hanya
saja, untuk menghindari gejala-gejala kejahatan, Islam meletakkan
batasan-batasan. Tujuan itu dinyatakan dalam Al-Qur‟an dengan ungkapan bahwa
bekerja adalah ibadah. Menurut syari‟at, keridhaan Allah SWT tidak akan
didapatkan jika kita tidak melaksanakan tugas tekun, sungguh dan sempurna.
Ambisi seorang mukmin dalam bekerja yang paling utama adalah mendapatkan ridha
Allah SWT. Dari ambisi yang mulia ini timbul sikap jujur, giat dan tekun.[31]
Firman Allah SWT (Q.S. At Taubah: 105):
È@è%ur (#qè=yJôã$# uz|¡sù ª!$# ö/ä3n=uHxå ¼ã&è!qßuur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( cruäIyur 4n<Î) ÉOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»pk¤¶9$#ur /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ
Artinya: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata,
lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
Ayat di atas memerintahkan agar kita bekerja, kerja
itulah yang akan dilihat Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut
tidak selalu bahwa yang satu dianugerahi derajat lebih tinggi dari yang lain,
tetapi dimaksudkan bahwa kelebihan itu tidak lain daripada kelebihan keahlian
dalam bidang kerja masing-masing. Dengan demikian,
setiap pemimpin atau orang pasti mempunyai kelebihan atas orang lain dalam
bidang kerja tertentu dan dengan adanya kelebihan inilah setiap orang
memerlukan bantuan orang lain untuk dapat terselenggaranya kebutuhan-kebutuhan
hidupnya.
Kepala sekolah dalam menjalankan program kerja yang sudah
ditetapkan dengan tujuan visi dan misi yang memuat nilai-nilai kejujuran, adil,
mandiri, bekerja keras, melayani, peduli dan inovatif.[32]
Karena kepala sekolah yang menegaskan visi dan misidi sekolah memang dianggap
sebagai sekolah yang efektif karena kepala sekolah di sekolah efektif mempunyai
komitmen yang tinggi dan berusaha untuk mencapai visi dan misi serta
menggalakkan etika kerja yang berkualitas tinggi dan akuntabilitas di kalangan
staf.[33]
Ide
teori kepemimpinan transformasional atau transformational leadership
diawali oleh James McGregor Burns dalam
bukunya yang mendapat pulizer dan National Book Award yang
berjudul Leadership dalam Sudarwan Danim dan
Suparno. Burns dalam Sudarwan Danim dan Suparno
menggunakan istilah mentransformasi kepemimpinan (transforming leadership),
di mana yang mentransformasikan adalah kepemimpinannya dari peimimpin ke
pengikut.
Istilah
kepemimpinan transformasional (transformation leadership) adalah proses
mempengaruhi secara transformational,
yang dikemukan oleh Bass (1985) dalam bukunya berjudul Leadership and
Performqance Beyond Expectations. Selanjutnya kepemimpinan transformasional
menjadi istilah yang lebih banyak dipakai secara umum dalam ilmu kepemimpinan.[34]
Berkaitan
dengan kepemimpinan transformasional, Leithwood dkk, mengemukakan: “Transformational
leadership is seen to be sensitive to organization building, developing shared
vision, distributing leadership and building school cultute necessary to
current restructuring effors in schools”. Esensi pendapat ini, bahwa
kepemimpinan transformasional memiliki ciri dominan, yaitu:[35] memliki sensitivitas
terhadap pengembangan organisasi, mengembangkan
visi bersama antarkomunitas organisasi, mendistribusikan
peran kepemimpinan, mengembangkan
kultur madrasah dan melakukan
usaha-usaha restrukturisasi di madrasah
Kepemimpinan
transformasional seringkali dipersandingkan dengan kepemimpinan transaksional,
karena setiap perilaku kepemimpinan melahirkan transaksi antara pemimpin dan
yang dipimpin. Menurut Bass kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang
memelihara atau melanjutkan status quo, sedangkan kepemimpinan
transformasional melibatkan perubahan gaya dalam organisasi, bertentangan
dengan kepemimpinan yang dirancang untuk memelihara status quo.
Kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan
yang mengutamakan pemberian kesempatan dan atau mendorong semua unsur yang ada
di madrasah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur, sehingga semua
unsur yang ada di madrasah (guru, siswa, staf pengajar dan staf lainnya, orang
tua siswa, masyarakat dan sebagainya) bersedia, tanpa paksaan, berpartisipasi
secara optimal dalam rangka mencapai tujuan madrasah. Menurut
Luthans ada ciri-ciri dominan seorang yang berhasil menerapkan gaya
kepemimpinan transformasional. Ciri-ciri dimaksud sebagai berikut:[36]Mengidentifikasi
dirinya sebagai agen pembaruan, memiliki
sifat pemberani, mempercayai
orang lain, bertindak
atas dasar sistem nilai (bukan atas dasar kepentingan individu, atas dasar
kepentingan dan desakan kroninya), meningkatkan
kemampuannya secara terus menerus, memiliki
kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas dan tidak menentu dan memiliki visi ke dapan.
Adanya pendekatan kepemimpinan transformasional bukan
berarti kepemimpinan transaksional atau lainnya menjadi usang, karena
kepemimpinan terkait dengan gaya dan karakter pemimpin, sehingga tidak dapat
dikatakan bahwa selain kepemimpinan transformasional, kepemimpinan lainnya
tidak dapat diterapkan.
Kepemimpinan
transformasional dapat dikatakan berupaya menggiring SDM yang dipimpin ke arah
tumbuhnya sensitivitas pembinaan dan pengembangan organisasi, pengembangan visi
secara bersama, pendistribusian kewenangan kepemimpinan, dan membangun kultur
organisasi madrasah yang menjadi keharusan dalam skema restrukturasi madrasah
dan menurut apa yang dirasakan oleh guru.
Hal
itu memberi sumbangan bagi perbaikan perolehan belajar pada siswa. Kontribusi
ini diperoleh dengan dukungan orang lain, peristiwa-peristiwa dan faktor-faktor
organisasi, seperti komitmen guru, kepuasan kerja guru, praktik-praktik
pembelajaran atau kultur madrasah. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan
transformasional memiliki fokus transformasi pada guru sebgai ujung tombak
pembelajaran.
Pada
setiap proses transformasional, keberhasilan seorang pimpinan sebagian akan
tergantung kepada sikap, nilai, dan keterampilannya. Menurut Yukl, pemimpin
transformasional yang efektif mempunyai atribut-atribut sebagai berikut:[37] mereka melihat diri mereka
sendiri sebagai agen perubahan, mereka
adalah pengambil resiko yang berhati-hati, mereka
yakin pada orang-orang dan sangat peka terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka, mereka mampu
mengartikulasikan sejumlah nilai inti yang membimbing perilaku mereka, mereka fleksibel dan terbuka
terhadap pelajaran dan pengalaman, mereka
mempunyai keterampilan kognitif, mereka
memiliki keyakinan pada pemikiran yang berdisiplin dan kebutuhan akan analisis
masalah yang hati-hati dan mereka
adalah orang-orang yang mempunyai visi yang mempercayai instuisi mereka.
Berbeda dengan pendekatan kepemimpinan yang lain menuntut
bawahannya untuk mengikuti arahan yang diberikan pemimpin, pimpinan
transformasional lebih “memotivasi bawahan untuk berbuat lebih dari apa yang
sesungguhnya diharapkan”. Dengan meningkatkan
pemahaman bawahan akan arti penting dari nilai tugas, akan mendorong mereka mau
berkorban demi kepentingan organisasi atau negera, dan menaikkan tingkat
kebutuhan ke taraf yang lebih tinggi seperti aktualisasi diri.
Berkaitan
dengan kepemimpinan transformasional ini, Burd mengemukakan bahwa kepemimpinan
transformational merupakan pendekatan yang diterapkan dalam rangka
mempertahankan pemimpin dan organisasinya dengan cara menggabungkan tiga unsur,
yaitu strategi, kepemimpinan, dan budaya,
yaitu:[38]
Strategi
merupakan kemampuan menetapkan arah yang akan dituju, mendefenisikan dan
menerapkan rencana strategi untuk pencapaiaan tujuan atau misi, membangun visi,
membangun kesamaan visi, menterjemahkan visi dan misi ke dalam aksi,
mengembangan komitmen untuk prestasi kerja, dan menerapkan startegi secara
operasional keorganisasian.
Upaya
mewujudkan visi menjadi realita menuntut kapasitas kepemimpinan yang kuat, juga
unggul. Salah satu keunggulan yang harus ditampilkan oleh kepala madrasah
adalah kemampuan untuk mewujudkan lembaganya sebagai suatu organisasi
pembelajaran yang bedampak pada rekulturisasi madrasah, sehingga organisasi
madrasah yang awalnya bersifat hierarkis dan birokratis berubah cenderung
“datar” dan akomodatif”.
Kemampuan
kepemimpinan kepala madrasah tercermin dari realisasi semua program berdasarkan
strategi semua dengan fungsi dan situasi yang dihadapi. Seorang kepala madrasah
sejati dapat mempengarui dan diakui oleh bawahan, memotivasi anggota komunitas
madrasah untuk mengkader-diri menjadi pemimpin masa depan, menciptakan
lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan organisasi, mempertahankan kejayaan
organisasi madrasah, dan membuat cara kerja yang lebih mudah.
Menurut George R. Terry dan Leslie W. Rue[39]
bahwa memandang kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin, untuk
mempengaruhi prilaku orang lain menurut keinginan-keinginannya dalam suatu
keadaan tertentu. Perlu diketahui kepemimpinan merupakan studi yang menunjukan
kompleksitas. Hal ini terlihat antara lain dari pengertian dan hakekat
kepemimpinan, teori kepemimpinan serta fungsi atau peran-peran yang dapat
dilakukan oleh seorang pemimpin.
Teori yang paling tua mengenai teori gaya kepemimpinan
adalah hasil dari studi di Ohio State University tahun 1949 yang dilakukan oleh
J.K Hemphil yang menjelaskan empat jenis pola prilaku gaya kepemimpinan yang
bisa dikombinasikan dalam teori kepemimpinan transformasional yaitu pemimpin
yang perhatian kepada bawahannya rendah sedangkan perhatian kepada tugasnya
tinggi, pemimpin yang perhatian kepada tugas dan perhatiannya terhadap
bawahannya rendah, pemimpin yang perhatiannya terhadap bawahan dan terhadap
tugas tinggi dan pemimpin yang perhatian terhadap tugasnya tinggi dan
perhatiaanya terhadap bawahan rendah.[40]
Budaya mencakup kemampuan dalam hal memotivasi bawahan
untuk menerapkan strategi, memahami budaya kerja yang tumbuh, berlaku adil pada
semua orang, cepat menerima perubahan yang bersifat inovatif, menjadi teladan
sebagai pekerja yang lebih baik, dan menyempurnakan semangat tim kerja. Menurut
Bass sebagaimana yang dikutip oleh Robin ada empat ciri kepemimpinan transformasional,
yakni karismatik, inspiratif, memiliki rancangan intelektual dan pertimbangan
yang diindividualkan. Keempat ciri kepemimpinan dimaksud dijelaskan dengan
ringkas berikut ini:[41]
a. Karismatik, yaitu memberi visi dan misi
organisasi dengan jelas, menanamkan kebanggan, memperoleh respek, dukungan dan
kepercayaan dari bawahan atau rekan kerjanya.
b. Inspiratif, yaitu mengkomunikasikan harapan
yang tinggi, menggunakan lambang-lambang untuk memfokuskan upaya menggungkapkan
maksud-maksud penting dengan cara sederhana.
c. Memliki rangsangan intelektual, yaitu
menggalakkan perilaku yang cerdas, membangun organisasi belajar, rasionalitas,
dan memberikan pemecahan masalah yang diteliti.
d. Pertimbangan yang diindividualkan, yaitu
memberikan perhatian pribadi, memperlakukan setiap karyawan secara individual,
melatih, dan menasehati.
Menyimak
pendapat Bass, kepemimpinan transformasional bersinggungan erat dengan
kepemimpinan karismatik. Keduanya memang memiliki keterkaitan, tetapi
kepemimpinan transformasional lebih dari sekedar pemimpin karismatik. Pemimpin
karismatik menginginkan para pengikutnya atau bawahannya mengadopsi pandangan
yang dikemukakannya pemimpin tanpa atau dengan sedikit perubahan.
Sebaliknya,
kepemimpinan transformasional menanamkan dan mendorong para pengikut atau
bawahannya untuk bersikap kritis terhadap pendapat, pandangan yang sudah mapan
di organaisasi dan yang ditetapkan oleh pemimpin. Pemimpin transformasioanl
juga merangsang pengikut untuk lebih kreatif dan inovatif, serta lebih
meningkatkan harapan dan mengikatkan diri pada visi.
Madrasah
merupakan lembaga pendidikan yang memiliki struktur organisasi lebih sederhana
jika dibandingkan dengan organisasi lainnya, terutama organisasi perusahaan.
Dalam organisasi madrasah terdapat tiga besaran kelompok yakni tenaga pengajar,
tenaga administrasi dan siswa. Sungguhpun dalam melaksanakan tugasnya, guru
memiliki otoritas dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi hasil belajar.
Namun peran kepala madrasah sangat berpengaruh terutama dalam menciptakan iklim
kerja di madrasah tersebut. Iklim kerja yang tidak nyaman tidak saja
berpengaruh terhadap kinerja guru, dan tenaga administrasi, tetapi juga
berpengaruh terhadap perilaku siswa dan hasil belajar yang dicapainya.
Kepemimpinan
transformasional yang diterapkan oleh kepala madrasah dapat berperan sebagai
jembatan yang menghubungkan berbagai keputusan tanpa adanya pihak yang merasa
dirugikan. Karena lembaga madrasah seperti halnya organisasi lainnya rawan
terhadap konflik, baik konflik individu maupun kelompok. Konflik yang umumnya
ditimbulkan karena perbedaan persepsi, cara pandang, dan kepentingan yang dapat
merusak pencapaian tujuan lembaga.
Kemampuan
melakukan transformasi aneka sumber daya madrasah mutlak dalam kerangka
kepemimpinan madrasah yang produktif. Istilah transformasional berinduk dari
kata “to transform”, yang bermakna mentransformasikan atau mengubah
sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Misalnya, mentransformasikan visi
menjadi realita, panas menjadi energi, potensi menjadi aktual, laten menjadi
manifest, dan sebagainya. Transformasional, karenanya mengandung makna
sifat-sifat yang dapat mengubah sesuatu menjadi bentuk lain, misalnya mengubah
energi potensial menjadi energi aktual atau motif berprestasi menjadi prestasi
ril.
Dengan
demikian, kepala madrasah disebut menerapkan kaidah kepemimpinan
transformasional, jika dia mampu mengubah energi sumber daya; baik manusia,
instrumen, maupun situasi untuk mencapai tujuan-tujuan reformasi madrasah.
Kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seseorang pemimpin bekerja
dengan dan atau melalui orang lain untuk mentransformasikan secara optimal
sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan
target capaian yang telah ditetapkan. Sumber daya dimaksud dapat berupa SDM,
fasilitas, dana, dan faktor-faktor eksternal keorganisasian. Di organisasi
madrasah, SDM dimaksud dapat berupa pimpinan, staf pengajar, bawahan, tenaga
ahli, guru, dosen, widyaiswara, peneliti, dan lain-lain.
Seperti
telah dijelaskan di muka, kepemimpinan transformasional menggiring SDM yang
dipimpin ke arah tumbuhnya sensitivitas pembinaan dan pengembangan organisasi,
pengembangan visi secara bersama, pendistribusian kewenangan kepemimpinan, dan
membangun kultur organisasi madrasah yang menjadi keharusan dalam skema
restrukturasi madrasah itu.
Seperti
ditulis oleh Bernett, McCormick, dan Conners, studi-studi kekinian mengenai
dampak kepemimpinan transformasional pernah dilakukan oleh Leithwood Leithwood, Dart, Jantzi dan
Steinbech, dan Silins. Hasil studi mereka memberikan kesan bahwa gaya
kepemimpinan seperti ini mengkontribusi pada inisiatif-inisiatif restukturasi (restucturing
initiatives), dan menurut apa yang dirasakan oleh guru hal itu memberikan
sumbangsih bagi perbaikan peroleh belajar pada siswa (teacher perceived’
student outcomes). Inisiatif restrukturasi ini menjadi salah satu
persyaratan utama perubahan manajemen madrasah berbasis madrasah atau MBS.[42]
Walau bagaimanapun, kontribusi ini dimediasi oleh orang
lain, peristiwa-peristiwa, dan faktor-faktor organisasi, seperti komitmen guru,
kepuasan kerja guru, praktik-praktik pembelajaran atau kultur madrasah. Hasil
studi ini membuktikan bahwa komitmen guru, kepuasan guru dalam bekerja, dan
kultur madrasah memberi efek positif bagi inisiatif restrukturasi organisasi
madrasah dan perbaikan pemerolehan hasil belajar siswa. Kepemimpinan
transformasional, karenanya, memiliki fokus transformasi pada guru sebagai
ujung tombak proses pembelajaran.
Di
Indonesia, esensi kepemimpinan transformasional, sejatinya masih relatif jarang
menghiasi literatur akademik, khususunya literatur kepemimpinan organisasi
madrasah. Meski kajian mengenai gaya kepemimpinan transformasional tidak
sepenuhnya baru, kebanyakan para pengarang masih berkutat pada teori-teori
lama, dengan menonjolkan beberapa gaya kepemimpinan, seperti gaya demokratis,
otoriter, demokrasi semu, situasional, dan lain-lain. Melihat kesejatian gaya
kepemimpinan transformasional ini, agaknya ia harus menjadi basis kepala
madrasah dalam melakukan transformasi tugas kesehariannya.
Kajian
empirik mengenai esensi kepemimpinan transformasional di lembaga permadrasahan
telah banyak dilakukan oleh peneliti. Peneliti-peneliti dimaksud antara lain
Maehr dan Anderman, Maehr dan Fyans, Maehr dan Midgley di mana mereka telah
mengembangkan efidensi empresif secara empirik untuk memberi kesan bahwa
variabel mediasi dan kultur madrasah akan mendorong madrasah menjadi tempat di
mana guru-guru memiliki rasa positif terhadap terhadap pekerjaan dan siswa
termotivasi untuk belajar.[43]
Argumen-argumen
di atas ditunjang oleh pendapat pakar, seperti Ogawa dan Bossert, di mana
mereka mengemukakan bahwa kultur madrasah tidak beroperasi pada konteks yang
kosong dan yang krusial untuk mengkreasi dan memeliharanya adalah
praktik-praktik kepemimpinan kepala madrasah. Dalam bahasa mereka disebutkan
bahwa, “scholl culture not operate in a vacuum and crucial principal”.
Demikian juga kultur organisasi madrasah yang lain, seperti universitas,
lembaga-lembaga pelatihan, balai penataran, organisasi bimbingan belajar, dan
lain-lain.[44]
Hasil
studi penelitian yang pernah dilakukan tampaknya meyakinkan kebenaran atas
pendapat bahwa kepemimpinan transformasional mengkontribusi secara bermakna
kultur madrasah yang dikehendaki. Kultur yang dimaksud di sini adalah produk
ranah berpikir, afeksi, dan aksi-aksi motorik yang tereplika pada kehidupan
madrasah dan bermaslahat bagi perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan
mutu hasil belajar siswa. Aplikasi gaya kepemimpinan transformasional pada organisasi-organisasi
madrasah sangat ideal. Melalui gaya kepemimpinan seperti itu, segala potensi
organisasi madrasah dapat ditransformasikan menjadi aktual dalam kerangka
mencapai tujuan lembaga.[45]
Pemimpin
melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Ia harus
menyiapkan rencana, strategi, kebijakan, mengadakan koordinasi, memberikan
pengarahan, mengambil keputusan, mengadakan pengawasan dan lain sebagainya.
Untuk melakukan semua tugas tersebut, ia harus mengusahakan seluruh anggotanya itu
dapat digerakkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Tugas
pokok kepemimpinan dalam konteks kepala madrasah meliputi:[46] Menyatupadukan orang-orang yang
berbeda-beda motivasinya itu dengan motivasi yang sama, mengusahakan suatu kelompok
dinamis secara sadar, menciptakan
suatu lingkungan dimana terdapat integrasi antara individu dan kelompok dengan
lembaga pendidikan, memberikan
inspirasi dan mendorong anggota-anggotanya bekerja seefektif mungkin dan menumbuhkan kesadaran
pendidikan yang senantiasa mengalami perubahan yang dinamis dan mengusahakan
agar orang-orang yang dipimpinnya itu dapat menyesuaikan dengan perubahan
situasi.
Dengan
memposisikan perilaku kepemimpinan transforma-sional sebagai variabel terkait,
hasil teoritis menunjukkan fenomena yang unik. Sajian berikut ini merupakan
beberapa pemikiran hipotetik yang diperoleh dari hasil kajian teoritis. Ada
beberapa variabel bebas atau korelat yang secara hipotetik mempengaruhinya,
yaitu motivasi berprestasi, pengetahuan manajemen, dan komunikasi persuasif, yaitu:[47]
Kepemimpinan
transformasional kepala madrasah turut ditentukan oleh motivasi berprestasi
yang dimilikinya. Motivasi berprestasi adalah dorongan dan daya juang pada diri
seseorang dalam melakukan aktivitas untuk mengatasi segala tantangan dalam upaya
pencapaiaan tujuan tertentu. Seseorang yang memliki motivasi berprestasi
digambarkan sebagai orang yang berkemauan untuk berbuat lebih baik, berfikir
antisipatif, inovatif, suka bekerja keras, melakukan sesuatu dengan baik,
menyenangi tugas yang menantang, tidak takut gagal, memiliki rasa tanggung
jawab, dan bersaing dengan sehat.
Orang
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi, cenderung lebih tinggi kemampuannya
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan berorientasi kepada prestasi, menyelsaikan
tugas-tugas dan berorientasi kepada prestasi, menyelsaikan pekerjaan secara
tepat dan cepat serta berorientasi ke masa depan, realistis dan sering merasa
takut gagal dalam menyelesaikan pekerjaan dan menolak kata-kata yang
berhubungan dengan kegagalan serta menghargai hasil kerja orang lain dan
inovatif. Sebagai pemimpin, kepala madrasah yang memiliki motivasi berprestasi
akan selalu memikirkan kemajuan, perubahan yang baik atau mencari strataegi
dalam perubahan, meskipun ada unsur pengaruh dari luar dan dari dalam diri
sendiri.
Kepala
madrasah yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan lebih cepat mencapai
kemajuan dan hasilnya lebih baik dibandingkan dengan orang yang bermotivasi
rendah. Selain itu, kepala madrasah yang memiliki motivasi berprestasi juga
dipengaruhi rasa takut mengalami kegagalan, dan mereka biasanya menginginkan
pekerjaan yang menantang. Kepala madrasah yang memiliki karakter ini tidak akan
merasa puas menyelesaikan pekerjaan yang dianggap kurang menantang dan sering
menginginkan adanya umpan balik dari apa yang telah dikerjakannya. Dimilikinya
elemen-elemen motivasi berprestasi seperti ini oleh kepala madrasah, akan
sangat membantunya untuk melakukan perubahan-perubahan dalam meningkatkan
kemajuan madrasah.
Dari
uraiaan tersebut di atas, dapat diduga terdapat hubungan positif antara
motivasi berprestasi dengan kepemimpinan transformasional kepala madrasah.
Artinya makin kuat motivasi berprestasi, akan makin efektif kepemimpinan
transformasional kepala madrasah. Berdasarkan
hasil kajian teoritis dapat dikemukakan bahwa kepemimpinan transformasional
kepala madrasah turut ditentukan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan
kepala madrasah merupakan performasi tipikal dalam menerapkan fungsi-fungsinya dalam merencanakan,
mengorganisasikan, memimpin dan
mengendalikan organisasinya.
Sebagai seorang pemimpin, kepala madrasah dibebani dengan
tanggung jawab untuk mengelola madrasah secara menyeluruh, terutama mengelola
guru, siswa, sarana dan dapat mengambil tindakan yang memungkinkan bagi guru
memberikan hal-hal yang terbaik untuk pencapaiaan tujuan pendidikan. Oleh
karena itu sangat penting bagi kepala madrasah memiliki kemampuan
pengatahuan kekepalamadrasahan, menguasai bidang tugas dan yang mendasari pekerjaan
mereka. Perencanaan mengharuskan kepala madrasah berpikir secara logis dan
analitis, dan didasari atas metode kerja tertentu.
Mengorganisasikan
merupakan suatu proses pengaturan dan mengalokasikan kerja, wewenang dan sumber
daya di kalangan anggota organisasi, agar dapat mencapai tujuan organisasi
secara efisien. Kepala madrasah harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam
mengorganisasi semua semua potensi yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang
ditentukan.
Kepala
madrasah harus mampu memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menggerakkan, sehingga
staf pengajar dapat bekerja dengan baik dalam situasi yang kondusif. Hal ini
akan membantu tercapainya sasaran yang telah ditentukan. Melalui pengendalian,
pimpinan dapat menjalankan organisasi agar tetap berproses dalam arah yang
benar dan tidak membiarkannya menyimpang dari arah tujuan yang telah
ditetapkan. Dari uraiaan ini, diduga terdapat hubungan positif antara
pengetahuan kepala madrasah dengan kepemimpinan transformasional kepala
madrasah.
Komunikasi
persuasif merupakan kemampuan kepala madrasah dalam penyampaian pesan, pikiran,
gagasan oleh komunikator kepada komunikan secara maksimum. Komunikasi persuasif
ini mencakup empat aspek, yaitu paparan secara selektif, partisipasi khalayak,
prinsip inokulasi, dan besaran perubahan. Kemampuan dalam berkomunikasi
merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh kepala madrasah, agar
dapat melakukan komunikasi secara efektif dengan guru, orang tua siswa, serta
lembaga pendidikan dan masyarakat.
Komunikasi persuasif yang dilakukan kepala madrasah akan
mampu memberikan pengaruh secara nyata baginya dalam melaksanakan bimbingan
secara efektif kepada guru maupun siswa sehingga dapat berkembang secara
optimal, menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga
madrasah, dan mengakomodasai seluruh aspirasi warga madrasah dalam kerangka
pencapaian visi dan misi madrasah yang bermutu.
Motivasi
berprestasi merupakan dorongan dan daya juang pada diri seseorang dalam
melakukan aktivitas untuk mengatasi segala tantangan dalam upaya pencapaiaan
tujuan tertentu. Kepala madrasah yang memiliki motivasi berprestasi digambarkan
sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk berbuat lebih baik, berpikir
antisipasif, inovatif, suka bekerja keras, melakukan sesuatu dengan baik,
menyenangi tugas yang menantang, tidak takut gagal, memiliki rasa tanggung
jawab dan bersaing secara sehat.
Komunikasi persuasif berkaitan erat dengan kemampuan
pemimpin atau kepala madrasah dalam berkomunikasi intrapersonal dan
interpersonal yaitu pendekatan teladan yang tampak dalam diri dan kepada orang
lain karena komunikasi yang baik dapat memberi kebahagian kepada orang lain,
dalam hal ini kepala madrasah dapat memberik kebahagian kepada orang lain
dengan jalan pendekatan komunikasi yang baik.
Pengetahuan kepala madrasah di bidang manajerial diduga
mempengaruhi kemampuannya dalam melakukan kepemimpinan transformasional, karena
hal itu merupakan performasi tipikal dirinya dalam menerapkan funsgi-fungsi manajemen,
yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan. Pada
saat sekarang madrasah-madrasah telah menerapkan pola manajemen pendidikan yang
baru, di mana madrasah memiliki otonomi lebih besar dan mendorong madrasah
untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.
Di sini, kepala madrasah dituntut dapat mengatur dan
mengurus kepentingan warganya menuntut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
bersama dan mampu mengakomodasi perbedaan pendapat, memobilisasi sumber daya,
memiliki cara pelaksanaan yang terbaik, memecahkan masalah-masalah madrasah,
adaptif dan antisipatif, dan bersinergi dan berkolaborasi sehingga tujuan
madrasah tercapai.
Berdasarkan
uraian tersebut di atas, diduga terdapat hubungan positif antara kominikasi
persuasif, motivasi berprestasi dan
pengetahuan kepala madrasah secara bersama-sama dengan kepemimpinan
transformasional kepala madrasah.
Esensi dari transformasi adalah mengubah
potensi menjadi energi nyata. Kepala madrasah yang mampu melakukan transformasi
kepemimpinan berarti dapat mengubah potensi institusinya dalam hal ini Madrasah Aliyah Negeri menjadi
energi untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa. Kepemimpinan
transformasional kepala Madrasah Aliyah Negeri dapat
diartikan sebagai bentuk atau gaya yang diterapkan kepala Madrasah Aliyah Negeri
dalam mempengaruhi bawahannya (guru, tenaga administrasi, siswa, dan orang tua
peserta didik) untuk mencapai visi dan misi yang
diinginkan.
Berdasarkan teori-teori di atas, yang dimaksud dengan
kepemimpinan transformasional kepala madrasah dalam penelitian ini adalah
pimpinan yang mampu membangun perubahan dalam tubuh organisasi madrasah sesuai
dengan nilai-nilai yang ditetapkan dengan memberdayakan seluruh komunitas
madrasah melalui komunikasi yang terarah, agar para pengikut dapat bekerja
lebih energi dan terfokus, sehingga pengajaran dan pembelajaran menjadi
bersifat transformatif bagi setiap orang. Kepemimpinan
transformasional memiliki indikator: 1) Pembaru, 2) Memberi teladan, 3) Mendorong kinerja bawahan, 4) Mengharmoniskan lingkungan
kerja, 5) Memberdayakan bawahan, 6) Bertindak atas sistem nilai, 7) Meningkatkan kemampuannya
terus menerus dan mampu
menghadapi situasi yang rumit.
2. Motivasi Berprestasi (X1)
Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan, daya
penggerak atau kekuatan yang menyebabkan suatu tindakan atau perbuatan. Kata
movere dalam bahasa Inggris sering disepadankan dengan motivation yang berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal
yang menimbulkan dorongan. Secara harfiah motivasi berarti pemberi motif.
Seseorang melakukan suatu tindakan pada umumnya mempunyai motif. Seseorang
melakukan sesuatu dengan sengaja tentu ada maksud dan tujuan yang mendorongnya
melakukannya itu. Motif dasar dari seseorang tersebut adanya kebutuhan orang
tersebut akan kebanggaan dan kehormatan serta mungkin limpahan materi. Motivasi
yang ada pada diri seseorang merupakan pendorong yang akan mewujudkan suatu
perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya. Orang mau bekerja untuk
memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan yang disadari (conscious needs) maupun kebutuhan atau keinginan yang tidak
disadari (unconscious needs).[48]
Motivasi merupakan unsur penting dalam suatu
aktivitas kerja, karena motivasi merupakan kekuatan pendorong yang akan
mewujudkan perilaku.
Motivasi adalah kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energi,
mendorong kegiatan atau gerakan yang mengarah dan menyalurkan perilaku kearah
mencapai kebutuhan yang member kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan.[49] Stephen P. Khobbins dan
Marry Coulter sebagaimana dikutip oleh Winardi bahwa motivasi adalah kesediaan
untuk melaksanakan upaya dalam mencapai tujuan keorganisasian yang dikondisikan
oleh kemampuan untuk memenuhi kebutuhan individual tertentu.[50]
Istilah-istilah yang berbeda banyak dipakai
psikolog dalam menyebut sesuatu yang menimbulkan perilaku, ada yang meneyebut
sebagai motivasi (motivation) atau motif, kebutuhan (need),
desakan (urge), keinginan (wish) dan dorongan (drive).[51]
Istilah motivasi diambil dari istilah latin movere yang berarti
“pindah”. Dalam konteks sekarang, motivasi adalah proses-proses psikologis
meminta, mengarahkan, arahan dan menetapkan tindakan sukarela yang mengarah
pada tujuan.[52]
Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang
menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mau bekerja sama, bekerja efektif
dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Sedangkan menurut T. Hani Handoko,
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan
individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Motivasi kerja adalah
sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja pada diri seseorang
(karyawan) yang melakukan suatu pekerjaan guna pencapaian tujuan.
Teori motivasi memusatkan
perhatiannya pada pertanyaan, apa penyebab perilaku terjadi dan berhenti?
Jawabnya terpusat pada kebutuhan, keinginan atau dorongan yang memacu untuk
melaksanakan kegiatan dan hubungan pekerja dengan faktor-faktor eksternal dan
internal yang menyebabkan mereka melakukan kegiatan. Teori proses memusatkan
perhatian pada bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan dapat digambarkan
sebagai berikut.
Gambar 1
Hubungan motif, prilaku dan kegiatan
(Stoner dan Freedman, 2000 dalam Husaini Umar)
|
Kebutuhan
|
|
Kepuasan
|
|
Kegiatan
|
|
Dorongan
|
Motif cenderung menurun kekuatannya
apabila sudah terpenuhi pemenuhannya. Pemuasan terhadap sesuatu kebutuhan
mungkin terhambat dan orang itu kemudian putus asa (frustasi). Akan tetapi ada
pula yang awet untuk mengatasi hambatan itu dan akhirnya berhasil. Hubungan
antara motif, prilaku dan kegiatan dapat digambarkan sebagai berikut.[53]
Gambar 2
Hubungan motif, prilaku dan kegiatan
(Newstrom dan Davis, 1997 dalam Husaini Umar)
|
Motif (Uang)
|
|
Tujuan (Mencari
Pekerjaan)
|
|
Perilaku
|
|
Aktivitas tujuan
(bekerja)
|
|
Aktivitas yang
diarahkan pada tujuan untuk mencari pekerjaan
|
Motivasi yang
merupakan dorongan atau rangsangan yang diberikan
kepada seseorang atau rangsangan
yang diberikan kepada seseorang agar memiliki kemauan untuk bertindak. Dorongan
ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan meningkatkan upah
kerjanya, reward, dan imbalan yang merupakan bonus tertentu, aturan-aturan dan
sanksi yang ketat bagi para pelanggar aturan, dan sebagainya. Motivasi dilakukan untuk
tujuan berikut: merangsang
seseorang untuk bekerja dengan baik, mendorong
seseorang untuk bekerja lebih berprestasi, mendorong
seseorang untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab, meningkatkan kaulitas kerja, mengembangkan produktivitas
kerja, mentaati peraturan yang berlaku, jera dalam melanggar aturan, mengarahkan perilaku
mencapai tujuan dan mempertahankan
prestasi kerja dan bersaing secara sportif.[54]
Istilah Need of achievement pertama
kali dipopulerkan oleh McClelland dengan sebutan n-ach sebgai singkatan dari need for achievement. Mc
Clelland menganggap n-ach sebagai virus mental. Virus
mental tersebut merupakan suatu fikiran yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan baik, lebih cepat lebih efisien dibanding
dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya. Kalau virus mental tersebut bertingkah laku secara giat.
McClelland mengetengahkan teori motivasi yang
berhubungan erat dengan teori belajar. McClelland berpendapat bahwa banyak
kebutuhan yang diperoleh dari kebudayaan. Tiga dari kebutuhan McClelland adalah
kebutuhan akan prestasi (Need of achievement) disingkat n Ach, kebutuhan akan afiliasi (need od affiliation) n Aff dan
kebutuhan akan kekuasaan (need of power)
n Pow. Motivasi berprestasi adalah dorongan dari dalam diri untuk mengatasi
segala tantangan dan hambatan dalam mencapai tujuan. Motivasi afiliasi adalah
dorongan untuk berhubungan dengan orang lain atau dorongan untuk memiliki
sahabat sebanyak-banyaknya. Motivasi berkuasa adalah dorongan untuk
mempengaruhi orang lain agar tunduk kepada kehendaknya.[55]
McClelanad dalam Hikmat juga menjelsakan bahwa motivasi berprestasi mengemukakan
teori motivasi yang berhubungan erat dengan konsep belajar. Ia berpendapat
banyak kebutuhan diperoleh dari kebudayaan. Ia mengemukakan bahwa apabila
kebutuhan seseorang terasa sangat mendesak, kebutuhan itu akan memotivasi orang
tersebut untuk berusaha keras memenuhi kebutuhan tersebut.
Setiap individu memiliki tiga macam
kebutuhan, yaitu kebutuhan achievement (berprestasi), kebutuhan affilation
(persatuan), dan kebutuhan power
(berkuasa). Kebutuhan berprestasi berarti seseorang akan terdorong
dengan sungguh-sungguh apabila merasa akan memeroleh kesempatan untuk
menunjukkan sepenuh kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat diperoleh hasil
terbaik. Kebutuhan persatuan berarti seseorang akan terdorong bekerja dengan
sungguh-sungguh apabila merasa bahwa dari hasil kerjanya akan diperoleh
persahabatan dengan orang lain. Kebutuhan berkuasa berarti bahwa seseorang akan
terdorong bekerja dengan sungguh-sungguh apabila merasa akan memperoleh
kedudukan yang diinginkan dan dapat menguasai orang lain.[56]
Motivasi berprestasi sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil
dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun
prestasi sendiri. Motivasi berprestasi sebagai suatu dorongan yang ada pada
seseorang sehubungan dengan
prestasi, yaitu menguasai, memanipulasi serat mengatur lingungan sosial maupun fisik, mengatasi
segala rintangan dan memelihara kualitas kerja yang tinggi, bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi
hasil kerja yang lampau, serta mengungguli hasil
kerja yang lain.
Motivasi berprestasi merupakan keinginan
untuk menyelesaikan sesuatu untuk mencapai suatu standar kesuksesan dan untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan untuk mencapai kesuksesan. Motif berprestasi
diartikan sebagai usaha untuk meningkatkan atau melakukan kecakapan pribadi setinggi mungkin dalam segala aktivitas dan suatu ukuran
keunggulan tersebut digunakan sebagai pembanding, meskipun dalam usaha melakukan aktivitas tersebut ada dua kemungkinan yakni gagal atau berhasil. Motif yang
mendorong individu untuk mencapai sukses dan bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi dengan beberapa ukuran keunggulan (standard of
excellence). Ukuran keunggulan digunakan untuk standar keunggulan prestasi dicapai sendiri sebelumnya dan layak seperti dalam suatu kompetisi.
Ciri-ciri motif individu yaitu motif adalah
majemuk dalam suatu perbuatan tidak hanya mempunyai satu tujuan, tetapi
beberapa tujuan yang berlangsung sama. Motif dapat berubah-ubah, motif sering
mengalami perubahan. Ini disebabkan keinginan manusia selalu berubah-ubah
sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya. Motif berbeda-beda bagi individu,
dua orang yang melakukan pekerjaan yang sama bisa saja memiliki perbedaan
motif. Beberapa motif tidak didasari oleh individu. Banyak tingkah laku manusia
yang tidak disadari oleh pelakunya, sehingga beberapa dorongan (needs) muncul sering dikarenakan
berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan yang berada di bawah
sadarnya.[57]
Tingkah laku timbul karena dipengaruhi oleh
kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dalam arti individu terdapat
tiga kebutuhan pokok yang mendorong tingkah lakunya. Konsep motivasi ini lebih
dikenal dengan social motives theory oleh McClelland yaitu kebutuhan untuk
mencapai kesuksesan yang diukur berdasarkan standar kesempurnaan dalam diri
seseorang. Kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam hubungannya dengan
orang lain. Kebutuhan untuk menguasai dan mempengaruhi orang lain.[58]
Dalam teori expectancy-value Atkinson mengemukakan
bahwa motivasi berprestasi seseorang didasarkan
atas dua hal yaitu, adanya tendensi untuk meraih sukses dan adanya tendensi untuk menghindari kegagalan. Pada dasarnya keadaan motif itu dimiliki oleh
individu, namun keduanya mempunyai keadaan berbeda-beda dalam berbagai situasi dan kondisi menurut adanya prestasi. Lebih jelasnya Atkinson
mengemukakan bahwa keberhasilan individu untuk mencapai kebehasilan dan memenangkan persaingan berdasarkan standar keunggulan,
sangat terkait dengan tipe kepribadian yang memiliki motif berprestasi lebih tinggi daripada motif
untuk menghindari kegagalan begitu pula sebaliknya,
apabila motif menghindari terjadinya kegagalan lebih tinggi daripada motif sukses, maka motivasi berprestasi seseorang cenderung rendah.
Menurut Slavin juga
mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai keinginan untuk mencapai sukses dan
berpartisipasi dalam kegiatan, dimana sukses itu tergantung pada upaya dan
kemampuan individu. Sama halnya dengan Santrock yang merumuskan bahwa motivasi
berprestasi adalah suatu dorongan untuk menyempurnakan sesuatu, untuk mencapai
sebuah standar keunggulan dan untuk mencurahkan segala upaya untuk mengungguli.
Jadi motivasi berprestasi sangat tergantung pada usaha dan upaya seseorang.
Menurut Atkinson motivasi
berprestasi adalah kecenderungan seseorang untuk berusaha meraih kesuksesan dan
memiliki orientasi tujuan, aktivitas sukses atau gagal (Atkinson). Dalam meraih
kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan berusaha semaksimal mungkin menghindari
kegagalan. McClelland mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai motivasi yang
mendorong individu untuk mencapai sukses, dan bertujuan untuk berhasil dalam
kompetisi atau persaingan dengan beberapa ukuran keunggulan (standard of
excelence). Ukuran keunggulan itu dapat berupa prestasi sendiri sebelumnya
atau prestasi orang lain. Motivasi berprestasi sebagai keinginan untuk mencapai
prestasi sesuai dengan standard yang telah ditetapkan (Degeng).
Menurut Woolfolk pengertian
motivasi berprestasi sebagai suatu keinginan untuk berhasil, berusaha keras dan mengungguli
orang lain berdasarkan suatu standar mutu tertentu. Dwivedi dan Herbert (dalam
Asnawi) juga mengungkapkan motivasi berprestasi sebagai dorongan untuk sukses
dalam situasi kompetisi yang didasarkan pada ukuran keunggulan dibanding standarnya
sendiri maupun orang lain. Sedangkan menurut Royanto motivasi berprestasi
adalah keinginan mencapai prestasi sebaik-baiknya, biasanya yang menjadi
ukurannya adalah diri sendiri (internal) ataupun orang lain (eksternal).
Terdapat kemiripan diantara penjelasan mereka dimana motivasi berprestasi pada
tiap individu memiliki suatu standar atau ukuran tertentu. Slavin juga
mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai keinginan untuk mencapai sukses dan
berpartisipasi dalam kegiatan, dimana sukses itu tergantung pada upaya dan
kemampuan individu.
Motivasi berprestasi suatu
dorongan untuk menyempurnakan sesuatu, untuk mencapai sebuah standar keunggulan
dan untuk mencurahkan segala upaya untuk mengungguli. Jadi motivasi berprestasi
sangat tergantung pada usaha dan upaya seseorang. Bahwa motivasi berprestasi merupakan
suatu dorongan atau keinginan dalam diri untuk mencapai kesuksesan yang
setinggi mungkin sehingga tercapai kecakapan pribadi yang tinggi, sehingga
individu berusaha keras dengan sebaik-baiknya dalam pencapaian prestasi di
bidang akademik.
Faktor yang mempengaruhi motivasi
berprestasi yaitu tingkah laku dan karakteristik model yang ditiru oleh anak
melalui observational learning. Motivasi
berprestasi dipengaruhi oleh tingkah laku dan karakteristik model yang ditiru
anak melalui observational learning. Melalui observational learning anak
mengambil beberapa karakteristik dari model, termasuk kebutuhan untuk
berprestasi. Harapan orang tua. Harapan orang tua terhadap anaknya berpengaruh
terhadap perkembangan motivasi berprestasi. Orang tua yang mengharapkan anaknya
bekerja keras akan mendorong anak tersebut untuk bertingkah laku yang mengarah
pada pencapaian prestasi.
Faktor yang menguasai dan
mengontrol lingkungan fisik dan sosial sangat erat hubungannya dengan motivasi
berprestasi, bila menurun akan merupakan faktor pendorong dalam menuju kondisi
depresi. Penekanan kemandirian. Terjadi sejak tahun-tahun awal kehidupan. Anak
didorong mengandalkan dirinya sendiri, berusaha keras tanpa pertolongan orang
lain, serta diberikan kebebasan untuk mengambil keputusan penting bagi dirinya
akan meningkatkan motivasi berprestasi yang tinggi.
Praktik pengasuhan anak. Pengasuhan
anak yang demokratis, sikap orang tua yang hangat dan sportif, cenderung
menghasilkan anak dengan motivasi berprestasi yang tinggi atau sebaliknya, pola
asuh yang cenderung otoriter menghasilkan anak dengan motivasi berprestasi yang
rendah. Penekanan kemandirian. Terjadi sejak tahun-tahun awal kehidupan. Anak
didorong mengandalkan dirinya sendiri, berusaha keras tanpa pertolongan orang lain,
serta diberikan kebebasan untuk mengambil keputusan penting bagi dirinya akan
meningkatkan motivasi berprestasi yang tinggi.
Praktik pengasuhan anak. Pengasuhan
anak yang demokratis, sikap orang tua yang hangat dan sportif, cenderung
menghasilkan anak dengan motivasi berprestasi yang tinggi atau sebaliknya, pola
asuh yang cenderung otoriter menghasilkan anak dengan motivasi berprestasi yang
rendah. Kreatif-Inovatif Individu dengan
motivasi berprestasi tinggi cenderung bertindak kreatif, dengan mencari cara
baru untuk menyelesaikan tugas seefektif dan seefisien mungkin.
McClelland mengemukakan bahwa ada 6 karakteristik individu yang
mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, yaitu: Perasaan yang kuat untuk
mencapai tujuan, yaitu keinginan untuk menyelesaikan
tugas dengan hasil yang sebaik-baiknya. Bertangungjawab,
yaitu mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri
dan menentukan masa depannya, sehingga apa yang dicitacitakan berhasil tercapai. Evaluatif,
yaitu menggunakan umpan balik untuk menentukan tindakan
yang lebih efektif guna mencapai prestasi, kegagalan yang dialami tidak membuatnya putus asa, melainkan
sebagai pelajaran untuk berhasil. Mengambil resiko “sedang”, dalam arti
tindakan-tindakannya sesuai dengan batas
kemampuan yang dimilikinya. Kreatif dan
inovatif, yaitu mampu mencari peluang-peluang dan menggunakan
kesempatan untuk dapat menunjukkan potensinya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi berprestasi dalam
penelitian ini adalah suatu dorongan yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih cepat, lebih efisien
dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya, sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang
dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri.
Adapun indikator motivasi berprestasi yaitu 1)
bertanggung jawab atas perbuatannya, 2) berusaha mencari umpan balik atas
segala sesuatu perbuatannya, selalu bersedia mendengar pendapat orang lain
sebagai masukan dalam memperbaiki dirinya, 3) berani mengambil resiko dengan
penuh perhitungan, lebih unggul, ingin menciptakan yang terbaik, 4) berusaha
melakukan sesuatu secara inovatif dan kreatif, 5) merasa dikejar-kejar waktu,
pandai mengatur waktu yang dapat dikerjakan sekarang jangan ditunda hari esok,
6) bekerja keras dan bangga atas hasil yang telah dicapai.
3. Tingkat Pendidikan (X2)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional menegaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada
nilainilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman dan yang dimaksud dengan sistem pendidikan nasional adalah
keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional.[59]
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor
15 tanggal 13 September 1974, Pendidikan adalah segala usaha untuk membina
kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmaniah dan
rohaniah yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun diluar sekolah
dalam rangka pembangunan persatuan Indonesia dan Masyarakat adil dan Makmur
berdasarkan Pancasila. Pendidikan
dengan berbagai programnya mempunyai peranan penting dalam memperoleh dan
meningkatkan kualitas kemampuan profesional individu. Melalui pendidikan
seseorang dipersiapkan untuk memiliki bekal agar siap tahu, mengenal dan
mengembangkan metode berfikir secara sistematis agar dapat memecahkan masalah
yang akan dihadapi dalam kehidupan dikemudian hari.
Pendidikan sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusisa
dewasa dengan si anak didik secara tatap muka
atau dengan menggunakan media dalam memberikan bantuan
terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar
menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.
Soegarda Porbakawatja dalam Dja’far Siddik menyebutkan
pendidikan sebagai kegiatan yang meliputi semua perbuatan dan usaha diri
generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya
serta keterampilannya kepada generasi muda sebagai usaha untuk menyiapkan
mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.
Berbagai literatur mengenai pendidikan selalu menyebut bahwa berbagai bangsa
menggunakan istilah pendidikan yang cukup bervariasi. Perbedaan itu tidak saja
karena berbedanya bahasa yang digunakan, melainkan juga karena perbedaan cara
pandang dalam memaknai hakikat pendidikan.[60]
Teori-teori pendidikan yang berpengaruh dalam
penyelenggaraan pendidikan yaitu unfoldmen
theory, formal discipline theory dan
preparation theory. Unfoldmen theory menjelaskan bahwa tugas pendidikan
adalah membuka dan mengeluarkan potensi laten yang terdapat di dalam diri
peserta didik untuk di arahkan kepada tujuan tertentu. Formal discipline theory yaitu hasil pendidikan haruslah berupa
terbentuknya kemampuan yang dapat digunakan untuk mengerjakan apa saja yang
dipandang penting. Asumsinya adalah bahwa ada kemampuan yang bersifat umum
dalam diri peserta didik yang dapat dioperasionalisasikan pada berbagai kasus,
bagaimanapun spesifiknya kasus tersebut. Preparation
theory menekankan fungsi pendidikan untuk mempersipakan peserta didik agar
dapat melakukan tugas-tugasnya secara sempurna. Tugas utama yang paling pokok
menurut teori ini adalah bersikap dan bertindak sebagaimana layaknya manusia
dewasa.[61]
Pendidikan dengan pendidikan Islam memiliki
perbedaan, pendidikan Islam adalah ilmu yang berdasarkan Islam yaitu Islam
adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam berdasarkan dan
bersumber pada Al Qur’an dan hadits serta akal pikiran. Jika demikian ilmu
pendidikan Islam adalah ilmu yang berdasrakan Al Qur’an dan hadits serta akal
pikiran. Penggunaan dasar ini haruslah berurutan, Al Qur’an terlebih dahulu
apabila tidak ditemukan dalam Al Qur’an maka harus dicari dalam hadits tetapi
apabila tidak jelas atau tidak ditemukan dalam hadits maka menggunkan akal
pikiran, harus memiliki tingkat atau jenjang.[62]
Potensi tersebut berupa potensi fisik, emosi,
sosial, sikap, moral, pengetahuan, maupun keterampilannya. Tingkat pendidikan adalah
tingkatan pendidikan yang diperoleh secara formal yang dibuktikan dengan ijazah formal, ijazah adalah tanda pengakuan bahwa
seseorang telah menyelesaikan suatu program
pendidikan tertentu. Dengan demikian ijazah dapat digunakan
untuk menunjukkan kemampuan seseorang.
Menurut Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 BAB VI Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan pasal 14 dijelaskan tingkat
pendidikan atau jenjang pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan
yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah
Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain sederajat serta Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Pendidikan menengah merupakan
lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan umum dan
pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah
Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah
Aliyah Kejuruan (MAK). Sedangkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan
setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana,
magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan perguruan tinggi.
Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka. Perguruan tinggi
berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas.[63]
Untuk pembangunan pendidikan dalam Program
Pembangunan Nasional (PROPENAS), GBHN
1999-2004 menetapkan arah kebijakan pembangunan pendidikan
yaitu;
1.
Mengupayakan
perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi
bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia berkualitas
tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti.
2.
Meningkatkan
kemampuan akademik dan professional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan
tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal
terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat
mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan.
3.
Melakukan
pembaharuan system pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum, berupa
diversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik, penyusunan
kurikulum yang berlaku nasional dan local sesuai dengan kepentingan setempat,
serta diversifikasi jenis pendidikan secara professional.
4.
Memberdayakan
lembaga pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan
nilai, sikap, dan kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan
masyarakat yang didukung oleh sarana dan prasarana memadai.
5.
Melakukan
pembaharuan dan pemantapan system pendidikan nasional berdasarkan prinsip
desentralisasi, otonomi keilmuan dan manajemen.
6.
Meningkatkan
kualitas lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun
pemerintah untuk memantapkan system pendidikan yang efektif dan efisien dalam
menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
7.
Mengembangkan
kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu dan
menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen
bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak
dukungan dan lindungan sesuai dengan potensinya.
8.
Meningkatkan penguasaan,
pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi
bangsa sendiri dalam dunia usaha, terutama usaha kecil, menengah, dan koperasi
guna meningkatkan daya saing produk yang berbasis sumber daya lokal.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian tingkat pendidikan dalam
penelitian ini tingkatan pendidikan yang diperoleh secara formal yang
dibuktikan dengan ijazah formal, ijazah adalah
tanda pengakuan bahwa seseorang telah menyelesaikan
suatu program pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Adapun indikator tingkat pendidikan dalam
penelitian ini yaitu 1) Pendidikan dasar
berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain
sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
2) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah
terdiri atas pendidikan umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan
menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). 3) Pendidikan
tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup
program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor yang
diselenggarakan perguruan tinggi.
4. Budaya Madrasah (X3)
Madrasah
(sekolah) model beberapa tahun belakang ini mendapat sorotan banyak pihak. Hal
ini terjadi karena, baik di kalangan ahli dan praktisi pendidikan maupun
masyarakat, terdapat persepsi yang berbeda tentang praktek dan sekolah model.
Persepsi ini tergantung pada visi dan misi yang digariskan individu maupun
lembaga dalam mengkreasi sekolah model yang berpengaruh terhadap budaya
madrasah itu sendiri.[64]
Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam kini ditempatkan sebagai
pendidikan sekolah dalam sistem pendidikan nasional. Munculnya SKB tiga menteri
(Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri dalam Negeri)
menandakan bahwa eksistensi madrasah sudah cukup kuat beriringan dengan sekolah
umum. Di samping itu, munculnya SKB tiga menteri tersebut juga dinilai sebagai
langkah positif bagi peningkatan mutu madrasah baik dari status, nilai ijazah
maupun kurikulumnya (Malik Fadjar, 1998). Di dalam salah satu diktum
pertimbangkan SKB tersebut disebutkan perlunya diambil langkah-langkah untuk
meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah agar lulusan dari madrasah dapat
melanjutkan atau pindah ke sekolah-sekolah umum dari sekolah dasar sampai
perguruan tinggi.
Persepsi masyarakat terhadap madrasah di era modern belakangan semakin
menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu
pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia
modern mengalami krisis keagamaan (Haedar Nashir, 1999) dan di saat perdagangan
bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin
dibutuhkan orang.
Terlepas dari berbagai problema yang dihadapi, baik yang berasal dari dalam
sistem seperti masalah manajemen, kualitas input dan kondisi sarana
prasarananya, maupun dari luar sistem seperti persyaratan akreditasi yang kaku
dan aturan-aturan lain yang menimbulkan kesan madrasah sebagai 'sapi perah',
madrasah yang memiliki karakteristik khas yang tidak dimiliki oleh model
pendidikan lainnya itu menjadi salah satu tumpuan harapan bagi manusia modern
untuk mengatasi keringnya hati dari nuansa keagamaan dan menghindarkan diri
dari fenomena demoralisasi dan dehumanisasi yang semakin merajalela seiring
dengan kemajuan peradaban teknologi dan materi. Sebagai jembatan antara model
pendidikan pesantren dan model pendidikan sekolah, madrasah menjadi sangat
fleksibel diakomodasikan dalam berbagai lingkungan.
Munculnya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi dalam bidang
pendidikan yang bertujuan untuk memberi peluang kepada peserta didik untuk
memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dapat memberikan
kontribusi kepada masyarakat, tidak mengagetkan para pengelola madrasah.
Madrasah juga lebih survive dalam kondisi perubahan kurikulum yang sangat
cepat, karena kehidupan madrasah tidak taklid kepada kurikulum nasional.
Manajemen desentralisasi memberikan kewenangan kepada sekolah untuk
melaksanakan PBM sesuai dengan kebutuhan yang dikondisikan untuk kebutuhan
lokal. Dengan demikian, maka madrasah mendapatkan angin segar untuk bisa lebih
exist dalam mengatur kegiatannya tanpa intervensi pemerintah pusat dalam upaya
mencapai peningkatan mutu pendidikannya. Melalui proses belajar mengajar yang
didasari dengan kebutuhan lokal, kurikulum tidak terbebani dengan materi lain
yang sesungguhnya belum atau bahkan tidak relevan bagi peningkatan pengetahuan
dan keterampilan peserta didik pada jenjang tersebut. Efektivitas proses
belajar mengajar diharapkan bisa tercapai sehingga menghasilkan prestasi
belajar yang lebih tinggi.
Pandangan tentang budaya sekolah atau dalam penelitian
ini budaya madrasah sudah ada pada tahun 1932 yaitu Willard Waller yang
menyatakan bahwa setiap sekolah mempunyai budayanya sendiri yang berupa
serangkaian nilai, norma, aturan moral dan kebiasan yang telah membentuk
prilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Sementara itu Short dan
Greer mendefenisikan budaya sekolah sebagai keyakinan, kebijakan, norma dan
kebiasan dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat dan dipelihara melalui
pimpinan dan guru-guru di sekolah. Budaya sekolah merupakan konteks di belakang
layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma dan kebiasaan yang telah
dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekoah.
Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya pada kegiatan warga sekolah tetapi juga
motivasi dan semangatnya.[65]
Ada beberapa hal yang menjadi aspek keyakinan, nilai dan
harapan sosial dalam budaya sekolah yang semestinya dimiliki oleh kepala
sekolah, guru dan karyawan yaitu adanya pemikiran tentang perbaikan sebagai
sesuatu yang penting, bekerja secara kolaboratif, adanya kekuatan kepercayaan
yang tumbuh di antara kepala sekolah, guru dan karyawan yang berorintasi untuk
mencapai kemajuan sekolah dengan kebersamaan, menyadari bahwa lingkungan sekolah
bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan keberhasilan para siswa, saling
memotivasi dan bekerja keras, kepedulian terhadap situasi dan kondisi siswa,
dukungan terhadap inovasi yang dilakukan sekolah, memiliki keyakinan bahwa
setiap siswa dapat belajar dengan baik dan nyaman di sekolah, adanya keyakinan
bahwa standar yang ditentukan pihak sekolah sudah memenuhi syarat, menggunakan
data-data yang ada untuk kepentingan pembelajaran dan keberhasilan sekolah dan
siswa serta melakukan pekerjaan sebagai ibadah.[66]
Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah
diantaranya mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah khususnya kepada masyarakat, memperoleh masukan agar konsep manajemen
ini dapat diimplementasikan dengan mudahdan sesuai dengan kondisi Indonesia
yang memiliki keragaman budaya, sosial ekonomi dan komplesitas geografisnya,
menambah wawasan pengetahuan masyarakat dan memotivasi masyarakat untuk
terlibat dan peduli dengan pendidikan.[67] Karena mutu merupakan gambaran dan karakteristik
menyeluruh dari barabg atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan
kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat, yaitu mulai dari input, proses
dan out put pendidikan yang dihasilkan.[68]
Dengan hal tersebut dapat memberikan budaya positif yang terjadi di madrasah
Budaya merupakan jaringan yang kuat yang meliputi
keyakinan, nilai, norma dan kebiasaan yang mempengaruhi setiap sudut sekolah.
Budaya sekolah menyebabkan seseorang memberikan perhatian yang khusus,
menyebabkan adanya identifikasi diri dengan sekolah atau adanya komitmen,
memberikan motivasi kepada mereka untuk bekerja keras dan mendorong untuk
mencapai tujuan yang diinginkan sekolah.
Budaya sekolah dengan budaya madrasah memiliki perbedaan,
karena budaya madrasah memiliki ciri-cirii khusus dibandingkan dengan sekolah,
sebagaimana yang disampaikan oleh Minnah El Widdah, Asep Suryana dan Kholid
Musyaddad dalam kepemimpinan berbasis nilai dan pengembangan mutu madrasah
yaitu madrasah adalah konsep lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam,
keberadaannya muncul dikarenakan hasrat kuat masyarakat Islam untuk berperan
serta dalam pendidikan dan motivasi keagamaan yang kuat dari para orang tua
untuk meningkatkan pendidikan agama anak-anaknya dibandingkan dengan bersekolah
di sekolah umum pada biasanya serta adanya anggapan di masyarakat bahwa
menyekolahkan anak perempuannya di madrasah merasa lebih aman dengan kata lain
madrasah dianggap sebagai benteng moral bagi siswa-siswinya. Begitu juga dengan
mata pelajaran yang diperoleh oleh para siswa-siswinya tidak hanya mendapatkan
pelajaran agama sebagai ciri khas dari madrasah tetapi juga mendapatkan mata
pelajaran umum sebagaimana di sekolah umum biasanya.[69]
Budaya madrasah merupakan bagian dari penerpan manajemen
pendidikan Islam, karena manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses
pemanfaatan sumber daya yang dimiliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau
lainnya), baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatn tersebut dilakukan
melalui kerja sama dengan orang lain secara efektif, efesien dan produktif
untuk mencapai kebahagian dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.[70]
Perlu adanya manajemen madrasah salah satunya dengan
perencanaan program madrasah. Menurut Mochtar Efendi dalam Martinis Yamin hasil
yang ditentukan dan Maisah bahwa perencanaan merupakan tindakan yang dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang ditentukan dalam jangka ruang dan waktu tertentu.
Dengan demikian perencanaan itu merupakan suatu proses pemikiran baik secara
garis besar maupun secara mendetail dari suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mencapai kepastian yang paling baik dan ekonomis. Nabi juga menyatakan berpikir
itu ibadah, jadi sebelum kita melakukan sesuatu wajib dipikirkan terlebih
dahulu. Hubungannnya dengan budaya madrasah adalah setiap kebiasaan yang ada di
madrasah merupakan hasil dari perencanaan yang dilakukan oleh madrasah tersebut
salah satu contohnya adalah tata tertib yang ditetapkan oleh pihak madrasah.[71]
Kurikulum sekolah umum berbeda dengan
kurikulum di madrasah, karena kurikulum sangat mempengaruhi budaya madrsah. Kerangka dasar kurikulum Madrasah merupakan landasan
filosofis, sosiologis, psikopedagogis dan yuridis yang berfungsi sebagai acuan pengembangan struktur kurikulum. Sedang struktur kurikulum
Madrasah merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban
belajar dan kompetensi dasar pada setiap Madrasah.[72]
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam segala urusan yang
menjadi tanggung jawabnya. Untuk mencapai tujuan
tersebut, madrasah adalah salah satu bagian penting dari sistem pendidikan di
Indonesia.[73]
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk
mewujudkan budaya madrasah yaitu kebiasaan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Serta berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sekolah yang efektif adalah sekolah yang memiliki budaya
sekolah yang efektif juga yaitu sekolah yang mempertunjukkan standar tinggi pda
prestasi akademis maupun non akademis dan mempunyai suatu kultur yang
berorientasi kepada tujuan yang ingin dicapai dan hal tersebut ditandai dengan
adanya rumusan visi yang ditetapkan dan dipromosikan bersama antar warga
sekolah. Pada sekolah yang efektif, kultur dijadikan sebagai landasan yang kuat
sebagai determinasinay dalam mencapai kesuksesn akademis. Budaya sekolah yang
tumbuh pada sekolah yang efektif adalah budaya yang mampu memberikan
karakteristik perlakukan sekolah terhadap peserta didik agar dapat mencintai
pelajaran sehingga siswa memiliki dorongan instrinsik untuk semangat terus
dalam belajar.[74]
Dapat disimpulkan bahwa budaya madrasah adalah kebiasaan
yang kuat yang meliputi keyakinan, nilai, norma dan kebiasaan yang mempengaruhi
setiap warga sekolah dengan berbasis ajaran agama Islam mulai dari tata tertib,
kurikulum pelajaran, kegiatan ekstrakulikuler dan adab setiap warga madrasah.
Adapun indikator budaya madrasah adalah 1) Lembaga pendidikan yang berlandaskan
ajaran Islam yang di padukan dengan mata pelajaran umum, 2) Tata tertib yang
disusun berlandaskan ajaran Islam, warga madrasah bekerja secara kolaboratif, 3)
Adanya kekuatan kepercayaan yang tumbuh di antara kepala sekolah, 4) Guru dan
karyawan yang berorintasi untuk mencapai kemajuan madrasah dengan kebersamaan,
saling memotivasi dan bekerja keras, 5) Kepedulian terhadap situasi dan kondisi
siswa, 6) Dukungan terhadap inovasi yang dilakukan sekolah dan serta melakukan
pekerjaan sebagai ibadah.
B.
KERANGKA BERPIKIR
1.
Hubungan antara motivasi berprestasi (X1) dengan kepemimpinan
transformasional (Y)
Motivasi berprestasi sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil
dalam kompetisi dengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun
prestasi sendiri. Lindgren mengemukakan hal senada bahwa motivasi berprestasi sebagai suatu dorongan
yang ada pada seseorang sehubungan dengan prestasi, yaitu menguasai, memanipulasi serat mengatur lingungan sosial maupun fisik, mengatasi
segala rintangan dan memelihara kualitas kerja yang tinggi, bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi
hasil kerja yang lampau, serta mengungguli hasil
kerja yang lain.
Motivasi berprestasi merupakan keinginan
untuk menyelesaikan sesuatu untuk mencapai suatu standar kesuksesan dan untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan untuk mencapai kesuksesan. Gagne dan
Barliner menambahkan bahwa motivasi berprestasi adalah cara seseorang untuk berusaha dengan baik untuk prestasinya. Menurut Heckhausen motif berprestasi
diartikan sebagai usaha untuk meningkatkan atau melakukan kecakapan pribadi setinggi mungkin dalam segala aktivitas dan suatu ukuran
keunggulan tersebut digunakan sebagai pembanding, meskipun dalam usaha melakukan aktivitas tersebut ada dua kemungkinan yakni gagal atau berhasil.
Apabila kepala madrasah memiliki motivasi
berprestasi maka akan mampu menjadi pemimpin yang transformasional. Dari analisis tersebut di atas dapat dikatakan bahwa
dapat diduga terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan
kepemimpinan transformasional. Dengan kata lain semakin baik motivasi berprestasi
seseorang maka kepemimpinan transformasionalnya akan semakin baik pula.
2.
Hubungan antara tingkat pendidikan (X2) dengan kepemimpinan
transformasional (Y)
Pendidikan dengan berbagai programnya
mempunyai peranan penting dalam memperoleh dan meningkatkan kualitas kemampuan
profesional individu. Melalui pendidikan seseorang dipersiapkan untuk memiliki
bekal agar siap tahu, mengenal dan mengembangkan metode berfikir secara
sistematis agar dapat memecahkan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan
dikemudian hari (Sedarmayanti).
Pendidikan sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusisa
dewasa dengan si anak didik secara tatap muka
atau dengan menggunakan media dalam memberikan bantuan
terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar
menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.
Potensi tersebut berupa potensi fisik, emosi,
sosial, sikap, moral, pengetahuan, maupun
keterampilannya, yang dimaksud dengan tingkat pendidikan adalah tingkatan pendidikan yang diperoleh secara formal yang
dibuktikan dengan ijazah formal, ijazah adalah
tanda pengakuan bahwa seseorang telah menyelesaikan
suatu program pendidikan tertentu. Dengan demikian ijazah dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan seseorang.
Apabila kepala madrasah memiliki tingkat
pendidikan yang baik maka akan mampu menjadi pemimpin yang transformasional. Dari analisis tersebut di atas dapat dikatakan bahwa
dapat diduga terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan
kepemimpinan transformasional. Dengan kata lain semakin baik tingkat pendidikan
seseorang maka kepemimpinan transformasionalnya akan semakin baik pula.
3.
Hubungan antara budaya madrasah (X3) dengan kepemimpinan transformasional
(Y)
Budaya madrasah adalah jaringan yang kuat yang meliputi
keyakinan, nilai, norma dan kebiasaan yang mempengaruhi setiap warga sekolah
dengan berbasis ajaran agama Islam mulai dari tata tertib, kurikulum pelajaran,
kegiatan ekstrakulikuler dan adab setiap warga madrasah. Adapun indikator
budaya madrasah adalah lembaga pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam yang
di padukan dengan mata pelajaran umum, tata tertib yang disusun berlandaskan
ajaran Islam, warga madrasah bekerja secara kolaboratif, adanya kekuatan
kepercayaan yang tumbuh di antara kepala sekolah, guru dan karyawan yang
berorintasi untuk mencapai kemajuan madrasah dengan kebersamaan, saling
memotivasi dan bekerja keras, kepedulian terhadap situasi dan kondisi siswa,
dukungan terhadap inovasi yang dilakukan sekolah dan serta melakukan pekerjaan
sebagai ibadah.
Apabila budaya madrasahnya baik maka akan
mampu mewujudkan pemimpin yang transformasional. Dari analisis tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dapat diduga terdapat
hubungan positif antara budaya madrasah dengan kepemimpinan transformasional.
Dengan kata lain semakin baik budaya madrasah maka kepemimpinan
transformasionalnya akan terwujud.
4.
Hubungan antara motivasi berprestasi (X1), tingkat pendidikan (X2), budaya
madrasah (X3) dengan kepemimpinan transformasional (Y)
Kepemimpinan transformasional adalah pimpinan yang mampu
membangun perubahan dalam tubuh organisasi madrasah sesuai dengan nilai-nilai
yang ditetapkan dengan memberdayakan seluruh komunitas madrasah melalui
komunikasi yang terarah, agar para pengikut dapat bekerja lebih energi dan
terfokus, sehingga pengajaran dan pembelajaran menjadi bersifat transformatif
bagi setiap orang. Kepemimpinan transformasional memiliki sikap pembaru, memberi
teladan, mendorong kinerja bawahan, mengharmoniskan lingkungan kerja, memberdayakan
bawahan, bertindak atas sistem nilai, meningkatkan kemampuannya terus menerus
dan mampu menghadapi situasi yang rumit.
Apabila kepala madrasah memiliki motivasi
berprestasi, tingkat pendidikan yang baik, budaya madrasah yang baik maka akan
mampu mewujudkan pemimpin yang transformasional. Dari analisis tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dapat diduga terdapat
hubungan positif antara motivasi berprestasi, tingkat pendidikan yang
baik, budaya madrasah dengan kepemimpinan
transformasional. Dengan kata lain semakin baik motivasi berprestasi,
tingkat pendidikan yang baik, budaya madrasah seseorang maka kepemimpinan transformasionalnya akan terwujud pula.
C.
HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan kerangka berfikir yang telah dikemukakan di
atas, dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi
dengan kepemimpinan transformasional. Dengan kata lain semakin baik motivasi
berprestasi seseorang maka kepemimpinan transformasionalnya akan semakin baik
pula.
2.
Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan dengan kepemimpinan
transformasional. Dengan kata lain semakin baik tingkat pendidikan seseorang
maka kepemimpinan transformasionalnya akan semakin baik pula.
3. Terdapat hubungan positif antara budaya madrasah dengan
kepemimpinan transformasional. Dengan kata lain semakin baik budaya madrasah
maka kepemimpinan transformasionalnya akan terwujud.
4. Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi, tingkat pendidikan yang baik, budaya madrasah dengan kepemimpinan transformasional. Dengan kata lain
semakin baik motivasi berprestasi, tingkat pendidikan yang
baik, budaya madrasah seseorang maka
kepemimpinan transformasionalnya akan terwujud pula.
D.
PENELITIAN RELEVAN
1. Bambang Suratman. 2009. Hubungan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah, Ketersediaan Sarana
Prasarana, Kapabilitas Mengajar Guru, dan Dukungan Orang Tua, dengan Prestasi
Belajar Siswa SMP Negeri di Kota Surabaya. Disertasi, Program Studi
Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Hasil penelitiannya adalah:
Kepemimpinan kepala
sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan
tinggi rendahnya prestasi siswa, sehingga, kepala sekolah dituntut memiliki kemam-puan memimpin yang memadai agar mampu mengambil inisiatif
meningkatkan kuali-tas sekolah. Prestasi siswa dipengaruhi
oleh banyak faktor, misalnya kompetensi manajerial kepala sekolah, kapabilitas
mengajar guru, sarana prasarana, dan faktor lainnya. Prestasi siswa SMPN di
Surabaya beberapa tahun terakhir tidak masuk 10 besar Jawa Timur sehingga perlu
diketahui penyebabnya.
Tujuan pokok penelitian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana
kontribusi variabel-variabel kompetensi manajerial kepala sekolah, ketersediaan
sarana dan prasarana, dan kapabilitas mengajar guru, dukungan orangtua dengan
prestasi siswa SMPN di Surabaya.
Ditinjau
dari jenis data yang dikumpulkan, penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif,
termasuk penelitian survey, karena mengumpulkan data yang luas dan banyak, serta
untuk mencari pembuktian. Juga termasuk penelitian deskriptif korelasional.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru Negeri yang bertugas di SMPN
di kota Surabaya yang berjumlah 2016 orang guru. Sampel sebesar 322 orang guru,
dan pengambilannya secara proporsional sampel. Teknik pengumpulan data
menggunakan instrumen berupa kuesioner untuk menjaring keempat variabel yaitu:
(1) kompetensi manajerial kepala sekolah, (2) ketersediaan sarana pra-sarana,
(3) kapabilitas mengajar guru, (4) dukungan orang tua dan (5) untuk memperoleh
data prestasi siswa SMPN di kota Surabaya dilakukan dengan dokumentasi.
Hasil
penelitian menunjukkan: (1) kompetensi manajerial kepala sekolah, Keterse-diaan
sarana dan prasarana, Kapabilitas mengajar guru, Dukungan orang tua, dan
Prestasi belajar siswa, secara umum berada dalam kategori sedang. (2) terdapat
hubungan langsung yang signifikan antara kompetensi manajerial kepala sekolah
dengan dukungan orang tua, (3) ada hubungan langsung yang signifikan antara
kompetensi manajerial kepala sekolah dengan kapabilitas mengajar guru, (4) ada
hubungan langsung yang signifikan antara ketersediaan sarana dan prasarana
dengan kapabilitas mengajar guru, (5) ada hubungan langsung yang signifikan
antara dukungan orang tua dengan kapabilitas mengajar guru, (6) ada hubungan
langsung yang signifikan antara kapabilitas mengajar guru dengan prestasi
belajar siswa, (7) ada hubungan langsung yang signifikan antara dukungan orang
tua dengan prestasi belajar siswa, (8) ada hubungan langsung yang signifikan
antara ketersediaan sarana dan prasarana dengan prestasi belajar siswa, (9) ada
hubungan langsung yang signifikan antara kompetensi manajerial kepala sekolah
dengan prestasi belajar siswa, (10) ada hubungan tidak langsung yang signifikan
antara kompetensi manajerial kepala sekolah dengan kapabilitas mengajar guru,
melalui dukungan orang tua, (11) ada hubungan tidak langsung yang signifikan
antara kompetensi manajerial kepala sekolah dengan prestasi belajar siswa,
melalui kapabilitas mengajar guru, (12) ada hubungan tidak langsung yang
signifikan antara kompetensi manajerial kepala sekolah dengan prestasi belajar
siswa, melalui dukungan orang tua, (13) ada hubungan tidak langsung yang
signifikan antara ketersediaan sarana dan prasarana dengan prestasi belajar
siswa, melalui kapabilitas mengajar guru. (14) Berdasarkan nilai kontribusi
kumulasi dari keempat variabel bebas kompetensi manajerial kepala sekolah,
ketersediaan sarana dan prasarana, kapabilitas mengajar guru, dan dukungan
orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SMPN Kota Surabaya sebesar R
Square = 0,938 atau sebesar 93,8%, dan 6,2% lainnya
dimungkinkan oleh sebab variabel yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Berdasarkan
temuan yang dikemukakan tersebut, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:
(1) Melihat keadaan dari kompetensi manajerial kepala sekolah, ketersediaan
sarana dan prasarana, kapabilitas mengajar guru, dukungan orang tua, dan
prestasi belajar siswa, kesemuanya dalam kategori sedang, penulis menyarankan
kepada pihak SMP Negeri di Kota Surabaya untuk (a) meningkatkan kompetensi
manajerial kepala sekolah, (b) meningkatkan dan memanfaatkan secara maksimal
ketersediaan sarana dan prasarana, (c) meningkatkan kapabilitas mengajar guru
dengan mengikuti kegiatan pengembangan profesi misalnya training maupun
pendidikan lanjut, dan (d) meningkatkan dukungan orang tua melalui sikap-sikap
tenggang rasa, dan sambung rasa, jalinan kerja sama dengan orang lain,
khususnya dengan orang tua siswa dan masyarakat pada umumnya. (2). Dengan
diterimanya semua hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, maka penulis
menyarankan kepada beberapa pihak: (a) Bagi Dinas Pendidikan untuk
memprioritaskan pelatihan tentang kepemimpinan manajerial kepala sekolah,
memberikan izin dan bea siswa untuk studi lanjut. (b) Bagi Kepala Sekolah,
meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana dan pemanfaatannya
sebaik-baiknya. (c) Bagi guru-guru disarankan untuk mengikuti studi lanjut,
mengikuti seminar dan sejenisnya. (d) Bagi peneliti lain, diharapkan dijadikan
pertimbangan dalam penelitian lainnya yang mempunyai sasaran sama dengan
pendekatan secara parsial maupun secara komprehensif. (e) Bagi pengembang ilmu
manajemen pendidikan, agar dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ilmu yag
berkaitan dengan kompetensi manajerial kepala sekolah, sarana prasarana
sekolah, dukungan orang tua, kapabilitas mengajar guru maupun prestasi siswa,
dalam rangka pengembangan model.
2. Ahmad Tanzeh. 2009. Hubungan Antara Keefektifan
Perencanaan Kepala Sekolah, Kapasitas Pengorganisasian Personel, Motivasi
Kerja, dan Peningkatan Profesionalisme Guru dengan Kinerja Guru pada Madrasah
Aliyah Negeri (MAN) di Kabupaten dan Kota Blitar. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program
Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Hasil Penelitiannya adalah:
Keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh para guru dan
kepala sekolah, meskipun kinerja guru juga sangat dipengaruhi oleh kepala
sekolah melalui manajerialnya yang mampu menciptakan semangat kerja guru yang
tinggi. Semangat kerja guru yang tinggi itu tentunya dimaksudkan untuk
menunjang terwujudnya tujuan organisasi sekolah.
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan hubungan secara langsung
antara keefektifan perencanaan peningkatan mutu sekolah, kapasitas pengorganisasian
personel, motivasi kerja, dan peningkatan profesionalisme guru dengan kinerja
guru pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di kabupaten dan kota Blitar.
Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian dengan
pendekatan kuantitatif. Sedang dilihat dari cara analisis data, penelitian ini
termasuk tipe penelitian korelasional. Penelitian dilaksanakan di kabupaten dan kota Blitar melibatkan
4 Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten dan kota Blitar, sampel penelitian
sebanyak 100 guru, diambil dari populasi sebesar 253 guru. Data penelitian
dikumpulkan dengan instrumen angket yang telah terbukti memiliki tingkat
validitas dan reliabilitas yang dipersyaratkan. Teknik analisis data
menggunakan SEM (Structural Equation
Modelling) atau Pemodelan Persamaan Struktural. Analisis data menggunakan
komputer Program Amos 04.
Hasil Analisis deskriptif dapat disimpulkan bahwa: (1) rata-rata
tingkat keefektifan perencanaan peningkatan mutu
sekolah, kapasitas pengorganisasian personel, motivasi kerja, peningkatan profesionalisme
guru, dan kinerja guru pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di kabupaten dan kota
Blitar termasuk dalam kategori tinggi; (2) Secara
komprehensif model konsep-tual hubungan variabel yang dikembangkan adalah fit (baik), memenuhi standar persyaratan
Goodness-of-Fit, sehingga dapat
digunakan untuk menguji hipotesis
Dari hasil pengujian hipotesis hubungan langsung dapat disimpulkan
bahwa : (1) Ada hubungan langsung yang signifikan antara keefektifan perencanaan
peningkatan mutu sekolah dengan kapasitas pengorganisasian personel, (2) Ada
hubungan langsung yang signifikan antara perencanaan peningkatan mutu sekolah
dengan motivasi kerja, (3) Ada hubungan langsung yang signifikan antara
kapasitas pengorganisasian personel dengan motivasi kerja, (4) Tidak ada
hubungan langsung yang signifikan antara keefektifan perencanaan peningkatan
mutu sekolah dengan peningkatan profesionalisme guru,(5) Ada hubungan langsung
yang signifikan antara kapasitas pengorganisasian
personel dengan peningkatan profesionalisme guru, (6) Ada hubungan langsung yang signifikan antara motivasi
kerja dengan peningkatan profesionalisme guru, (7) Ada
hubungan langsung yang signifikan antara perencanaan peningkatan mutu sekolah
dengan kinerja guru, (8) Ada hubungan langsung yang signifikan antara kapasitas pengorganisasian personel dengan
kinerja guru, (9) Ada hubungan langsung yang signifikan antara motivasi kerja
dengan kinerja guru, dan (10) Ada hubungan langsung yang signifikan antara peningkatan profesionalisme guru
dengan kinerja guru.
Sedangkan dari hasil pengujian hipotesis hubungan tidak langsung
dapat dikemukakan: (1) Terdapat hubungan tidak
langsung antara perencanaan peningkatan mutu sekolah dengan motivasi kerja melalui kapasitas
pengorganisasian personel, (2) Terdapat hubungan tidak langsung antara perencanaan peningkatan mutu sekolah dengan peningkatan
profesionalisme guru melalui pegoranisasian personel dan motivasi kerja, (3)
Terdapat hubungan tidak langsung antara kapasitas pengorganisasian personel
dengan peningkatan profesionalisme guru melalui motivasi kerja, (4) Terdapat
hubungan tidak langsung antara perencanaan peningkatan mutu sekolah dengan
kinerja guru melalui pengorganisasian personel, motivasi kerja dan peningkatan
profesionalisme guru, (5)Terdapat hubungan tidak langsung antara kapasitas
pengorganisasian personel dengan kinerja guru melalui motivasi kerja dan
peninkatan profesionalisme guru, (6)Terdapat hubungan tidak langsung antara
motivasi kerja dengan kinerja guru melalui peningkatan profesionalisme guru.
3. Hussain K. Hussain, Noraini Abu Talib dan Ishak
Mad Shah. International Journal of Science and Research (IJSR) ISSN (Online):
2319-7064. Impact Factor (2012): 3.358. Transformational
Leadership and Academic Staff in Iraqi Public Universities.[75] Hasil
penelitiannya adalah:
Dalam dunia sekarang ini peran
kepemimpinan dalam mengendalikan faktor-faktor organisasi bervariasi. Hal ini
terutama karena manusia memiliki kemampuan yang berbeda di seluruh manusia.
Kemampuan ini baik diperoleh melalui pengalaman atau melalui pelatihan intelektual.
Kemampuan ini membantu beberapa individu untuk mempengaruhi orang lain an
pendidikan tinggi di Irak menghadapi banyak tantangan seperti semangat kerja
karyawan atau kepuasan, peringkat perguruan tinggi di dunia dan otak drain di
sektor yang mengarah ke kepuasan kerja yang lebih rendah.
Oleh karena itu, tujuan
penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh gaya kepemimpinan transformasional
pada kedua (kepuasan kerja intrinsik , kepuasan kerja ekstrinsik) di Irak
pendidikan tinggi . Data kuantitatif dikumpulkan melalui instrumen survei.
Populasi untuk penelitian ini terdiri dari staf akademik di 10 universitas
negeri didistribusikan di seluruh Irak. Sampel terdiri dari 280 anggota staf
akademik yang dipilih melalui teknik random sampling. Hasil penelitian
menemukan bahwa ada hubungan yang kuat yang signifikan antara transformasional
gaya kepemimpinan dan kedua (kepuasan kerja intrinsik, kepuasan kerja
ekstrinsik).
Dengan demikian, penelitian ini
memberikan kontribusi ke kolam renang yang ada pengetahuan tentang dampak
empiris kepemimpinan transformasional pada kedua (kepuasan kerja intrinsik,
kepuasan kerja ekstrinsik). Aspek yang berbeda dari variabel-variabel ini diuji
, sehingga memberikan memimpin lebih luas dan lebih komprehensif untuk memahami
faktor-faktor atau unsur yang mempengaruhi universitas publik di bidang
pendidikan tinggi Irak .
4. Shagufta Parveen dan
Adeel Tariq. International Journal of Science and Research (IJSR) ISSN
(Online): 2319-7064 Impact Factor (2012): 3.358 Volume 3 Issue 12, December
2014. Leadership Style, Gender and Job
Satisfaction: A Situational Leadership Approach. Hasil Penelitiannya adalah:
Penelitian ini mencoba untuk mengetahui bahwa gaya
kepemimpinan dan jenis kelamin kepala departemen mempengaruhi kepuasan kerja
anggota fakultas di universitas Rawalpindi, Islamabad, Wah dan Taxila. Total
sampel yang dipilih adalah 350 anggota fakultas dari 9 universitas Rawalpindi,
Islamabad, Wah dan Taxila. Kuesioner dan dikembalikan oleh 223 responden yang
dilibatkan dalam penelitian. Sisa yang tidak lengkap atau salah.
Hasil penelitian ini diambil dengan menggunakan analisis regresi
dan hubungan diuji dengan menggunakan korelasi. Hasil tercermin bahwa gaya
kepemimpinan dan jenis kelamin kepala departemen memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kepuasan kerja anggota fakultas. Sementara
belajar yang gaya kepemimpinan lebih disukai, menjual gaya kepemimpinan
ditemukan sebagai gaya utama untuk membuat keputusan dengan kepala departemen. Berpartisipasi
gaya kepemimpinan yang digunakan sebagai gaya sekunder dengan kepala departemen
di semua universitas yang termasuk dalam penelitian ini. Mengatakan dan
Mendelegasikan gaya
kepemimpinan yang hampir tidak ada dan ini tidak disukai oleh kepala departemen
dalam membuat keputusan secara keseluruhan.
Adapun posisi penelitian yang diteliti oleh peneliti
berbeda dengan penelitian yang sebelumnya termasuk penelitian relevan dalam
penulisan proposal penelitian ini. Peneliti mencoba mendeskripsikan secara
fundamental atau mendasar tentang kepemimpinan transformasional dalam
meningkatkan budaya madrasah di provinsi Jambi dengan melihat potensi-potensi
serta peluang dalam penerapan kepemimpinan transformasional dan memberikan
solusi terhadap permasalahan kepemimpinan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitaif korelasional dengan rancangan korelasi bivariat. Menurut
Gay dalam Emzir penelitian korelasional kadang-kadang diperlakukan sebagai
penelitian deskriptif, terutama disebabkan penelitian korelasional
mendiskripsikan sebuah kondisi yang telah ada. Bagaimanapun, kondisi yang
dideskripsikan berbeda secara nyata dari kondisi yang biasanya dideskripsikan
dalam laporan diri atau studi observasi; suatu studi korelasional
mendeskripsikan, dalam istilah kuantitatif tingkatan di mana variabel-variabel
berhubungan.
Penelitian korelasional melibatkan
pengumpulan data untuk menetukan apakah, dan untuk tingkatan apa, terdapat
hubungan antara dua variabel atau lebih variabel yang dapat dikuantitatifkan.
Tingkatan hubungan diungkapkan sebagai suatu koefisien korelasi. Jika terdapat
hubungan antara dua variabel, maka itu berarti bahwa skor di dalam rentangan
tertentu pada suatu pengukuran berasosiasi dengan skor di dalam rentangan
tertentu pada pengukuran yang lain. Tujuan studi korelasional adalah untuk
menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut
untuk membuat prediksi.[76]
Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah
suatu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara
dua variabel. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai
tingkatan dan arah. Tingkatan
hubungan (bagaimana kuatnya
hubungan) biasanya diungkapkan dalam angka antara -1 dan +1, yang dinamakan
koefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada hubungan.
Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1 atau +1, merupakan korelasi
sempurna pada kedua ekstrem. Arah
hubungan diindikasikan oleh simbol “-“ dan “+”. Suatu korelasi negatif berarti
bahwa tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah pula skor pada variabel
lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan bahwa semakin tinggi
skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada variabel lain atau
sebaliknya.[77]
Adanya perbedaan antara penelitian
kualitatif dan kuantitatif. Menurut Noeng Muhadjir dalam metodologi penelitian
kualitatif menjelaskan bahwa ada empat model penelitian kualitatif yaitu model
gounded reaserch dari Glasser dan Strauss, model ethnometodologi dari Bogdan.[78]
Menurut Lexy J Moleong bahwa penelitian kualitatif deskriptif yaitu peneliti
mencari dan menggunakan data-data yang bersifat deskriptif yaitu berupa
kata-kata atau ungkapan, pendapat-pendapat dari informan penelitian baik lisan
atau tulisan.[79]
Menurut Arief Furchan bahwa
penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh
informasi tentang status gejala saat penelitian dilakukan.[80]
Travers dalam Husein Umar, bahwa penelitian kualitatif deskriptif bertujuan
untuk menggambarkan sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan
dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu, hal tersebut bisa dilihat
dari pengamatan yang dilakukan, hasil wawancara dan dokumen-dokumen yang ada.[81]
Penelitian korelasi berarti adanya
keterhubungan antara dua variable atau lebih.
Ada empat variabel dalam penelitian ini,
yaitu terdiri dari tiga variabel bebas: Motivasi berprestasi (X1),
Tingkat Pendidikan (X2), Budaya Madrasah (X3) dan satu
variabel terikat yaitu: Kepemimpinan transformasional (Y). Konstelasi permasalahan hubungan antara
variabel bebas dengan variabel terikat dapat dilihat pada gambar berikut ini:.....
|
|
Keterangan:
Y : Kepemimpinan Transformasional
X1 : Motivasi Berprestasi
X2 : Tingkat Pendidikan
X3 : Budaya Madrasah
X1, X2, X3: Secara bersama-sama
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Ada
banyak pengertian populasi oleh para ahli diantaranya; kata
populasi (population/universe) dalam statistika merujuk pada
sekumpulan individu dengan karakteristik khas yang menjadi perhatian dalam
suatu penelitian (pengamatan). Populasi dalam statistika tidak terbatas pada
sekelompok orang, tetapi juga binatang atau apa saja yang menjadi perhatian
kita. Misalnya populasi bank swasta di Indonesia, tanaman, rumah, alat-alat
perkantoran, dan jenis pekerjaan.
Populasi adalah
sumber data dalam penelitian tertentu yang memiliki jumlah banyak dan luas. Jika
data diambil dari populasi, maka akan memerlukan dana dan waktu yang cukup
banyak sehingga dalam penelitian hal itu terlalu mahal. Alternatif agar data
yang diperoleh maupun mewakili data yang ada pada pupulasi, maka dalam
penelitian sering dilakukan pemilihan responden atau sumber data yang tidak
begitu banyak dari populasi, tetapi cukup mewakili. Prosesnya dengan teknik
penyampelan atau teknik sampling.[82]
Kuntoro dalam Toto
menyebutkan bahwa populasi adalah totalitas semua kasus, kejadian, orang, hal
dan lain-lain. Populasi dapat berwujud sejumlah manusia, kurikulum, kemampuan
manajemen, alat-alat mengajar, cara mengajar, cara pengadministrasian,
kepemimpinan, peristiwa, dan lain-lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
populasi adalah jumlah keseluruhan dari satuan-satuan atau individu-individu
yang karakteristiknya hendak diduga.[83]
Banyaknya pengamatan
atau anggota suatu populasi disebut ukuran populasi. Ukuran populasi ada dua:
(1) populasi terhingga (finite population),
yaitu ukuran populasi yang berapa pun besarnya tetapi masih bisa dihitung (cauntable). Misalnya populasi pegawai
suatu perusahaan; (2) populasi tak terhingga (infinite population), yaitu ukuran populasi yang sudah sedemikian
besarnya sehingga sudah tidak bisa dihitung (uncountable). Misalnya populasi tanaman anggrek di dunia.
Populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kualitas
dan karekteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya[84].
Menurut Sutrisno Hadi[85]
populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang paling sedikit mempunyai
satu sifat yang sama, sedangkan sebagian individu yang diteliti dinamakan
sampel.
Populasi
adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu. ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan. Populasi adalah sumber data
dalam penelitian tertentu yang memiliki jumlah banyak dan luas sedangkan sampel
adalah ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan masalah, tujuan,
hipotesis, metode dan instrumen penelitian, disamping pertimbangan waktu,
tenaga, dan pembiayaan.[86]
Populasi dalam
penelitian ini seluruh guru yang mengajar di Madrasah Aliayah Negeri di
provinsi Jambi, yang tersebar dalam tiga madrasah yaitu di MAN Model Kota Jambi,
MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2. Sampel
Sampel ditentukan
oleh peneliti berdasarkan pertimbangan, tujuan, hipotesis, metode, dan intrumen
penelitian. Di samping pertimbangan waktu, tenaga, dan pembiayaan. Sebagaimana
dijelaskan di atas bahwa sampel terdiri atau subjek penelitian (responden) yang
menjadi sumber data terpilih dari hasil pekerjaan teknik penyampelan (teknik
sampling).[87]
Dengan demikian, sampel adalah bagian dari populasi. Dalam sampel harus
tergambarkan karakteristik populasi.[88]
Secara umum, ada dua
jenis teknik pengambilan sampel yaitu, secara acak atau random dan sampel tidak
acak atau non random. Random sampling adalah cara pengambilan sampel yang
memberikan kesempatan yang sama untuk diambil pada setiap elemen pupolasi.
Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah
25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih
menjadi sampel. Non random sampling adalah setiap elemen populasi tidak
mempunyai kemungkinan dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah
peneliti, sedangkan lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinan 0
(nol).
Syarat pertama yang
harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau
membuat kerangka sampel atau yang dikenal dengan nama “sampling frame”.
Kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen pupolasi yang bisa
diambil sebagai sampel. Tujuan digunakannnya teknik random sampling adalah
untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi.[89]
Pengambilan sampel
secara acak yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratification random
sampling (pengambilan sampel acak distratifikasi). Stratification random
sampling digunakan dalam penelitian jika satuan-satuan elementer dalam
populasi tidak homogen, populasi dapat distratifikasi atau dibagi-bagi dalam
sub-sub populasi, sehingga satuan-satuan elementer dalam tiap-tiap subpopulasi
menjadi homogen. Kemudian, pengambilan sampel dengan cara acak dapat dilakukan
pada setiap subpopulasi.
Perlu dipahami bahwa
pengertian homogen di sini terkait dengan variabel penelitian. Ada tiga syarat yang
harus dipenuhi dalam teknik pengambilan sampel secara acak distratifikasi,
yaitu: ada kriteria yang jelas sebagai dasar untuk membuat stratifikasi, kriteria
yang digunakan tersebut berdasarkan data pendahuluan yang telah diperoleh atau
bisa juga berdasarkan pengetahuan teoritis dan jika jumlah atau ukuran sampel
proporsional, harus diketahui dengan tepat jumlah satuan-satuan elemneter yang
ada pada setiap subpopulasi.[90]
Banyaknya anggota
suatu sampel disebut ukuran sampel, sedangkan suatu nilai yang menggambarkan
ciri sampel disebut statistik. Sampel diharapkan bisa mewakili populasi, karena
itu sampel dibagi dua, yaitu sampel representatif dan sampel nonrepresentatif.
Sampel representatif adalah sampel yang bisa mewakili keadaan populasinya, dan
sampel nonrepresentatif adalah sampel yang tidak dapat mewakili populasinya. Dapat diperhatikan melalui gambar berikut:
|
POPULASI
|
|
N
|
|
SAMPEL
|
|
n
|
|
Sampling
|
C. Teknik Pengumpulan Data
Adapun
instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah:
1. Angket
Kata
kuesioner dipakai untuk menyebutkan metode atau instrumen. Artinya, dalam
menggunakan metode kuesioner, instrumen yang digunakan juga kuesioner. Jawaban
yang diperoleh dari kuesioner adalah berupa tulisan (tertulis). Tujuan pokok
penyusunan kuesioner adalah: 1. Memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan
penelitian, 2. Memperoleh informasi yang tingkat kebenaran dan keterpercayaan
(validitas dan reabilitas) tinggi).[91]
Bentuk
kuesioner atau angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rating Scale.
Rating scale (skala bertingkat), yaitu sebuah pertanyaan yang diikuti
oleh jawaban bertingkat-tingkat. Misalnya, sangat setuju-setuju-kurang setuju,
tidak setuju, sangat tidak setuju. Kalimat dari kuesioner bentuk ini dapat
dibuat dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan.[92]
2. Observasi
Observasi
merupakan pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai
fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan
pencatatan.[93] Menurut Sutrisno Hadi, metode observasi adalah metode
pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik
fenomena-fenomena yang diselidiki.[94]
Observasi
juga merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian.[95] Observasi yang dilakukan peneliti yaitu setiap kegiatan
atau aktivitas yang dilakukan kepala madrasah, guru dan karyawan.
3. Interview
atau wawancara
Interview atau wawancara
merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara
penyelidik dengan informan.[96] Menurut Sutrino Hadi bahwa metode interview adalah
metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan
sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian atau penyelidikan pada
umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab itu
dan masing-masing menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan
lancar.[97]
Interview
yaitu teknik pengumpulan data dengan
jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis berdasarkan pada
tujuan penelitian. Dalam teknik ini dikenal adanya dua macam pedoman interview
atau wawancara yaitu terstruktur dan tidak terstruktur.[98] Wawancara dilakukan
kepada guru dan karyawan yang paling utama untuk melihat sejauh mana secara
deskripsi kepemimpinan transformasional yang dilakukan oleh kepala madrasah.
4. Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data dan mengumpulkan data mengenai
hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,
notulen rapat, agenda dan sebagainya.[99]
Menurut Arif Armani bahwa dokumentasi merupakan cara pengumpulan data yang
digunakan untuk memperoleh data mengenai suatu hal atau variabel berupa catatan,
buku, surat kabar, majalah dan lain sebagainya.[100]
Data dokumenter
yaitu laporan tertulis dari suatu peristiwa yang isinya terdiri dari
penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu, serta ditulis dengan sengaja
untuk menyiapkan atau meneruskan keterangan menjadi peristiwa tersebut.[101] Dokumentasi mengenai situasi dan subjek penelitian yang
diteliti peneliti.
D. Jenis dan Sumber Data
Menurut Mc. Leod sebagaimana yang
dikutip oleh Husein Umar, pengertian data dari sudut ilmu sistem informasi
sebagai fakta-fakta maupun angka-angka yang secara relatif tidak berarti bagi
pemakai tetapi data yang sudah diolah menjadi informasi maka data tersebut
memiliki arti bagi pemakai.[102]
1. Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung
dari subjek penelitian dengan menggunkan alat pengukuran atau alat pengambilan
data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari.[103]
Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau
petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.[104]
Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari ketiga wilayah populasi
yang sudah ditentukan yaitu di MAN Model Kota Jambi, MAN 2 Kabupaten Tebo dan
MAN 2 Tanjung Jabung Timur.
2. Sumber data sekunder adalah data dari tangan kedua adalah
data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari
subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau
data laporan yang telah tersedia.[105]
Sumber data sekunder berasal dari bahan bacaan yang
berupa dokumen-dokumen seperti buku atau dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan
dalam melengkapi data primer.[106] Data sekunder adalah data yang tersusun dalam bentuk
dokumen-dokumen.[107]
Data
primer dalam penelitian ini bersumber dari kepala madrasah, guru dan karyawn
sedangkan data sekunder dari hasil dokumentasi mengenai situasi dan subjek
penelitian yang diteliti peneliti.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses
mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan
uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
seperti yang didasarkan oleh data. Analisis
data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh
dari hasil penelitian.[108] Analisis
data yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel motivasi berprestasi
(X1), tingkat pendidikan (X2), budaya madrasah (X3) dengan kepemimpinan
transformasional (Y) adalah dengan prosedur
sebagai berikut:
1. Editing
Data
yang telah terkumpul, baik data kualitatif maupun data kuantitatif harus dibaca
sekali lagi untuk memastikan apakah data tersebut bisa dijadikan bahan analisi
atau tidak. Setiap item pertanyaan dibaca ulang untuk mengetahui lengkap
tidaknya jawaban. Untuk memudahkan apakah data tersebut dapat diolah lebih
lanjut, sebaiknya peneliti memberikan kode, mana data yang dapat diolah lebih
lanjut dan mana data yang tidak dapat diolah lebih lanjut. Misalnya, data yang
dapat diolah lebih lanjut diberi kode “V” (valid) sedangkan data yang tidak
dapat diolah lebih lanjut diberi kode “M” (missing/gugur).
2. Klasifikasi
Klasifikasi
data adalah menggolongkan atau mengelompokkan data yang berupa jawaban dari
pertanyaan terbuka. Klasifikasi data dimaksudkan untuk pengolahannya apabila
data tersebut akan dianalisis, terutama analisis statistik. Dalam penelitian
kualitatif teknik pengolahan data dengan menggunakan editing dan klasifikasi
sudah cukup memadai dan selanjutnya dianalisis. Sedangkan dalam penelitian
kuantitatif, tahap pengolahan data masih berlanjut, di antaranya adalah mengode
data.
3. Mengode Data
Mengode
data adalah memberikan skor atau nilai pada setiap item jawaban. Data yang
terkumpul bisa berupa angka, kata, atau kalimat.
4. Penyusunan Buku Kode
Setelah
jawaban-jawaban responden diberi kode, langkah selanjutnya adalah menyusun kode
(coding book). Coding book dibuat selanjutnya untuk memudahkan
pengolahan data dalam melaksanakan tugasnya. Dengan kata lain coding book
dapat dijadikan pedoman bagi peneliti atau orang-orang yang ditugaskan untuk
mengolah data. Secara sederhana coding book berupa matriks yang memuat
kolom dan baris. Kolom-kolom tersebut terdiri atas nomor urut, nomor/item
pertanyaan, pilihan jawaban dan nomor kolom.
5. Menghitung Frekuensi
Setelah
selesai mengentri data ke dalam lembar kerja koding, langkah berikutnya adalah
menghitung frekuensi dari setiap item jawaban. Caranya adalah memindahkan data
yang telah dicatat pada lembar kerja koding ke dalam tabel.
6. Tabulasi
Tabulasi
data adalah penyajian data dalam bentuk tabel sehingga memudahkan para pembaca
memahami laporan penelitian tersebut. Tabulasi merupakan akhir proses
pengolahan data. Dalam bentuk tabel, data yang diperoleh dari lapangan akan
tampak ringkas dan bersifat merangkum. Dalam keadaan ringkas dan tersusun dalam
tabel yang baik, data tersebut dapat dibaca dengan mudah dan maknanya mudah
dipahami.[109]
F. Hipotesis Statistik
Hipotesis Statistik adalah pernyataan
atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. Hipotesis statistik secara umum dapat dibedakan menjadi empat macam,
yaitu: hipotesis nihil (H0),
hipotesis riset (Hr), hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis
penyearah (directional hypothesis)[110].
Hipotesis statistik dirumuskan secara matematis dalam bentuk dua kalimat
matematika, yaitu: 1) H0: hipotesis nol (nul hypothesis); hypothesis
of no difference; (tanda =), 2) Ha: hipotesis alternatif; (tanda
≠, > atau <). Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:
|
1. Ho : ρx1 = 0
Ha : ρx1 ≠ 0
|
2. Ho : ρx2 = 0
Ha : ρx2 ≠ 0
|
3. Ho : ρx3 = 0
Ha : ρx3 ≠ 0
|
4. Ho : ρx123 = 0
Ha : ρx123 ≠ 0
|
Keterangan:
Ho : Hipotesis nol
Ha : Hipotesis alternatif
ρx1 :
Korelasi antara variabel X1 dengan Y
ρx2 :
Korelasi antara variabel X2 dengan Y
ρx3 :
Korelasi antara variabel X3 dengan Y
ρx123 : Korelasi antara variabel X1, X2 dan
X3 secara bersama-sama
dengan Y
Ho
(Hipotesis nol) menyatakan tidak ada hubungan antara variabel motivasi
berprestasi (X1), tingkat pendidikan (X2), budaya madrasah (X3) kepemimpinan
transformasional (Y). sedangkan Ha (Hipotesis alternatif) menyatakan
ada hubungan antara variabel motivasi berprestasi (X1), tingkat pendidikan (X2),
budaya madrasah (X3) dengan kepemimpinan transformasional (Y).
G. Rencana dan Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan pada
bulan Maret 2015 s/d Agustus 2015. Tempat penelitian di MAN Model Kota Jambi,
MAN 2 Kabupaten Tebo dan MAN 2 Tanjung Jabung Timur. Adapun
rencana penelitiannya adalah sebagai berikut:....
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam
dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
Akh.
Muwafik Saleh. Bekerja
dengan Hati Nurani. Jakarta:
Erlangga. 2009.
Arief Furchan. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Arif Armani. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan
Islam. Jakarta: Ciputat Press. 2005.
Daryanto Suryatri Darmiatun, Implentasi Pendidikan Karakter di Sekolah.
Yogyakarta: Gava Media, 2013.
Deni
Darmawan, Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2013.
Dja’far Siddik, Ilmu Pendidikan Islam.
Bandung: Citapustaka Media, 2006.
Donni Juni Priansa, Manajemen
Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Bandung: Alfabeta, 2014.
E, Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah
Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.
Emzir,
Metodologi Penelitian Pendidikan
(Kuantitaif & Kualitatif). Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2013.
Ernie Tisnawati Sule dan
Kurniawan Saefullah. Pengantar
Manajemen. Jakarta:
Kencana. 2006.
Fatah Sukur, Manajemen Pendidikan
Berbasis Pada Madrasah. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2013.
George R. Terry dan Leslie
W. Rue. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara), 2005.
George R. Terry dan Leslie
W. Rue. Dasar-Dasar
Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara, 2012.
Hikmat,
Manajemen Pendidikan. Bandung:
Pustaka Setia, 2009.
Husaini Usman, Manajemen Teori,
Praktik dan Riset Pendidikan Edisi 4. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Husein Umar, Metode Penelitian untuk
Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008.
Joko Subagyo. Metode
Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta. 2004.
Kartini Kartono. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Grafindo Persada. 2006.
Khairul Umam, Perilaku Organisasi.
Bandung: Pustaka Setia, 2012.
Lexi
J. Moleong. Metode
Penelitian Kualitatif. Bandung
: Remaja Rosdakarya, 2004.
M. Abdurahman
dan Muhidin, Analisis Kolerasi, Regresi
dan Jalur dalam Penelitian. Bandung:
Pustaka Setia, 2007.
M. Ali Hasan dan Mukti Ali, Kapita
Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2003.
Maisah, Manajemen Pendidikan.
Bandung: Referensi (Gaung Persada Press Group), 2013.
Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi
Kinerja Guru. Jakarta: Gaung Persada Press, 2010.
Minnah El Widdah, dkk, Kepemimpinan
Berbasis Nilai dan Pengembangan Mutu Madrasah. Bandung: Alfabeta, 2012.
Nanang Fattah. Landasan
Manajemen Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya. 2013.
Noeng Muhadjir.
Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996.
Nurul Zuhriah. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.
Peraturan Mentri Agama R I Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum
Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
Robert Kreitner dan Angelo
Kinicki. Perilaku Organisasi, alih
bahasa Erly Suandy. Jakarta:
Penerbit Salemba Empat, 2003.
Saifuddin Azwar, Metode Penelitian.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Sangkala. Knowledge Management. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2007.
Siswanto. Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara. 2007.
Sudarman Danim, Visi Baru
Manajemen Madrasah dan Unit Birokrasi Kelembagaan Akademik. Jakarta: Raja Grafindo
Persada. 2005.
Sudarwan Danim dan Suparno. Manajemen
dan Kepemimpnan Transformasional dan
Kekepalamadrasahan. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta, 2010.
_______. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R& D. Bandung:
Alfabeta. 2008.
Suharsimi Arikunto.
Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1998.
_______________.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Suhendra. Manajemen dan Organisasi. Bandung: Mandar Maju. 2008
Sukardi, Metodologi
Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Akasara, 2004.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid II. Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM, 2001.
Suwatno dan Donni Juni
Priansa, Manajemen SDM dalam Organisasi
Publik dan Bisnis. Bandung: Alfabeta, 2013.
Toto
Syatori Nasehuddin dan Nanang Gozali, Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Pustaka Setia,
2012.
Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.
Veithzal Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar. Pemimpin
dan Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Wibowo, Prilaku dalam Organisasi. Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2014.
Winardi. Motivasi dan Pemotivasian
dalam Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
PT Raja Grasindo Persada. 2007.
Winarno Surahmad, Dasar dan Teknik Research dengan
Metodologi ilmiah. Bandung: Tarsito, 1986.
Wirawan. Kepemimpinan Teori, Psikologi, Prilaku Organisasi,
Aplikasi dan Penelitian. Jakarta: RajaGrafindo. 2013.
Yusuf
Qardhawi. Norma Dan Etika Ekonomi Islam, alih
bahasa Zainal Arifin dan Dahlia Husin. Jakarta: Gema Insani Press. 1997.
[1] Sudarwan Danim dan
Suparno, Manajemen dan Kepemimpnan
Transformasional dan Kekepalasekolahan
(Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal.
285.
[4] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset
Pendidikan Edisi 4 (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hal. 275-276.
[7] Daryanto Suryatri
Darmiatun, Implentasi Pendidikan Karakter
di Sekolah (Yogyakarta: Gava Media, 2013), hal. 17.
[10] Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.
[11] Nanang Fattah, Landasan
Manajemen Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 6.
[12] Veithzal Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi
(Jakarta: Raja Grafindo Persada), hal. 1-3
[13] Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah, Pengantar
Manajemen, (Jakarta: Kencana), 2006, hal. 255.
[15] Ernie Tisnawati Sule dan
Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen (Jakarta: Kencana), 2006, hal.
255.
[18] George R. Terry dan Leslie
W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara),
2005, hal. 192.
[20] Sudarman Danim, Visi
Baru Manajemen Madrasah dan Unit Birokrasi Kelembagaan Akademik (Jakarta: Raja Grafindo
Persada), 2005, hal. 204.
[26] Muchdarsyah Sinungan, Produktivitas
Apa dan Bagaimana (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 134.
[27] Winardi, Motivasi dan
Pemotivasian dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: PT Raja Grasindo Persada, 2007), hal. 1.
[28] Sukanto Reksohadiprojo dan T. Hani Handoko, Organisasi
Perusahaan, Teori Struktur dan Perilaku (Yogyakarta: BPFE, 2000), hal.
252.
[29] Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, Perilaku Organisasi, alih
bahasa Erly Suandy (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2003), hal. 248.
[30] Akh. Muwafik Saleh, Bekerja
dengan Hati Nurani (Jakarta: Erlangga, 2009), hal. 65.
[31] Yusuf
Qardhawi, Norma Dan Etika Ekonomi Islam, alih bahasa Zainal Arifin dan
Dahlia Husin (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 115.
[32] Muhaimin, dkk., Manajemen Pendidikan Aplikasinya dan
Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/ Madrsah (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2009), hal. 62.
[33] Supardi, Sekolah Efektif Konsep Dasar dan Praktiknya
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), hal. 49.
[39] George R. Terry
dan Laslie W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen
(Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hal, 192.
[40] Wirawan, Kepemimpinan Teori, Psikologi, Prilaku
Organisasi, Aplikasi dan Penelitian (Jakarta: RajaGrafindo, 2013), hal,
353-354.
[48] Suwatno dan Donni
Juni Priansa, Manajemen SDM dalam
Organisasi Publik dan Bisnis (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 171-172
[49] Muchdarsyah Sinungan, Produktivitas
Apa dan Bagaimana (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 134.
[50] Winardi, Motivasi dan
Pemotivasian dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: PT Raja Grasindo Persada, 2007), hal. 1.
[51] Sukanto Reksohadiprojo dan
T. Hani Handoko, Organisasi Perusahaan, Teori Struktur dan Perilaku
(Yogyakarta: BPFE, 2000), hal. 252.
[52] Robert Kreitner dan Angelo
Kinicki, Perilaku Organisasi, alih bahasa Erly Suandy (Jakarta: Penerbit
Salemba Empat, 2003), hal. 248.
[62] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hal. 12.
[64] M. Ali Hasan dan
Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan
Islam (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,2003), hlm. 127.
[67] Fatah Sukur, Manajemen Pendidikan Berbasis Pada Madrasah
(Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2013), hal. 40.
[69] Minnah El Widdah,
dkk, Kepemimpinan Berbasis Nilai dan
Pengembangan Mutu Madrasah (Bandung: Alfabeta, 2012), hal. 24.
[71] Martinis Yamin
dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru
(Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hal. 37.
[72] Peraturan Mentri
Agama R I Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
[74] Donni Juni
Priansa, Manajemen Supervisi dan
Kepemimpinan Kepala Sekolah (Bandung: Alfabeta, 2014), hal. 38.
[76] Emzir, Metodologi
Penelitian Pendidikan (Kuantitaif & Kualitatif), (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2013), hal.
37.
[80] Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 447.
[82] Deni Darmawan, Metode
Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 138-139.
[83] Toto Syatori Nasehuddin dan
Nanang Gozali, Metode Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Pustaka Setia,
2012), hal. 120-121.
[84] Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R& D (Bandung:
Alfabeta, 2008), hal. 117.
[85] Sutrisno Hadi, Metodologi
Research, Jilid II (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 2001), hal. 182.
[93] Joko Subagyo, Metode
Penelitian Dalam Teori dan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 63.
[98] Deni Darmawan, Metode
Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 162.
[99] Suharsimi
Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal.274.
[100] Arif Armani, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan
Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal. 97.
[101] Winarno
Surahmad, Dasar dan Teknik Research dengan Metodologi ilmiah (Bandung:
Tarsito, 1986), 125.
[102] Husein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis
Bisnis (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 41.
[108] Sugiyono. Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R& D (Bandung:
Alfabeta, 2008), hal. 244.

No comments:
Post a Comment