Friday, June 2, 2017

PERAN SENTRAL PEMIMPIN DALAM SISTEM PENDIDIKAN Oleh. Sumarto



A.    PENDAHULUAN

Setiap orang mempunyai pengaruh atas pihak lain, dengan latihan dan peningkatan pengetahuan oleh pihak maka pengaruh tersebut akan bertambah dan berkembang. Kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam wujudkan tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dewasa ini kebanyakan para ahli beranggapan bahwa setiap orang dapat mengembangkan bakat kepemimpinannya dalam tingkat tertentu begitu juga dalam memimpin lembaga pendidikan. Mewujudkan tujuan pendidikan butuh pemimpin yang mampu mengelola sistem pendidika dengan baik.[1]
Tujuan pendidikan adalah mewujudkan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dengan mengoptimalkan potensi yang ada di dalam diri dengan proses pendidikan.[2] Mencapai tujuan tersebut perlu adanya hubungan sosial di dalam pendidikan yaitu hubungan disetiap unsur pendidikan, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormat dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola pendidikan dengan baik. Tidak hanya pendidikan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri. Allah SWT sudah menggariskan bahwa manusia diciptakan di bumi ini sebagai khalifah fil ardhi yang mengelola setiap sumber daya alam dan memiliki potensi untuk memimpin diri sendiri dan orang lain, walaupun para malaikat menolak tetapi Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat, sebagaimana firman Allah SWT:


Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


Manusia yang berjiwa pemimpin akan dapat mengelola diri, kelompok dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam sistem pendidikan, seorang pemimpin memiliki peran karena pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi prilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Menurut Stoner semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin akan makin besar potensi kepemimpinan yang efektif.[3] Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan mengelola lembaga pendidikan dengan baik, mulai dari mengelola administrasi, mengatur anggota atau staf sampai dengan keuangan.

B.     PEMBAHASAN

1.        Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin menurut Nanang Fattah adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi prilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[4] Dalam bukunya Veithzal Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar dijelaskan bahwa pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempengaruhi tanpa menanyakan alasan-alasannya. Pemimpin adalah orang pilihan yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan tujuan. Tujuan tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya kemampuan seorang pemimpin dalam mengatur dan mempengaruhi anggotanya, dalam hal ini apabila dikaitkan dengan lembaga pendidikan yaitu kemampuan kepala sekolah dalam memimpin lembaga pendidikannya. [5]
 Kepemimpinan dapat diartikan sebagai apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses dimana para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan atau yang dipimpinnnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi, dalam hal ini lembaga pendidikan.[6]
            Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok. Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan yang akan dipimpin, kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan (power)[7].
            Kepemimpinan sebagai sifat dan perilaku untuk mempengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama sehingga membentuk jalinan kerja yang harmonis dengan pertimbangan aspek efisien dan efektif untuk mencapai tingkat produktivitas kerja sesuai dengan yang telah di tetapkan.[8]
            Kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin, untuk mempengaruhi perilaku orang lain menurut keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu. Kepemimpinan merupakan suatu pertumbuhan alami dari orang-orang yang berserikat untuk suatu tujuan dalam suatu kelompok.[9]
            Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mau melakukan kegiatan yang di arahkan oleh seorang pimpinan[10]. Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya[11].
            Ordway Tead dalam bukunya The Art of Leadership yang dikutip Kartini Kartono menyatakan kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sedangkan George R. Terry dalam bukunya Principle of Management berkata, kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok[12].
            Kepemimpinan merupakan studi yang menunjukan kompleksitas. Hal ini terlihat antara lain dari pengertian dan hakekat kepemimpinan, teori kepemimpinan serta fungsi atau peran-peran yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin. Dalam Stogdill’s Handbook of Leadership yang dikutip oleh Ulbert Silalahi dikelompokan 11 arti kepemimpinan yaitu sebagai berikut: [13]
a.      Leadership as a focus of group processes
Kepemimpinan sebagai titik tolak dari proses-proses kelompok; artinya pangkal penyebab terjadinya atau timbulnya kegiatan-kegiatan, proses-proses atau perubahan-perubahan dalam kelompok merupakan akibat kepemimpinan.
b.      Leadership as personality and its effects
Kepemimpinan sebagai kepribadian dan pengaruhnya, artinya kepemimpinan merupakan pengaruh yang bersifat pribadi di mana sifat tersebut membedakannya dari pengikutnya.
c.       Leadership as the art of inducing compliance
Kepemimpinan sebagai seni untuk mendorong terjadinya persesuaian atau kesepakatan, artinya tindakan atau usaha terselubung untuk mempengaruhi dan membentuk kelompok agar terjadi kesesuaian di antara mereka dan dengan kehendak pemimpin dilakukan melalui kegiatan kepemimpinan.
d.      Leadership as the exercise of influence
Kepemimpinan sebagai pelaksanaan pengaruh, yaitu sebagai kegiatan untuk mengubah, membentuk atau menentukan perilaku anggota dan kegiatan kelompok.
e.       Leadership as act or behavior
Kepemimpinan sebagai tindakan dan perilaku, artinya serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan kegiatan pekerjaan anggota kelompoknya.
f.        Leadership as a form of persuasion
Kepemimpinan sebagai bentuk persuasi, artinya kegiatan atau tindakan mempengaruhi anggota kelompok melalui ajakan atau hubungan emosional, bukan dengan paksaan atau otoritas formal.
g.      Leadership as a power relation
Kepemimpinan sebagai hubungan kekuasaan, artinya sebagai kegiatan mempengaruhi anggota kelompoknya yang di antara mereka ada ikatan kekuasaan.
h.      Leadership as an instrument of goal achievement
Kepemimpinan sebagai instrumen pencapaian tujuan, artinya dengan dan melalui kegiatan kepemimpinan tujuan kelompok dan pemuasan kebutuhan individu dapat dicapai.
i.        Leadership as an emerging effect of interaction
Kepemimpinan sebagai akibat yang muncul dari interaksi, artinya kepemimpinan tumbuh dari proses interaksi dan dalam proses interaksi tersebut diberikan dukungan atau pengakuan.
j.        Leadership as a differentiated role
Kepemimpinan sebagai peranan yang dibedakan, artinya dalam satu kelompok ada anggota yang diberi peranan untuk memadukan berbagai peranan dan memelihara kesatuan tindakan dalam usaha kelompok untuk mencapai tujuan.
k.       Leadership as the initiation of structure
Kepemimpinan sebagai inisiasi struktur, artinya proses pemunculan serta pemeliharaan struktur peranan dan interaksi kelompok dilakukan melalui kegiatan kepemimpinan.

2.        Kepemimpinan Formal dan Informal
Setiap lembaga pendidikan selalu terdapat hubungan formal dan hubungan informal. Hubungan formal melahirkan lembaga formal dan hubungan informal melahirkan lembaga pendidikan informal. Kepemimpinan formal adalah kepemimpinan yang resmi yang ada pada diangkat dalam jabatan kepemimpinan. Pola kepemimpinan tersebut terlihat pada berbagai ketentuan yang mengatur hirarki dalam suatu lembaga pendidikan, dalam hal ini kepemimpinan kepala sekolah.
Kepemimpinan formal tidak secara otomatis merupakan jaminan akan diterima menjadi kepemimpinan yang sebenarnya oleh bawahan. Penerimaan atas pimpinan formal masih harus diuji dalam praktek yang hasilnya akan terlihat dalam kehidupan lembaga apakah kepemimpinan formal tersebut sekaligus menjadi kepemimpinan nyata. Kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan kepemimpinan formal harus mampu mengatur dan mengelola lembaga pendidikan dengan saling berinteraksi dengan semua unsur-unsur pendidikan mulai dari pendidik, peserta didik, keuangan dan lain sebagainya. Dapat diperhatikan pada bagan dibawah ini:[14]




Kepemimpinan informal sering juga disebut dengan istilah headship. Kepemimpinan informal tidak didasarkan pada pengangkatan. Jenis kepemimpinan ini tidak terlihat pada struktur lembaga pendidikan. Efektivitas kepemimpinan informal terlihat pada pengakuan nyata dan penerimaan dalam praktek atas kepemimpinan seseorang. Biasanya kepemimpinan informal didasarkan pada beberapa kriteria diantaranya adalah kemampuan memikat hati orang lain. Kemampuan dalam membina hubungan yang serasi dengan orang lain. Penguasaan atas makna tujuan organisasi yang hendak dicapai. Penguasaan tentang implikasi-implikasi pencapaian dalam kegiatan-kegiatan operasional. Pemilihan atas keahlian tertentu yang tidak dimili ki oleh orang lain.
Tidak ada pemimpin tanpa adanya pihak yang dipimpin. Pemimpin timbul sebagai hasil dari persetujuan anggota organisasi yang secara sukarela menjadi pengikut. Pemimpin sejati mencapai status mereka karena pengakuan sukarela dari pihak yang dipimpin. Seorang pemimpin harus mencapai serta mampertahankan kepercayaan orang lain. Dengan sebuah surat keputusan, maka seseorang dapat diberikan kekuasaan besar tetapi hal tersebut tidak secara otomatis membuatnya menjadi seorang pemimpin dalam arti yang sebenarnya. Di bawah ini akan dikemukakan perbedaan antara pemimpin dengan non pemimpin.
Pemimpin yaitu memberikan inspirasi kepada bawahan, menyelesaikan pekerjaan dan mengembangkan bawahan, memberikan contoh kepada bawahan bagaimana melakukan pekerjaan, menerima kewajiban-kewajiban dan memperbaiki segala kesalahan atau kekeliruan. Non Pemimpin yaitu memberikan dorongan kepada bawahan, menyelesaikan pekerjaan dan mongorbankan bawahan, menanamkan perasaan takut pada bawahan dan memberikan ancaman, melimpahkan kewajiban kepada orang lain.

3.        Gaya Kepemimpinan[15]
a.       Gaya Kepemimpinan Otokratik
Gaya ini mengutamakan pelaksanaan tugas untuk tercapainya tujuan sehingga kurang perhatian terhadap hubungan-hubungan manusia. Dalam hal ini, pemimpin cenderung menentukan kebijakan untuk anggota, menginstruksikan tugas, menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pencapaian tujuan, mengendalikan pelaksanaan tugas dan interaksi dengan dan antara anggota secara ketat, kurang memberikan kebebasan untuk memulai tugas-tugas anggota, kurang memberikan pujian terhadap prestasi bawahan.

b.      Gaya Kepemimpinan Direktif
Gaya yang mengutamakan pencapaian tujuan, tetapi mulai memberi perhatian terhadap hubungan manusia. Dalam hal ini pemimpin mengutamakan pemberian pedoman dan petunjuk kepada bawahan bagaimana melakukan pekerjaan serta memberitahukan mengenai apa yang diharapkan dari mereka.

c.       Gaya Kepemimpinan Konsultatif
Merupakan gaya yang mengutamakan perhatian pada pelaksanaan tugas dan cukup besar perhatian terhadap penciptaan hubungan dengan sesama anggota secara akrab dan harmonis. Oleh sebab itu dalam melakukan aktivitasnya pemimpin yang melakukan konsultasi dengan anggota baik secara individu maupun kelompok.

d.      Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Merupakan gaya yang di samping menekankan pada pelaksanaan tugas, juga memberi perhatian yang besar dalam menciptakan hubungan dengan dan sesama anggota. Pemimpin gaya partisipatif berunding dengan bawahan dan memberi peluang kepada bawahan untuk memberi masukan berupa saran dan gagasan sebelum mengambil keputusan atau mempengaruhi keputusan yang telah dan akan dibuat.

4.        Sifat-sifat dan Tipe-tipe Kepemimpinan
Terry menyebut beberapa sifat yang penting bagi seorang pemimpin. [16] Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Penuh energi, baik rokhani maupun jasmani dan dapat bergiat terus-menerus.
b.      Memiliki stabilitas dalam emosi dan perasaan, artinya seorang pemimpin tidak boleh berprasangka, berpikir apriori jelek tentang orang-orang bawahannya dan percaya pada diri sendiri harus cukup ada.
c.       Memiliki pengetahuan yang luas tentang hubungan manusia. Oleh karena pekerjaannya yang utama bersangkutan dengan orang, maka ia harus mengetahui banyak tentang manusia dan hubungan antar manusia.
d.      Keinginan untuk menjadi pemimpin harus menjadi daya pendorong yang muncul dari dalam dan tidak didesakkan dari luar. Ia harus mengungkapkan dan memancarkan enthuasiasme dalam bekerja.
e.       Memiliki kemahiran dalam mengadakan komunikasi, secara lisan maupun tulisan.
f.       Memiliki kecakapan mengajar, karena seorang pemimpin tulen harus pula memberi semangat pada orang-orangnya; ia harus pula dapat mengembangkan orang lain dan memajukannya.
g.      Memiliki kemahiran di bidang sosial supaya terjamin kepercayaan dan kesetiaan dari orang-orangnya. Ia harus bersifat suka menolong, senang jika orang-orangnya maju, bersifat peramah dan dapat menghargai pendapat orang lain.
h.      Memiliki kecakapan-kecakapan teknis, untuk merencana, menyusun organisasinya, mendelegasi kekuasaan, mengambil keputusan, mengawasi, meneliti dan seterusnya.
            Sifat-sifat kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantoro meliputi 3 hal yaitu sebagai berikut: [17]
a.       Ing ngarso sung tulodo
Dari depan harus memberi tauladan. Bahwa seorang pemimpin harus melalui sikapnya dan perbuatannya menjadikan dirinya pola panutan dan ikutan bagi orang yang dipimpinnya. Misalnya sebagai pimpinan harus memberikan contoh disiplin, giat bekerja, korek segala tindakannya.

b.      Ing madyo mangun karso
      Di tengah membangun prakarsa. Bahwa seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya. Misalnya untuk memecahkan masalah yang dihadapi organisasinya, pimpinan memberi kesempatan bawahannya memberikan masukan, saran dan pendapatnya.

c.       Tut wuri handayani
      Mengikuti dari belakang dengan berwibawa. Bahwa seorang pemimpin harus mendorong orang-orang yang dipimpinnya agar berani berani berjalan di depan dan berani bertanggung jawab. Misalnya pimpinan memberi kesempatan sepenuhnya kepada bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya atau memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya dalam unit kerjanya. Secara diam-diam pimpinan memantaunya dan mengawasinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Jadi pimpinan tetap bertanggung jawab.

5.        Tugas Pokok Kepemimpinan Kepala Sekolah
Pemimpin melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Ia harus menyiapkan rencana, strategi, kebijakan, mengadakan koordinasi, memberikan pengarahan, mengambil keputusan, mengadakan pengawasan dan lain sebagainya. Untuk melakukan semua tugas tersebut, ia harus mengusahakan seluruh anggotanya itu dapat digerakkan untuk mencapai tujuan tertentu. Tugas pokok kepemimpinan dalam konteks kepala sekolah meliputi[18]:
a.       Menyatupadukan orang-orang yang berbeda-beda motivasinya itu dengan motivasi yang sama.
b.      Mengusahakan suatu kelompok dinamis secara sadar.
c.       Menciptakan suatu lingkungan dimana terdapat integrasi antara individu dan kelompok dengan lembaga pendidikan.
d.      Memberikan inspirasi dan mendorong anggota-anggotanya bekerja seefektif mungkin.
e.       Menumbuhkan kesadaran pendidikan yang senantiasa mengalami perubahan yang dinamis dan mengusahakan agar orang-orang yang dipimpinnya itu dapat menyesuaikan dengan perubahan situasi.









[1] Fiska. Kepemimpinan dalam Organisasi (Medan: Universitas Sumatera Utara, 2004), hal. 1.
[2] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  Nomor 20 Tahun 2003.

[3]     Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 6.
[4]     Ibid., hal. 6.
[5]     Veithzal Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi (Jakarta: Raja Grafindo Persada), hal. 1-3
[6]     Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta: Kencana), 2006, hal. 255.
[7]     Mamduh M. Hanafi, Manajemen (Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2003), hal. 328.
[8]     Siswanto, Pengantar Manajemen, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 154.
[9]     George R. Terry dan Leslie W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 192.
[10]     Suhendra, Manajemen dan Organisasi (Bandung : Mandar Maju, 2008),  hal. 65.
[11]     Sudarman Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah dan Unit Birokrasi Kelembagaan Akademik, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 204.
[12]    Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta : Grafindo Persada, 2006), hal. 57.
[13]    Ulbert Silalahi, Pemahaman Praktis Asas-Asas Manajemen (Bandung: Mandar Maju, 1996), hal. 264-266.
[14]    Op. Cit. Fiska., hal. 1.
[15]    Ulbert Silalahi, Pemahaman Praktis Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Mandar Maju, 1996), hal. 277-278.
[16] Panglaykim, Manajemen Suatu Pengantar, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1991), hal. 49-50.
[17] Ibnu Syamsi, Pokok-Pokok Organisasi dan Manajemen, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 141-142.
[18] Ibnu Syamsi, Pokok-Pokok Organisasi dan Manajemen, (Jakarta: Rineka Cipta), 1994, hal. 138-139.

No comments:

Post a Comment