A.
PENDAHULUAN
Setiap orang mempunyai pengaruh atas pihak lain, dengan latihan
dan peningkatan pengetahuan oleh pihak maka pengaruh tersebut akan bertambah
dan berkembang. Kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif
untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam wujudkan tujuan yang telah ditetapkan
lebih dahulu. Dewasa ini kebanyakan para ahli beranggapan bahwa setiap orang
dapat mengembangkan bakat kepemimpinannya dalam tingkat tertentu begitu juga
dalam memimpin lembaga pendidikan. Mewujudkan tujuan pendidikan butuh pemimpin
yang mampu mengelola sistem pendidika dengan baik.[1]
Tujuan
pendidikan adalah mewujudkan insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang
Maha Esa dengan mengoptimalkan potensi yang ada di dalam diri dengan proses
pendidikan.[2]
Mencapai tujuan tersebut perlu adanya hubungan sosial di dalam pendidikan yaitu
hubungan disetiap unsur pendidikan, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup,
manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup
berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah.
Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok
haruslah saling menghormat dan menghargai.
Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian
setiap insan. Menciptakan dan
menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling
tinggi disbanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk
berpikir,
kemampuan untuk memilah dan
memilih mana yang baik dan
mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya
mampu mengelola pendidikan
dengan baik. Tidak
hanya pendidikan
yang perlu dikelola dengan
baik, kehidupan sosial
manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya
manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk
memimpin dirinya sendiri. Allah SWT sudah menggariskan bahwa
manusia diciptakan di bumi ini sebagai khalifah
fil ardhi yang mengelola setiap sumber daya alam dan memiliki potensi untuk
memimpin diri sendiri dan orang lain, walaupun para malaikat menolak tetapi
Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat, sebagaimana
firman Allah SWT:
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: “Sesungguhnya
aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Manusia yang berjiwa pemimpin akan dapat
mengelola diri, kelompok dan
lingkungan dengan baik. Khususnya dalam sistem pendidikan,
seorang pemimpin memiliki peran karena pemimpin pada hakikatnya adalah
seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi prilaku orang lain di
dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk
mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus
dilaksanakan. Menurut Stoner semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang
tersedia bagi pemimpin akan makin besar potensi kepemimpinan yang efektif.[3] Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin
dalam mengambil
keputusan dan mengelola lembaga pendidikan dengan baik, mulai dari mengelola
administrasi, mengatur anggota atau staf sampai dengan keuangan.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin
menurut Nanang Fattah adalah seseorang yang mempunyai kemampuan
untuk mempengaruhi prilaku orang lain di dalam kerjanya
dengan menggunakan kekuasaan.[4] Dalam
bukunya Veithzal Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar dijelaskan
bahwa pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempengaruhi
tanpa menanyakan alasan-alasannya. Pemimpin adalah orang pilihan yang memiliki
kemampuan dalam mewujudkan tujuan. Tujuan tersebut tidak akan tercapai tanpa
adanya kemampuan seorang pemimpin dalam mengatur dan mempengaruhi anggotanya,
dalam hal ini apabila dikaitkan dengan lembaga pendidikan yaitu kemampuan
kepala sekolah dalam memimpin lembaga pendidikannya. [5]
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai apa yang dilakukan oleh para
pemimpin, yaitu proses dimana para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk
memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan atau yang
dipimpinnnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu
menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi, dalam hal ini lembaga
pendidikan.[6]
Kepemimpinan adalah proses
mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam
kelompok. Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau
karyawan yang akan dipimpin, kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan (power)[7].
Kepemimpinan sebagai sifat dan
perilaku untuk mempengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama
sehingga membentuk jalinan kerja yang harmonis dengan pertimbangan aspek
efisien dan efektif untuk mencapai tingkat produktivitas kerja sesuai dengan
yang telah di tetapkan.[8]
Kepemimpinan sebagai kemampuan
seseorang atau pemimpin, untuk mempengaruhi perilaku orang lain menurut
keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu. Kepemimpinan merupakan
suatu pertumbuhan alami dari orang-orang yang berserikat untuk suatu tujuan
dalam suatu kelompok.[9]
Kepemimpinan adalah kemampuan
untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mau melakukan
kegiatan yang di arahkan oleh seorang pimpinan[10].
Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok
untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang
tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan
sebelumnya[11].
Ordway
Tead dalam bukunya The Art of Leadership yang dikutip Kartini Kartono menyatakan kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar
mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sedangkan George R.
Terry dalam bukunya Principle of Management berkata, kepemimpinan adalah
kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai
tujuan-tujuan kelompok[12].
Kepemimpinan
merupakan studi yang menunjukan kompleksitas. Hal ini terlihat antara lain dari pengertian
dan hakekat kepemimpinan, teori kepemimpinan serta fungsi atau peran-peran yang
dapat dilakukan oleh seorang pemimpin. Dalam Stogdill’s Handbook of
Leadership yang dikutip oleh
Ulbert Silalahi dikelompokan 11 arti kepemimpinan yaitu sebagai berikut: [13]
a. Leadership as a focus of group
processes
Kepemimpinan
sebagai titik tolak dari proses-proses kelompok; artinya pangkal penyebab terjadinya
atau timbulnya kegiatan-kegiatan, proses-proses atau perubahan-perubahan dalam
kelompok merupakan akibat kepemimpinan.
b. Leadership as personality and its
effects
Kepemimpinan
sebagai kepribadian dan pengaruhnya, artinya kepemimpinan merupakan pengaruh
yang bersifat pribadi di mana sifat tersebut membedakannya dari pengikutnya.
c. Leadership as the art of inducing
compliance
Kepemimpinan
sebagai seni untuk mendorong terjadinya persesuaian atau kesepakatan, artinya
tindakan atau usaha terselubung untuk mempengaruhi dan membentuk kelompok agar
terjadi kesesuaian di antara mereka dan dengan kehendak pemimpin dilakukan
melalui kegiatan kepemimpinan.
d. Leadership as the exercise of
influence
Kepemimpinan
sebagai pelaksanaan pengaruh, yaitu sebagai kegiatan untuk mengubah, membentuk
atau menentukan perilaku anggota dan kegiatan kelompok.
e. Leadership as act or behavior
Kepemimpinan
sebagai tindakan dan perilaku, artinya serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan kegiatan pekerjaan anggota kelompoknya.
f.
Leadership as a form of persuasion
Kepemimpinan
sebagai bentuk persuasi, artinya kegiatan atau tindakan mempengaruhi anggota
kelompok melalui ajakan atau hubungan emosional, bukan dengan paksaan atau
otoritas formal.
g. Leadership as a power relation
Kepemimpinan
sebagai hubungan kekuasaan, artinya sebagai kegiatan mempengaruhi anggota
kelompoknya yang di antara mereka ada ikatan kekuasaan.
h. Leadership as an instrument of goal
achievement
Kepemimpinan
sebagai instrumen pencapaian tujuan, artinya dengan dan melalui kegiatan
kepemimpinan tujuan kelompok dan pemuasan kebutuhan individu dapat dicapai.
i.
Leadership as an emerging effect of interaction
Kepemimpinan
sebagai akibat yang muncul dari interaksi, artinya kepemimpinan tumbuh dari
proses interaksi dan dalam proses interaksi tersebut diberikan dukungan atau
pengakuan.
j.
Leadership as a differentiated role
Kepemimpinan
sebagai peranan yang dibedakan, artinya dalam satu kelompok ada anggota yang
diberi peranan untuk memadukan berbagai peranan dan memelihara kesatuan
tindakan dalam usaha kelompok untuk mencapai tujuan.
k. Leadership as the initiation of
structure
Kepemimpinan sebagai inisiasi
struktur, artinya proses pemunculan serta pemeliharaan struktur peranan dan
interaksi kelompok dilakukan melalui kegiatan kepemimpinan.
2.
Kepemimpinan Formal dan Informal
Setiap lembaga pendidikan
selalu terdapat hubungan formal dan hubungan informal. Hubungan formal
melahirkan lembaga formal dan hubungan informal melahirkan lembaga pendidikan
informal. Kepemimpinan formal adalah kepemimpinan yang resmi yang ada pada
diangkat dalam jabatan kepemimpinan. Pola kepemimpinan tersebut terlihat pada
berbagai ketentuan yang mengatur hirarki dalam suatu lembaga pendidikan, dalam
hal ini kepemimpinan kepala sekolah.
Kepemimpinan formal tidak secara otomatis merupakan jaminan akan diterima
menjadi kepemimpinan yang sebenarnya oleh bawahan. Penerimaan atas pimpinan
formal masih harus diuji dalam praktek yang hasilnya akan terlihat dalam
kehidupan lembaga apakah kepemimpinan formal tersebut sekaligus menjadi
kepemimpinan nyata. Kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan kepemimpinan
formal harus mampu mengatur dan mengelola lembaga pendidikan dengan saling
berinteraksi dengan semua unsur-unsur pendidikan mulai dari pendidik, peserta
didik, keuangan dan lain sebagainya. Dapat diperhatikan pada bagan dibawah ini:[14]
Kepemimpinan informal sering
juga disebut dengan istilah headship. Kepemimpinan informal tidak didasarkan
pada pengangkatan. Jenis kepemimpinan ini tidak terlihat pada struktur lembaga
pendidikan. Efektivitas kepemimpinan informal terlihat pada pengakuan nyata dan
penerimaan dalam praktek atas kepemimpinan seseorang. Biasanya kepemimpinan
informal didasarkan pada beberapa kriteria diantaranya adalah kemampuan memikat
hati orang lain. Kemampuan dalam membina hubungan yang serasi dengan orang
lain. Penguasaan atas makna tujuan organisasi yang hendak dicapai. Penguasaan
tentang implikasi-implikasi pencapaian dalam kegiatan-kegiatan operasional. Pemilihan
atas keahlian tertentu yang tidak dimili ki oleh orang lain.
Tidak ada pemimpin tanpa
adanya pihak yang dipimpin. Pemimpin timbul sebagai hasil dari persetujuan
anggota organisasi yang secara sukarela menjadi pengikut. Pemimpin sejati
mencapai status mereka karena pengakuan sukarela dari pihak yang dipimpin. Seorang
pemimpin harus mencapai serta mampertahankan kepercayaan orang lain. Dengan
sebuah surat keputusan, maka seseorang dapat diberikan kekuasaan besar tetapi
hal tersebut tidak secara otomatis membuatnya menjadi seorang pemimpin dalam
arti yang sebenarnya. Di bawah ini akan dikemukakan perbedaan antara pemimpin dengan
non pemimpin.
Pemimpin yaitu memberikan inspirasi kepada bawahan, menyelesaikan pekerjaan dan
mengembangkan bawahan, memberikan contoh kepada bawahan bagaimana melakukan
pekerjaan, menerima kewajiban-kewajiban dan memperbaiki segala kesalahan atau
kekeliruan. Non Pemimpin yaitu memberikan dorongan kepada bawahan, menyelesaikan pekerjaan dan
mongorbankan bawahan, menanamkan perasaan takut pada bawahan dan memberikan
ancaman, melimpahkan kewajiban kepada orang lain.
a.
Gaya
Kepemimpinan Otokratik
Gaya ini
mengutamakan pelaksanaan tugas untuk tercapainya tujuan sehingga kurang
perhatian terhadap hubungan-hubungan manusia. Dalam hal ini, pemimpin cenderung
menentukan kebijakan untuk anggota, menginstruksikan tugas, menentukan
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pencapaian tujuan, mengendalikan
pelaksanaan tugas dan interaksi dengan dan antara anggota secara ketat, kurang
memberikan kebebasan untuk memulai tugas-tugas anggota, kurang memberikan
pujian terhadap prestasi bawahan.
b.
Gaya
Kepemimpinan Direktif
Gaya yang
mengutamakan pencapaian tujuan, tetapi mulai memberi perhatian terhadap
hubungan manusia. Dalam hal ini pemimpin mengutamakan pemberian pedoman dan
petunjuk kepada bawahan bagaimana melakukan pekerjaan serta memberitahukan
mengenai apa yang diharapkan dari mereka.
c.
Gaya
Kepemimpinan Konsultatif
Merupakan gaya
yang mengutamakan perhatian pada pelaksanaan tugas dan cukup besar perhatian
terhadap penciptaan hubungan dengan sesama anggota secara akrab dan harmonis.
Oleh sebab itu dalam melakukan aktivitasnya pemimpin yang melakukan konsultasi
dengan anggota baik secara individu maupun kelompok.
d.
Gaya
Kepemimpinan Partisipatif
Merupakan gaya
yang di samping menekankan pada pelaksanaan tugas, juga memberi perhatian yang
besar dalam menciptakan hubungan dengan dan sesama anggota. Pemimpin gaya
partisipatif berunding dengan bawahan dan memberi peluang kepada bawahan untuk
memberi masukan berupa saran dan gagasan sebelum mengambil keputusan atau
mempengaruhi keputusan yang telah dan akan dibuat.
4.
Sifat-sifat dan Tipe-tipe Kepemimpinan
Terry menyebut
beberapa sifat yang penting bagi seorang pemimpin. [16] Sifat-sifat
tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Penuh
energi, baik rokhani maupun jasmani dan dapat bergiat terus-menerus.
b.
Memiliki
stabilitas dalam emosi dan perasaan, artinya seorang pemimpin tidak boleh
berprasangka, berpikir apriori jelek tentang orang-orang bawahannya dan percaya
pada diri sendiri harus cukup ada.
c.
Memiliki
pengetahuan yang luas tentang hubungan manusia. Oleh karena pekerjaannya yang
utama bersangkutan dengan orang, maka ia harus mengetahui banyak tentang
manusia dan hubungan antar manusia.
d.
Keinginan
untuk menjadi pemimpin harus menjadi daya pendorong yang muncul dari dalam dan
tidak didesakkan dari luar. Ia harus mengungkapkan dan memancarkan enthuasiasme
dalam bekerja.
e.
Memiliki
kemahiran dalam mengadakan komunikasi, secara lisan maupun tulisan.
f.
Memiliki
kecakapan mengajar, karena seorang pemimpin tulen harus pula memberi semangat
pada orang-orangnya; ia harus pula dapat mengembangkan orang lain dan
memajukannya.
g.
Memiliki
kemahiran di bidang sosial supaya terjamin kepercayaan dan kesetiaan dari
orang-orangnya. Ia harus bersifat suka menolong, senang jika orang-orangnya
maju, bersifat peramah dan dapat menghargai pendapat orang lain.
h.
Memiliki
kecakapan-kecakapan teknis, untuk merencana, menyusun organisasinya,
mendelegasi kekuasaan, mengambil keputusan, mengawasi, meneliti dan seterusnya.
Sifat-sifat kepemimpinan menurut Ki
Hajar Dewantoro meliputi 3 hal yaitu sebagai berikut: [17]
a. Ing ngarso sung tulodo
Dari depan harus
memberi tauladan. Bahwa seorang pemimpin harus melalui sikapnya dan
perbuatannya menjadikan dirinya pola panutan dan ikutan bagi orang yang
dipimpinnya. Misalnya sebagai pimpinan harus memberikan contoh disiplin, giat
bekerja, korek segala tindakannya.
b. Ing madyo mangun karso
Di tengah membangun prakarsa. Bahwa
seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi
pada orang-orang yang dibimbingnya. Misalnya untuk memecahkan masalah yang
dihadapi organisasinya, pimpinan memberi kesempatan bawahannya memberikan
masukan, saran dan pendapatnya.
c. Tut wuri handayani
Mengikuti dari belakang dengan berwibawa.
Bahwa seorang pemimpin harus mendorong orang-orang yang dipimpinnya agar berani
berani berjalan di depan dan berani bertanggung jawab. Misalnya pimpinan
memberi kesempatan sepenuhnya kepada bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan yang
ditugaskan kepadanya atau memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya dalam
unit kerjanya. Secara diam-diam pimpinan memantaunya dan mengawasinya agar
tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Jadi pimpinan tetap bertanggung
jawab.
5.
Tugas Pokok Kepemimpinan Kepala Sekolah
Pemimpin
melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Ia harus
menyiapkan rencana, strategi, kebijakan, mengadakan koordinasi, memberikan
pengarahan, mengambil keputusan, mengadakan pengawasan dan lain sebagainya.
Untuk melakukan semua tugas tersebut, ia harus mengusahakan seluruh anggotanya
itu dapat digerakkan untuk mencapai tujuan tertentu. Tugas pokok kepemimpinan
dalam konteks kepala sekolah meliputi[18]:
a.
Menyatupadukan
orang-orang yang berbeda-beda motivasinya itu dengan motivasi yang sama.
b.
Mengusahakan
suatu kelompok dinamis secara sadar.
c.
Menciptakan
suatu lingkungan dimana terdapat integrasi antara individu dan kelompok dengan
lembaga pendidikan.
d.
Memberikan
inspirasi dan mendorong anggota-anggotanya bekerja seefektif mungkin.
e.
Menumbuhkan
kesadaran pendidikan yang senantiasa mengalami perubahan yang dinamis dan
mengusahakan agar orang-orang yang dipimpinnya itu dapat menyesuaikan dengan
perubahan situasi.
[1] Fiska. Kepemimpinan dalam Organisasi (Medan: Universitas Sumatera Utara,
2004), hal. 1.
[2] Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20
Tahun 2003.
[3] Nanang
Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 6.
[4] Ibid., hal. 6.
[5] Veithzal Rivai, Bachtiar dan Boy Rafli Amar,
Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi (Jakarta: Raja Grafindo Persada),
hal. 1-3
[6] Ernie
Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta:
Kencana), 2006, hal. 255.
[7] Mamduh
M. Hanafi, Manajemen (Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN,
2003), hal. 328.
[8] Siswanto,
Pengantar Manajemen, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 154.
[9] George
R. Terry dan Leslie W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara,
2005), hal. 192.
[10] Suhendra,
Manajemen dan Organisasi (Bandung : Mandar Maju, 2008), hal. 65.
[11] Sudarman
Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah dan Unit Birokrasi Kelembagaan Akademik,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 204.
[12] Kartini
Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta : Grafindo Persada, 2006),
hal. 57.
[13] Ulbert
Silalahi, Pemahaman Praktis Asas-Asas Manajemen (Bandung: Mandar Maju, 1996),
hal. 264-266.
[15] Ulbert
Silalahi, Pemahaman Praktis Asas-Asas Manajemen, (Bandung: Mandar Maju,
1996), hal. 277-278.
[16] Panglaykim, Manajemen Suatu
Pengantar, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1991), hal. 49-50.
[17] Ibnu Syamsi, Pokok-Pokok
Organisasi dan Manajemen, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 141-142.
[18] Ibnu Syamsi, Pokok-Pokok
Organisasi dan Manajemen, (Jakarta: Rineka Cipta), 1994, hal. 138-139.

No comments:
Post a Comment