Wednesday, January 22, 2020

FILSAFAT ANTROPOSENTRISME-TEOLOGIS




Penyunting :
Dr. Sumarto, S.Sos.I, M.Pd.I

ISBN : 978-602-61400-7-4

Anggota  :
Imam Akbar
M. Ikhbal Jaya Putra
Rika Ramadhanty
Rilta Bilarinie
Saripah Ilma

Desain Sampul :
Imam Akbar

Penerbit :
Pustaka Ma'arif Press

Kerja Sama dengan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Sinopsis Buku :

Jika para pendahulu telah memulai muqadimmah konvensional, maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas, atas nama kemerdekaan, atas nama kebaikan, atas nama perlawanan, atas nama persamaan dan keadilan, atas nama persatuan umat, atas nama kemajuan, atas nama kebangkitan umat, atas nama cinta kemurnian, atas nama mereka yang terbungkam, dan atas nama kaum muslimin yang tertindas (Hasan Hanafi).
Kebutuhan akan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Dan pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkan sebuah gerakkan dalam sejarah. Abad modern adalah peralihan dari kebudayaan teosentris menuju antroposentris. Peralihan dari peradaban langit ke peradaban bumi, dari metafisika ke fisika, dari imateri ke materi.
Manusia antroposentris sangat dinamis karena menganggap hakikat realita transenden yang bersifat intrakosmos dan infersonal datang kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir. Daya ini berupa potensi yang menjadikannya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia yang memilih kebaikan akan memperoleh keuntungan yang melimpah, sedangkan manusia yang memilih kejahatan, ia akan memperoleh kerugian melimpah pula. Buku ini akan membahas tentang cara pandang baru terhadap antroposentrisme-teologis, bagaimana cara memahami konsep pendidikan yang relevan dengan pendidikan modern saat ini menurut tokoh-tokoh filsafat ini. Dengan membaca buku ini diharapkan pembaca akan bisa mengaplikasikan sistem pendidikan dan cara pandang terhadap ilmu pendidikan agar seimbang dengan konsep pendidikan menurut tokoh-tokoh filosof dunia.
Sebagaimana pemahaman awal bahwa falsafah diartikan sebagai anggapan, gagasan serta pendangan hidup. Ibnu Taimiyah memiliki dasar atau asas yang digunakan sebagai acuan falsafah pendidikan yaitu ilmu yang bermanfaat bagi asas kehidupan yang cerdas dan unggul. Sementara mempergunakan ilmu itu dapat menjamin kelangsungan dan kelestarian masyarakat. Tanpa ilmu masyarakat akan terjerumus kedalam kehidupan yang sesat. Menuntut ilmu juga merupakan ibadah dan memahaminya secara mendalam merupakan sikap ketaqwaan kepada Allah SWT dan mengkajinya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum tahu merupakan shadaqah dan mendiskusikannya merupakan tasbih.
Dengan ilmu pengetahuan seseorang dapat mengenal Allah SWT, beribadah, memuji dan mengesakan-Nya, dan dengan ilmu itu pula seseorang dapat diangkat derajatnya dan menjadi umat yang kokoh. Mengajarkan ilmu keapada seseorang merupakan shadaqahnya para nabi. Dengan ilmu ini Allah SWT.malaikat hingga ikan yang ada dilautan serta burung yang ada diangkasa memanjatkan shalawat dan mengucapkan salam kepada orang yang mengajarkannya kepada orang lain. Sementara orang yang tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya dianggap sebagai orang yang dilaknat oleh Allah SWT.
Selanjutnya, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ilu yang bermanfaat yang didasarkan atas asas kehidupan yang benar dan utama adalah ilmu yang mengajak kepada kehidupan yang baik yang diarahkan untuk berhubungan dengan Al-Haq (Tuhan). Hal ini menurutnya dapat dibangun atas dua hal sebagai berikut: Al-Tauhid (mengesakan Allah SWT) dan Insaniyah (kemanusiaan). Semoga dengan hadirnya buku ini bisa menjadi referensi dan bermanfaat bagi civitas akademika dan masyarakat umum.


No comments:

Post a Comment