Thursday, January 23, 2020

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM



Ketua Penyunting :
Dr. Sumarto, S.Sos.I, M.Pd.I

ISBN : 978-602-61400-8-1

Anggota Penyunting :
Novia Andriani
Arum Kristiawati

Desain Sampul :
Yohana Wulandari

Lay Out :
Retno Rahayu
Dicky Hidayatullah

Kerja Sama dengan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Sinopsis Buku :

Pemikiran Pendididkan Islam yang bercorak dan berwarna tidak terlepas dari banyaknya aliran pemikiran Islam, tertuma ketika Rasulullah SAW wafat diteruskan dengan periode Khulafurrasyidin serta semaikin bergejolak ketika memasuki periode Dinasti Umayyah. Harun Nasution berpendapat bahwa sepeninggal Nabi Saw, perkara yang pertama kali diperselisihkan adalah bukan terkait dengan akidah melainkan masalah politik, yakni tentang siapa yang layak meneruskan kepemimpinan umat. Bahkan dalam beberapa sumber disebutkan bahwa masalah transisi politik kepemimpinan pasca wafatnya Nabi saw. tersebut berlangsung pada saat keluarga Nabi saw., masih disibukkan dengan pemakaman jenazah Rasulullah Saw, atau sekurang-kurangnya keluarga beliau masih dalam keadaan berkabung. Dengan demikian masalah politik adalah persoalan yang  sensitif.
Setelah tampuk kepemimpinan umat dipegang secara berturut-turut oleh Abu Bakar ash-Shidiq, Umar ibn al-Khattab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib dimana keempatnya kemudian dikenal dengan sebutan khulafa’ al-Rasyidin (para khalifah yang lurus), sebagian pendapat memasukkan nama Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dalam deretan nama khulafa’ al-Rasyidin karena beliau sempat memimpin sebentar sebelum kekuasaan dipimpin oleh Dinasti Umayyah. Pada tiap peralihan kekhalifahan tersebut sebenarnya tidak sepi dari gejolak politik, dan yang cukup intens adalah transisi kekhalifahan dari Usman ibn Affan kepada Ali ibn Abi Thalib karena terbunuhnya Usman ibn Affan dan munculnya tuduhan terhadap Ali ibn Abi Thalib sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab atas kematianya. Ditengah memanasnya suhu politik dan kekacauan tersebut, muncul pula aliran marjiah yaitu politik dan sepenuhnya “berharap (rajaa)” atau “mengembalikan (raja’a)” segala urusan kepada Allah Swt. Diantara tokoh Murji’ah adalah Abdullah ibn Abbas.
Akibatnya, gejolak politik pun memanas hingga timbul perang Shiffin perang yang tak ubahnya sebagai perang saudara antar kelompok Ali ibn Abi Thalib yang dikenal dengan Syi’atu ‘Aliyin (kelompok Ali) atau disingkat dengan sebutan Syi’ah, dengan kelompok pendukung Muawiyah yang berpretensi menuntut diadilinya tragedi pembunuhan Usman ibn Affan. Ditengah pergumulan dimedan perang yang sebenarnya telah menelan banyak korban tersebut maka dilakukan trik politik dengan dilnisiasi oleh kelompok pendukung Muawiyah yang dipimpin oleh Amr ibn Ash untuk mengakhiri perang dengan kembali pada kitabullah atau melalui jalan tahkim (arbitrase). Ternyata, walaupun perang berhenti, namun belakangan menimbulkan perpecahan di tubuh kelompok Ali ibn Abi Thalib. Sempalan pendukung Ali ibn Abi Thalib ini selanjutnya keluar dan memisahkan diri dari Syi’ah dan membentuk kelompok sendiri yang dikenal dengan khawarij (kelompok yang keluar atau memisahkan diri). 
Khawarij memiliki agenda yang tergolong berani karena membuat kesimpulan bahwa biang keladi dari semua kekacauan politik tersebut adalah ketiga kelompok yang berseteru yakni Muawiyah, Ali ibn Abi Thalib dan Amr ibn Ash dan oleh karenanya khawarij beranggapan bahwa ketiga pihak itulah yang paling bertanggung jawab. Agenda tersebut diwujudkan dengan upaya pembunuhan ketiganya, namun yang terlaksana sebagai korban adalah Ali ibn Abi Thalib.
Dengan terbunuhnya Ali ibn Abi Thalib dan kepemimpinan politik dibawah kepemimpinan Dinasti Muawiyah, bukan berarti konflik berakhir, sebaliknya ternyata berkelanjutan dengan dikejar-kejarnya keluarga dan keturunan Ali ibn Abi Thalib. Hasan dan Husein yang merupakan cucu kesayangan Nabi Saw., keduanya berakhir dengan kematian mengenaskan. Hasan yang sempat memegang kendali sebentar dalam kepemimpinan sepeninggal ayahnya Ali ibn Abi Thalib ternyata terbunuh oleh racun melalui istrinya. Sedang Husein berakhir dengan pemenggalan kepalanya di Karbala, dimana makam jenazahnya sekarang berada di mesir disebuah masjid yang berdekatan dengan universitas Al-Azhar, Kairo. Walaupun kemudian muncul penyesalan oleh sebagian kalangan atas terbunuhnya kedua cucu kesayangan Nabi Saw. Tersebut dengan menyebut kelompoknya sebagai Tawwabun, atau kelompok orang-orang yang bertaubat atas kesalahan pembunuhan keluarga Ali ibn Abi Thalib tersebut, kekuasaan muawiyah berjalan terus.

Persoalan utama yang muncul dalam ilam adalah persoalan politik. Ketika  Nabi berada di madinah kedudukan beliau bukan hanya sebagai  pemimpin agama, tetapi juga sebagai kepala pemerintahan. Ini adalah sejarah islam yang telah terjadi di masa lalu. Sistem pemerintahan yang dibentuk oleh Nabi inilah berhasil mengharmoniskan masyarakat madinah yang plural. Sehingga dikenal orang yang hidup pada zaman itu, sebagai masyarakat madani. Dan setelah wafatnya Nabi. Pemerintah dipegang oleh para khulafaurasyidin secara bergantian hingga inilah yang menyebabkan munculnya aliran politik. Lebih lanjut akan dibahas dalam buku ini.
Semoga buku ini dapat menjadi salah satu dari banyaknya buku yang mengkaji tentang Pemikiran Pendidikan Islam, sumber informasi dan pendalaman kembali keilmuan kita sebagai seorang ilmuan yang tidak pernah bosan, yang tidak pernah lelah, yang selalu memompa semangatnya dan motivasinya untuk mencintai ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju hakikat kebenaran.



No comments:

Post a Comment