Ketua Penyunting :
Dr. Sumarto,
S.Sos.I, M.Pd.I
ISBN : 978-602-61400-8-1
Anggota Penyunting :
Novia Andriani
Arum Kristiawati
Desain Sampul :
Yohana Wulandari
Lay Out :
Retno Rahayu
Dicky Hidayatullah
Kerja Sama dengan UIN Sulthan Thaha Saifuddin JambiSinopsis Buku :
Pemikiran Pendididkan Islam yang bercorak dan
berwarna tidak terlepas dari banyaknya aliran pemikiran Islam, tertuma ketika
Rasulullah SAW wafat diteruskan dengan periode Khulafurrasyidin serta semaikin
bergejolak ketika memasuki periode Dinasti Umayyah. Harun Nasution berpendapat
bahwa sepeninggal Nabi Saw, perkara yang pertama kali diperselisihkan adalah
bukan terkait dengan akidah melainkan masalah politik, yakni tentang siapa yang
layak meneruskan kepemimpinan umat. Bahkan dalam beberapa sumber disebutkan
bahwa masalah transisi politik kepemimpinan pasca wafatnya Nabi saw. tersebut
berlangsung pada saat keluarga Nabi saw., masih disibukkan dengan pemakaman
jenazah Rasulullah Saw, atau sekurang-kurangnya keluarga beliau masih dalam
keadaan berkabung. Dengan demikian masalah politik adalah persoalan yang sensitif.
Setelah tampuk kepemimpinan umat dipegang
secara berturut-turut oleh Abu Bakar ash-Shidiq, Umar ibn al-Khattab, Usman ibn
Affan, dan Ali ibn Abi Thalib dimana keempatnya kemudian dikenal dengan sebutan
khulafa’ al-Rasyidin (para khalifah yang lurus), sebagian pendapat memasukkan
nama Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dalam deretan nama khulafa’ al-Rasyidin
karena beliau sempat memimpin sebentar sebelum kekuasaan dipimpin oleh Dinasti
Umayyah. Pada tiap peralihan kekhalifahan tersebut sebenarnya tidak sepi dari
gejolak politik, dan yang cukup intens adalah transisi kekhalifahan dari Usman
ibn Affan kepada Ali ibn Abi Thalib karena terbunuhnya Usman ibn Affan dan
munculnya tuduhan terhadap Ali ibn Abi Thalib sebagai pihak yang ikut
bertanggung jawab atas kematianya. Ditengah memanasnya suhu politik dan
kekacauan tersebut, muncul pula aliran marjiah yaitu politik dan sepenuhnya
“berharap (rajaa)” atau “mengembalikan (raja’a)” segala urusan
kepada Allah Swt. Diantara tokoh Murji’ah adalah Abdullah ibn Abbas.
Akibatnya, gejolak politik pun memanas hingga
timbul perang Shiffin perang yang tak ubahnya sebagai perang saudara antar
kelompok Ali ibn Abi Thalib yang dikenal dengan Syi’atu ‘Aliyin
(kelompok Ali) atau disingkat dengan sebutan Syi’ah, dengan kelompok pendukung
Muawiyah yang berpretensi menuntut diadilinya tragedi pembunuhan Usman ibn
Affan. Ditengah pergumulan dimedan perang yang sebenarnya telah menelan banyak
korban tersebut maka dilakukan trik politik dengan dilnisiasi oleh kelompok
pendukung Muawiyah yang dipimpin oleh Amr ibn Ash untuk mengakhiri perang
dengan kembali pada kitabullah atau melalui jalan tahkim (arbitrase). Ternyata,
walaupun perang berhenti, namun belakangan menimbulkan perpecahan di tubuh
kelompok Ali ibn Abi Thalib. Sempalan pendukung Ali ibn Abi Thalib ini
selanjutnya keluar dan memisahkan diri dari Syi’ah dan membentuk kelompok
sendiri yang dikenal dengan khawarij (kelompok yang keluar atau memisahkan
diri).
Khawarij memiliki agenda yang tergolong berani karena membuat kesimpulan
bahwa biang keladi dari semua kekacauan politik tersebut adalah ketiga kelompok
yang berseteru yakni Muawiyah, Ali ibn Abi Thalib dan Amr ibn Ash dan oleh
karenanya khawarij beranggapan bahwa ketiga pihak itulah yang paling bertanggung
jawab. Agenda tersebut diwujudkan dengan upaya pembunuhan ketiganya, namun yang
terlaksana sebagai korban adalah Ali ibn Abi Thalib.
Dengan terbunuhnya Ali ibn Abi Thalib dan
kepemimpinan politik dibawah kepemimpinan Dinasti Muawiyah, bukan berarti
konflik berakhir, sebaliknya ternyata berkelanjutan dengan dikejar-kejarnya
keluarga dan keturunan Ali ibn Abi Thalib. Hasan dan Husein yang merupakan cucu
kesayangan Nabi Saw., keduanya berakhir dengan kematian mengenaskan. Hasan yang
sempat memegang kendali sebentar dalam kepemimpinan sepeninggal ayahnya Ali ibn
Abi Thalib ternyata terbunuh oleh racun melalui istrinya. Sedang Husein
berakhir dengan pemenggalan kepalanya di Karbala, dimana makam jenazahnya
sekarang berada di mesir disebuah masjid yang berdekatan dengan universitas
Al-Azhar, Kairo. Walaupun kemudian muncul penyesalan oleh sebagian kalangan
atas terbunuhnya kedua cucu kesayangan Nabi Saw. Tersebut dengan menyebut
kelompoknya sebagai Tawwabun, atau kelompok orang-orang yang bertaubat atas kesalahan
pembunuhan keluarga Ali ibn Abi Thalib tersebut, kekuasaan muawiyah berjalan
terus.
Persoalan utama yang muncul dalam ilam
adalah persoalan politik. Ketika Nabi
berada di madinah kedudukan beliau bukan hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai kepala
pemerintahan. Ini adalah sejarah islam yang telah terjadi di masa lalu. Sistem
pemerintahan yang dibentuk oleh Nabi inilah berhasil mengharmoniskan masyarakat
madinah yang plural. Sehingga dikenal orang yang hidup pada zaman itu, sebagai
masyarakat madani. Dan setelah wafatnya Nabi. Pemerintah dipegang oleh para
khulafaurasyidin secara bergantian hingga inilah yang menyebabkan munculnya
aliran politik. Lebih lanjut akan dibahas dalam buku ini.
Semoga
buku ini dapat menjadi salah satu dari banyaknya buku yang mengkaji tentang
Pemikiran Pendidikan Islam, sumber informasi dan pendalaman kembali keilmuan
kita sebagai seorang ilmuan yang tidak pernah bosan, yang tidak pernah lelah,
yang selalu memompa semangatnya dan motivasinya untuk mencintai ilmu pengetahuan
sebagai jalan menuju hakikat kebenaran.

No comments:
Post a Comment