Ketua Penyunting :
Dr. Sumarto,
S.Sos.I, M.Pd.I
ISBN
: 978-602-61400-3-6
Anggota Penyunting :
Susi Erawati
Joni Rabuan
Ulul Azmi
Desain Sampul :
Mujiburrahman
Sinopsis Buku :
Kajian psikologi sudah ada sejak zaman
dahulu seperti yang dicontohkan masyarakat Yunani. Sejak
zaman Yunani kuno jiwa manusia telah menjadi topic pembahasan para filosof.
Namun psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri baru dimulai pada tahun 1879
ketika Wilhelm Wundt (1832- 1920) mendirikan labolatorium psikologi pertama di
kota Leipzing, Jerman.
Sebelum
tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para ahli filsafat dan para ahli ilmu
Phisiologi, sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu
tersebut. Para ahli ilmu filsafat kuno seperti Plato, aristoteles dan Socrates
telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala-gejalanya. Filsafat sebagai
induk ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mencari hakikat sesuatu dengan
menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus menerus sehingga mencapai
pengertian yang hakiki tentang sesuatu. Pada waktu itu belum ada pembuktian
yang empiris dan psikologi masih merupakan bagian dari filsafat dalam arti
murni.
Pada
abad pertengahan, psikologi masih merupakan bagian dari filsafat sehingga
objeknya tetap hakikat jiwa dan metodenya masih menggunakan argumentasi logika.
Tokoh- tokohnya antara lain : Rene Descartes (1596- 1650) yang terkenal dengan
teori tentang kesadaran, Gottfried Wilhelm Leibniz (1646- 1716) yang mengutarakan
teori kesejahteraan psikophisik, John Locke (1623- 1704) dengan teori tabula
rasa mengemukakan bahwa jika anak yang baru lahir masih bersih seperti papan
lilin atau kertas putih yang belum ditulisi. Pada masa sebelumnya juga jiwa
dibahas oleh para ulama islam seperti Imam Al-Gazali.
Disamping
para ahli filsafat yang menggunakan logika, para ahli ilmu faal juga mulai
menyelidiki gejala kejiwaan melalui eksperimen- eksperimen. Walaupun mereka
menggunakan metode ilmiah, namun yang mereka selidiki terutama tentang
urat syaraf penginderaan (sensoris), syaraf motoris (penggerak), pusat sensoris
dan motorik di otak, serta hukum-hukum yang mengatur bekerjanya syaraf- syaraf
tersebut. Diantara para tokohnya adalah : C. Bell (1774-1842), F. Magendie
(1758- 1855), J.P Muller (1801-1858), P. Broca (1824-1880), dan I.P. Pavlov
(1849- 1936).
Masa
sesudah psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri merupakan masa dimana
gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri dengan metode ilmiah terlepas dari
filsafat dan ilmu faal. Gejala kejiwaan dipelajari dengan lebih sistematis dan
objektif. Selain metode eksperimen digunakan pula metode intropeksi oleh W.
Wundt. Gelar kesarjanaan W. Wundt adalah bidang kedokteran dan hukum. Ia
dikenal sosiaolog dan filosof, dan orang pertama yang mengaku bahwa dirinya adalah
sebagai psikolog dan di anggap sebagai bapak psikologi. Maka sejak itu
psikologi berkembang sanga pesat dan bertambahnya sarjana psikologi, penyususn
teori-teori psikologi dan keragaman pemikiran- pemikiran baru dan psikologi pun
mula bercabang ke dalam beerbagai aliran. Lebih lanjut akan dibahas dalam buku
ini dengan sumber data lapangan atau hasil mini riset.
Semoga buku ini dapat menjadi salah satu
dari banyaknya buku yang mengkaji tentang Psikologi, sumber informasi dan
pendalaman kembali keilmuan kita sebagai seorang ilmuan yang tidak pernah
bosan, yang tidak pernah lelah, yang selalu memompa semangatnya dan motivasinya
untuk mencintai ilmu pengetahuan dengan harapan dapat saling memahami dan
mengerti dengan segala gejala kejiwaan yang ada.

No comments:
Post a Comment